Dear Teruntukmu Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan,

Hai, apa kabar? Bagaimana rasanya menjadi pengantin baru? Semoga indah dan bahagia. Aku di sini sudah baik-baik saja, perihal rasaku untukmu yang dulu tumbuh subur, kini sudah kupangkas habis dari akar hingga ke tunasnya. Tanpa bekas sedikit pun. Aku telah melewati masa-masa suram itu, masa di mana hatiku mati rasa seperti kehilangan selera untuk jatuh cinta lagi.

Advertisement

Maaf perihal pesan terakhirmu yang tak ku balas lagi. Saat itu aku hanya sedang menenangkan hatiku dan pikiran berkecamuk tentangmu. Berulang kali kutanyakan kejelasan tentang hubungan kita, hingga akhirnya kata-kata menyakitkan itu kudengar sendiri dari mulutmu. Kau bilang, "Maaf, akan lebih baik kita menjadi teman saja, tidak ada kecocokan di antara kita, kita sama-sama anak sulung tak bisa bersatu dengan sifat keras kepala masing-masing." Sepele! sangat tak masuk akal apa yang menjadi alasanmu untuk mengakhiri hubungan ini.

Jika memang kau tak cinta, kenapa kau tanamkan bibit rasa di hatiku, setelah ia tumbuh subur dan bersemi di hatiku, kau hancurkan begitu saja. Sadarkah kau apa yang telah kau katakan kepadaku kemarin? Sebuah tawaran hidup bersama denganmu. Apakah itu hanya sebuah lelucon? Rasaku untukmu tulus walau tak berbalas tapi ini balasanmu untukku. Ah, tak apa mungkin ini sudah garis dari semesta. Hanya saja aku harus membiasakan diri dari sekarang, membiasakan tak mendengar dering teleponmu lagi, notif pesan manis darimu, lagu-lagu romantis yang kau senandungkan untukku, canda tawa ketika membuat lelucon bersama.

Semua itu, iya benar semua itu yang harus kutanggalkan dari hidupku. Toh, percuma saja aku menangis untuk cintamu yang semu dan palsu itu. Semuanya tak mengembalikan keadaanku. Bodohnya aku pernah percaya untuk menitipkan hatiku padamu. Aku tertipu dari melodi berdarahmu itu. Memori-memori tentangmu wara-wiri melintasi isi kepalaku. Tapi, aku berusaha menikam dengan kejam memori-memori itu.

Advertisement

Andai saja waktu bisa kuputar kembali aku tak ingin mengenalmu sejauh ini, aku tak mau menjadi persinggahanmu di saat kau sepi saja. Satu hal yang ingin aku tanyakan padamu kala itu, Kapan dan Bagaimana kau mulai menemukan ia dambaan hatimu itu? Hingga kau putuskan untuk menikah dengannya.

Bukankah saat itu kau dekat denganku? Atau kedekatan kita hanyalah fatamorgana, tak terlihat. Oh, aku lupa kita memang fatamorgana, bahkan ilusi. Aku yang pecundang atau kau yang tak cukup berani mendekap erat jarak ini. Kau memang tak mau berjuang, kau menyerah sebelum berperang, bibirmu tak ada kepastian, bukan hanya aku yang tersakiti mungkin ada banyak hati lain yang telah menjadi korbanmu.

Selamat, untuk hidup barumu, jangan khawatirkan aku. Langitku tak lagi semendung dulu, semua baik-baik saja. Kuharap kau tak melukai ia yang telah menjadi pasanganmu. Cukup aku dan korban lainnya yang menjadi korban harapan palsumu. Teruntukmu yang kusebut cinta #BertepukSebelahTangan

Salam,

Masalalumu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya