Assalamualaikum calon suamiku, hari ini kuputuskan untuk mulai menulis surat terbuka untukmu dengan tujuan mengarsipkan apapun yang memang ingin kusampaikan padamu. Bukan tidak mungkin aku akan lupa dimana tempat aku mengarsipkan ini bila kutulis dalam bentuk fisik sekarang juga, sedangkan aku belum tahu kapan Tuhan akan pertemukan kita. Maka dari itu sementara kutulis semuanya disini. Calon suamiku, tulisan ini bukanlah seperti skripsi yang memerlukan dan mewajibkan kata pengantar yang begitu resmi, maka aku akan segera memulainya tanpa aturan-aturan tertentu, dan tanpa sistematika penulisan yang perlu dipatuhi. Ini hanya akan mengalir, seperti obrolan-obrolan ringan di waktu senggang, atau candaan di tengah makan siang, atau kau bisa mengibaratkannya dengan apapun yang kau suka.

Calon suamiku, hari ini, ketika kutulis semua ini, aku begitu bertanya-tanya seperti apa kau ini? Apakah sama-sama humoris sepertiku? Atau aku yang akan menggoyahkan keseriusanmu dengan tawaku yang mudah meledak ini? Sayang, aku akan mengingatkanmu, kau tak perlu khawatir lagi apabila banmu bocor saat kita akan pergi kencan, tak perlu terlalu serius, kau tahu aku akan tetap bahagia apabila kita masih bisa berjalan bersama menuntun motor kesayanganmu atau untuk mencari bengkel.

Advertisement

Tak perlu terlalu serius saat antrean tempat kita berencana untuk makan makanan favorit kita sejak seminggu yang lalu ternyata begitu panjang, kita masih bisa menunggu dengan canda tawa atau datang lagi di lain hari. Kau tentu akan tahu kalau aku lebih menghargai waktu kita bersama dengan tidak meributkan hal-hal yang tak perlu dibesar-besarkan.

Tak perlu khawatir kalau kau sedang sibuk dan tak sempat bertukar kabar, aku bukan satpam atau ketua RT yang menuntut wajib lapor maksimal 1×24 jam, tapi aku akan merasa begitu tenang kalau kau menyempatkan 1 menitmu untuk memberi kabar bahwa kau baik-baik saja. Tak perlu terlalu khawatir kalau sesekali kau ingin main game semalaman atau melakukan hobi-hobimumu yg lain, kau tahu aku akan marah bila kau justru membatasi diri, membatasi kawan-kawan, keluarga, dan lingkunganmu hanya karena ingin berduaan denganku.

Tak perlu terlalu khawatir, aku paham kalau pembagian waktu berkualitas begitu diperlukan setiap manusia. Tak perlu terlalu khawatir kalau sesekali kau datang terlambat saat kencan karena ketiduran atau hal lain yang memang tak disengaja, kau tahu aku hanya akan marah apabila kau datang dengan seabrek alasan yang tak jujur. Namun kau perlu khawatir pada komitmen dirimu sendiri terhadap waktu bila hal itu terjadi berulang kali. Begitu pula dengan hal-hal lainnya, khawatirlah pada komitmen pada dirimu sendiri terlebih dahulu.

Advertisement

Sayang, seiring waktu kau berjalan bersamaku, kau akan tahu bahwa aku adalah orang yang begitu mudah untuk bahagia, juga begitu mudah untuk memaafkan. Besar harapku kau adalah orang yang ketika berubah, akan berupaya ke arah yang lebih baik terus dan terus, sehingga kau akan menjadi orang yang paling paham dalam menghadapi dan menjaga orang sepertiku. Besar harapku kau bisa selangkah lebih maju dari mereka yang pernah berjalan denganku di masa lalu. Besar harapku kau tak berkata “kamu terlalu baik untukku”. Ketahuilah, persoalan mudah bahagia dan pemaaf adalah soal pilihan.

Sayang, begitu banyak hal yang telah kulewati semasa hidup. Kalau kau pikir drama-drama berlebihan yang mungkin sesekali kau saksikan di televisi itu begitu sulit dipercaya ada sebagai nyata, maka ketahuilah, segala sesuatu yang diibaratkan ‘sudah jatuh tertimpa tangga’ kemudian tertimpa lagi dengan yang lainnya hingga begitu sulit untuk bangkit lagi sesungguhnya banyak terjadi dalam kehidupan nyata. Mereka, orang-orang di masa lalu itu, seringkali buatku merasa jauh dengan hal-hal baik yang akan terjadi di hidupku hari ini, esok dan masa depan. Pernah ku merasa kepercayaanku akan prasangka baik runtuh begitu saja. Tapi kemudian aku memilih untuk terus menguatkan diri dan tak lagi meremehkan diriku sendiri dengan meyakini bahwa pasti akan ada waktu dimana kau datang dalam waktu, tempat, situasi, dan kondisi yang tepat.

Sayang, rasa sakit yang pernah kurasakan sebelumnya mungkin akan melebur saat kau, orang yang kupinta dalam setiap doa, akhirnya didekatkan. Ketahuilah, aku tak akan kemudian mengharapkan segala sesuatunya berjalan begitu sempurna seperti sebuah dongeng, karena aku tahu kenyataan akan selalu seimbang. Aku tak bisa berjanji untuk menjadi istri yang solehah, ibu yang baik bagi anak-anak kita apabila Tuhan mempercayakan kita keturunan, selalu ada untukmu di setiap waktu, selalu buatmu bahagia, tak akan buatmu marah, atau janji-janji duniawi lainnya. Tapi kau akan tahu, aku begitu ingin. Aku begitu ingin menjadi istri solehah, begitu ingin menjadi ibu yang baik, begitu ingin selalu ada untukmu, begitu ingin untuk selalu membahagiakanmu, begitu ingin untuk tidak membuatmu marah atau kecewa, begitu ingin menuntaskan apa-apa yang seharusnya kutuntaskan disini.

Sayang, aku ingin mencintai, menyayangi, menjaga, mengasihimu semampuku. Aku ingin melakukan itu semua seperti aku memperlakukan hal-hal itu pada diriku sendiri. Dengan begitu aku akan merawat segala inginku padamu dengan lebih baik dan terkendali.

Dan apabila kau telah sampai membaca ini dalam bentuk fisik, dengan tulisan tanganku sendiri, maka kupastikan kau sudah kuberitahu apa saja yang telah kulewati, bagaimana aku menjalani hidup hingga hari ini, dan kau telah bisa untuk tidak mencintai aku dengan apa adanya.

Sayang, aku di masa lalu bukanlah wanita yang sempurna, begitu banyak kesalahan dan kekhilafan yang telah aku lakukan, dan lagi, kupastikan kau sudah tahu itu apabila kau sampai membaca ini. Terimakasih untuk mencintaiku dengan tekad membimbingku menjadi wanita yang akan terus berupaya menjadi lebih baik lagi. Terimakasih untuk menegurku dengan halus ketika aku melakukan sesuatu yang tak baik pada diriku sendiri, apalagi pada orang lain.

Terimakasih untuk segala diskusi yang memberikan ruang bagiku untuk mengutarakan pendapat mengenai pilihanku. Terimakasih untuk telah berupaya saling menghormati dan menghargai karena kita perlu saling menyadari bahwa menyatukan dua kepala memang begitu sulit. Terimakasih untuk telah menjadi dirimu sendiri dan mengijinkanku untuk jadi diriku sendiri. Terimakasih untuk kebebasan yang membuatku sadar akan tanggungjawab dan komitmen apa dan bagaimana yang harus kupegang. Terimakasih untuk membiarkan diriku dan dirimu saling berjalan bersama dalam kesadaran pribadi yang begitu besar. Terimakasih-terimakasih lainnya tak akan ada habisnya bila kutulis semua. Pada intinya, terimakasih untuk tidak mencintai aku apa adanya.

Dengan penuh cinta,

aku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya