Siapa bilang aku membencimu? Tidak. Tidak pernah sekalipun. Mungkin kau yang membenciku. Mungkin. Prediksi dan estimasiku bermain di atas tuts keyboard ini. Siapa yang tidak akan benci jika orang yang teramat disayanginya pergi dengan orang lain? Aku orangnya. Jahat? Mungkin iya di perspektifmu. Namun, aku tak pernah bermaksud merusak dongeng orang lain. Itu haram bagiku.

Tulisan ini sekali pun tidak bermaksud untuk membersihkan namaku, aku tak tahu di ukuran mana namaku sekarang. Ya, sebab aku tak memoles apapun. Aku terlalu lugu untuk memoles atribut yang melekat dalam diriku, bahkan aku tidak peduli. Aku cuma ingin berbuat baik kepada yang lain dan masuk ke dalam lingkunganku apa adanya. Bagaimana caranya mereka menerimaku tanpa embel-embel buatan yang melekat dalam hidupku?

Advertisement

Saat ini dapat dikatakan cukup. Aku punya keluarga yang paling mengerti, orang-orang yang menerimaku secara baik, dan seseorang yang selalu mendukungku di saat termudah dan tersulit. Benar, seseorang di masa lalumu yang teramat kau cintai kala itu. Aku tahu persis. Setiap cerita kalian selalu  dituturkannya kepadaku. 

Aku cuma ingin kau tahu, jika pandanganmu negatif ke arahku, ya itu urusanmu. Namun, aku bukanlah orang baru yang berusaha merebutnya darimu. Kau sudah tahu kan, bahwa aku muncul lebih dulu? Dan kala itu aku tidak naif dengan menolak orang yang mencintaiku (yang juga sudah kucintai teramat lama). Ya, meski di saat yang sama, kau sedang menangis tersedu di saat bahagiaku.

Dan saat ini, entah sudah sembuhkah luka di hatimu, entah perasaan apa ini yang muncul. Bolehkah aku berteman denganmu? Untuk sekadar menyapa dan membangun relasi baru. Atau salahkah perasaan itu? Yang malah akan menimbulkan kebencian di hatimu kepadaku dan membuka luka lamamu?

Advertisement

Aku kerap mengusik perasaanku sendiri karena memang sulit bagiku untuk berdamai dengan masa lalu. Termasuk dengan ceritanya tentangmu. Kadang aku yang sengaja mencari tahu ada apakalian berdua di masa lalu. Padahal aku paham betul, perasaan itu hanya akan menyakitiku sendiri. Ya, buat apa aku harus mengobrak-abrik masa lalu yang malah membuatku semakin cemburu?

Aku paham keadaan sudah berubah sekarang. Dia yang telah kunantikan sejak lama ternyata menaruh harapan yang sama padaku. Rasanya bahagia dan bersyukur, tak biasanya perasaanku bersambut dengan orang yang benar-benar kucintai, dan ternyata dia lebih dulu menyimpan perasaannya.

Kadang, aku masih membuatnya sedih dan terluka dengan sikapku yang sulit dia tebak. Kadang aku berpikir jika aku tak pantas untuknya. Namun nyatanya diriku takkan sanggup melihatnya bersama yang lain. Kini misiku adalah membuatnya nyaman, bahagia, dan bersyukur bersamaku.

Apa kabar kau sekarang? Apakah harimu baik-baik saja? Apakah luka-lukamu sudah reda? Jika  ada hal yang tidak berkenan di antara kita, sudikah kau memaafkan aku? Sungguh tak ada niat untuk menjadi duri dalam hidupmu, aku cuma tak ingin ada kesalahpahaman yang berujung dendam.

Ibuku selalu mengajarkanku untuk berbuat baik pada orang, mendoakan yang baik adalah salah satunya. Dan kau, semoga di mana pun kau berdiri, kebahagiaan meliputimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya