Hey kamu, mengapa aku sebut laki-laki sekelas langit? Karena aku tau tidak ada kemungkinan untuk aku menggapaimu. Perkenalan diawal lalu itu tidak ada yang berkesan untukku, sampai lambat laun waktu pun berjalan. Aku menemukan sesuatu yang menurutku diluar biasa dari perbincangan kita berdua.

Aku melihat mu lebih dekat dan menarik untuk aku hadapi. Seperti hujan, yang pada saat awalnya aku merasa biasa saja, namun ada akhirnya aku merasa sejuk dengan suasananya. Alunan melodi, bait kata-kata, dan riang tawa yang kudengar semua menuju ke arah Jatuh. Ya, jatuh…, jatuh Cinta.

Advertisement

Aku mulai nyaman dengan sikap manismu, aku mulai terbiasa dengan suara riangmu, bahkan aku sudah mulai masuk masa candu kabarmu. Gelisah dan bingung jika tidak ada sapaan darimu disetiap harinya. Kamu membuatku Jatuh Cinta dan membuatku ingin memiliki, khayalan ku selalu mengarah kepadamu dan tentangmu.

Aku jatuh cinta. Y, aku jatuh cinta kepada kamu sang laki-laki sekelas langit. Perasaan yang ku pendam sepertinya selalu memupuk tinggi setiap harinya, sampai pada akhirnya aku merasa ini terlalu besar dan harus kuungkapkan.

Lalu … Entah aku bermimpi apa malam sebelumnya, kamu mengucapkan hal yang sangat membuat telinga ku seakan dibisiki kata-kata perih hingga ke jantung. Belum sempat aku menyatakan apa yang aku rasakan, tetapi kamu mengatakan bahwa kita ini tak mungkin lebih dari sekedar candaan dan teman.

Advertisement

Kamu mengucapkan dengan secara ringan, seakan tidak ada hal yang menjadi tanggunggan. Namun aku? Bagaimana aku? Bagaimana perasaanku? Bagaimana kisah lalu kita itu?

Aku menganggap semua adalah khayalan yang menjadi nyata. Namun kamu mengambil keputusan yang sangat amat tak ingin aku dengar. Aku tidak bisa apa-apa, tidak bisa menjawab juga atas penyataanmu itu,.Aku diam dan senyum ! Aku bodoh jika aku tidak marah denganmu? Ya aku pilih menjadi bodoh daripada harus menyakiti hatimu.

Kamu tidak tau, bahwa senyum ku di hari itu yang mengiyakan semua pernyataanmu sampai saat ini masih membekas sakit. Aku mengharapkan apa yang sebenernya tak pernah bisa aku miliki, bahkan aku peluk sekali saja dalam hidup.

Tapi… aku menarik nafas panjang dan tersadar untuk tahu diri! Aku ini apa ?
Aku ini siapa? Mungkin aku menggapaimu laki-laki sekelas langit? Tidak!
Perlahan aku bergerak mundur, menjauh dari mu, pergi dari hari -hari mu dan mencoba menutup luka ku sendiri.

Aku menitipkan salamku kepada angin malam kepada embun pagi dan disampaikan oleh hangatnya siang secara berulang setiap harinya. Sampai akhirnya kamu tersadar bahwa aku sudah pergi dan kamu kehilangan satu penggemar sikap, sifat, pekerjaan, dan hatimu.

Dengar salamku pada alam. Salam yang mungkin akan kamu sadari nanti, salamku. Hey kamu, aku sadar akhirnya aku tidak bisa menggapai mu. Tapi kamu tahu, aku ini Jatuh Cinta kepadamu. Aku sudah memupuk dari awal untuk bisa menerima apapun kondisi kamu, sudah memahami sikapmu, sudah mengerti kondisimu, tapi dirasa percuma karena aku tidak bisa memiliki.

Semoga kelak kamu menemukan perempuan yang kamu inginkan, dan memiliki perasaan yang sama denganku. Terima kasih sudah membiarkanku menikmati hari bersamamu. Terima kasih untuk memberbolehkan aku tau hari-hari mu dan
terima pula sudah membuatku jatuh cinta.

Aku pergi. Bukan aku benci, namun aku hanya tidak ingin teluka yang bekerpanjangan. Sampai jumpa lagi kamu laki-laki sekelas langit. Semoga kita berjumpa di takdir yang lebih baik.

Salam dariku, perempuan yang jatuh cinta padamu namun tak diperbolehkan memelukmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya