Bandung, 9 Agustus 2018

Teruntuk seseorang yang menjadi obsesiku selama seminggu ini,

Advertisement

Halo, kamu. Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja dan bahagia di dalam hidupmu. Aku di sini juga sehat-sehat saja dan sedang disibukkan dengan magang yang sebentar lagi akan berakhir.

Tahukah kamu? Seminggu yang lalu aku sangat bahagia dan sangat excited. Kenapa? Karena akhirnya aku akan memiliki kesempatan untuk mengakhiri kesendirianku yang sudah berlangsung selama 21 tahun lamanya. Tepat seminggu yang lalu, ibuku memberikan berita baik itu—bahwa ia bertemu dengan teman kantornya, yang tak lain adalah ibumu. Ibumu menawarkan pada ibuku untuk saling memperkenalkan kita berdua ke satu sama lain. Ibuku pun menyetujuinya dan berjanji untuk memberikan nomor telepon dan juga satu buah fotoku kepada ibumu, yang pada akhirnya akan ditunjukkan kepadamu.

Saat itu, aku merasa sangat senang, tetapi aku juga takut. Aku takut aku akan kembali mengalami penolakan, aku takut aku bukanlah figur seorang pendamping yang ada di imajinasimu, aku takut bahwa aku tidak cukup pantas untukmu. Selain itu, aku takut bahwa jika pada akhirnya kamu menerimaku apa adanya dan kita ingin serius ke satu sama lain, aku terpaksa meninggalkanmu untuk meraih cita-citaku. Cita-citaku yang telah terlebih dahulu terjadi jauh sebelum kamu terjadi di hidupku.

Advertisement

Ya, aku memang egois. Aku tidak mau kehilangan salah satu dari hal-hal yang paling berharga di hidupku. Aku takut akan menyakitimu pada akhirnya. Dan ya… aku memang menceritakan kekhawatiranku pada ibuku. Sayangnya, bukannya mendukungku untuk mengejarmu, ia malah menyuruhku ‘memperbaiki’ diriku terlebih dahulu sebelum menemuimu karena aku… ya, aku kurang layak untukmu.

Pada dasarnya kurang layak untuk siapapun di dunia ini. Aku sakit, sangat sakit mendengar itu. Seakan harapanku akan dirimu yang sudah sempat tergambar di imajinasiku yang liar ini runtuh seketika. Aku bahkan berusaha, hingga saat ini, untuk melupakan semua angan-angan tentang dirimu. Bahkan, aku ingin berhenti berharap kepada siapapun dan melanjutkan kesendirian ini sampai akhir hayatku.

Namun, sialnya, masih ada sefraksi kecil dari hatiku yang bodoh ini yang masih berharap, masih mengharapkan sosok yang kurindukan itu datang ke dalam kehidupanku. Aku pun perlahan-lahan bangkit dan memungut semua serpihan diriku yang kecewa itu dan maju ke depan. Aku mulai mengganti pola hidupku secara progresif untuk menjadi lebih baik lagi. Entah apa yang menjadi kekuatan pendorong bagiku untuk berbuat demikian. Mungkin, itu gambaran dirimu yang masih terpatri di dalam sefraksi kecil hatiku yang bodoh itu. Mungkin bukan hanya karena dirimu, tetapi lebih kepada harapan bahwa aku bias tidak sendirian lagi di hidup ini. Jadi ya… aku masih berharap kelak kita akan dapat bertemu.

Jujur, aku penasaran. Penasaran bagaimana dirimu sebenarnya. Aku punya perasaan bahwa kamu adalah orang yang menyenangkan dan menyukai petualangan, seperti diriku. Aku ingin sekali mengenalmu. Mungkin aku memang sudah mengenalmu sejak 6 tahun yang lalu sebagai kakak kelasku, yang ternyata juga satu ekskul denganku (kalau aku tidak mengundurkan diri).

Aku hanya tahu namamu, kelasmu, dan yang mana dirimu. Aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi; kamu orang yang seperti apa, seperti apa cita-citamu, apa olahraga kesukaanmu, apa makanan kesukaanmu, kota-kota favoritmu. Dan aku harap kamu juga demikian; ingin mengenal diriku yang sebenarnya. Aku skeptis jika kamu menyadari eksistensiku. Mungkin kamu mengenal aku sebagai siswi antisosial, arogan, membosankan, dan aneh semasa sekolah dahulu. Tapi aku ingin tunjukkan kepadamu bahwa itu bukan diriku yang sebenarnya. Itu hanyalah caraku untuk membentengi agar tidak sembarang orang masuk ke dalam hidupku karena aku mudah lelah dengan semua kefanaan dan kemunafikan manusia.

Akhir kata, masih ada harapanku untuk dapat bertemu dan mengenalmu secara pribadi kelak. Aku harap ibuku akan berubah pikiran, atau setidaknya ibumu mengambil inisiatif untuk mengingatkan ibuku akan rencana awal mereka. Aku akan mencoba untuk terus ‘memperbaiki’ diriku agar menjadi layak dan sepadan untukmu.

Sampai jumpa sebulan, setahun, sepuluh tahun, atau bertahun-tahun lagi, obsesiku. Jika aku memang untukmu, biarlah Tuhan saja yang mempertemukan kita di suatu dimensi ruang dan waktu tertentu. Apabila bukan, biarlah Tuhan yang akan memberimu pendamping yang akan membuatmu bahagia sepanjang sisa hidupmu. Kiranya Tuhan akan memberikanku anugerah yang sama, setidaknya kekuatan untuk dapat sendiri lagi selama puluhan tahun ke depan. Sekian suratku untukmu, yang mungkin tak tersampaikan secara fisik padamu. Berbahagialah selalu. Tuhan memberkati

Salam sayang,

Diriku.

NB: Walaupun ulang tahunmu 3 hari lagi, aku ingin mengucapkannya sekarang. Selamat ulang tahun. Semoga kamu bahagia, sehat selalu, panjang umur, dan berhasil di dalam apapun yang kamu kerjakan. Tuhan memberkati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya