Teh adalah salah satu jenis minuman yang sudah akrab di kalangan masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Meskipun ada banyak cara untuk menikmati dan menyajikan teh di berbagai negara, namun di sini aku tidak ingin banyak berkomentar tentang itu semua. Kali ini, kita akan melihat teh dari dua jenis penyajian yang sudah akrab di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu teh manis dan teh tawar.

Setiap orang mempunyai selera sendiri-sendiri, terutama dalam hal menikmati rasa. Teh pun juga sama. Ada banyak orang yang lebih suka menikmati teh dengan ditambah gula, namun ada juga yang lebih menyukai teh tanpa gula, alias tawar. Dalam hal ini, yang membedakan kedua teh tersebut, pastinya, adalah rasanya. Teh manis, seperti namanya, mempunyai rasa yang manis, sehingga terasa nikmat jika diseduh kala pagi atau pun sore hari dengan air hangat maupun dengan ditambah es (catatan: bagi yang suka manis). Sedangkan teh tawar cenderung memiliki rasa yang pahit dan sepat, namun tetap nikmat jika diseduh saat pagi maupun sore dengan air hangat ataupun es (catatan: bagi yang suka teh tawar atau pun orang yang tidak suka manis maupun sedang diet gula). Nah, berdasarkan rasa teh tersebut, kita akan membawanya masuk ke dalam lingkaran kehidupan kita, manusia.

Dalam kehidupan, manusia cenderung menyukai segala hal yang membuat bahagia, suka cita. Di sini, kita akan mengumpamakannya sebagai teh manis. Sementara itu, banyak juga manusia yang cenderung menghindari kesedihan, kepahitan, kegalauan, dan segala sahabatnya karena takut, enggan, membuat stres, dan menjadikan hidup semakin berat untuk dijalani. Di sini, kita akan mengandaikannya sebagai teh tawar.

Seperti yang kita tahu, ada orang yang menyukai teh manis dan ada pula yang cenderung tidak suka teh tawar. Beberapa orang yang tidak menyukai teh tawar mencetuskan alasan yang di antaranya adalah karena rasanya yang pahit dan sepat, intinya nggak enak. See?

Berdasarkan hal tersebut, kita akan melihat kaitan antara teh manis, kebahagiaan, teh tawar, kesedihan, serta manusia dan kehidupan. Seperti yang dituliskan di atas bahwa seringkali manusia lebih menikmati saat-saat bahagia daripada saat sedih, apa pun alasannya. Entah karena dalam kebahagiaan itu penuh dengan rasa manis, sehingga hidup jadi lebih terasa nikmat untuk dijalani atau pun alasan yang lain. Sehingga terkadang, jika manusia di hadapkan pada kesedihan, mereka cenderung menolak, enggan untuk merasakan dan menikmati, karena sudah merasa takut dan tidak suka dengan rasa awalnya, pahit, sepat. Padahal, jika kita bisa melihat lebih dalam dan menikmati setiap teguk kesedihan (seperti setiap tegukan teh tawar), kita akan lebih terbiasa dengan rasa pahit yang ada, hingga, pada akhirnya, mampu menikmati setiap teguknya. Memang, kita tidak akan bisa langsung menyukainya, tetapi seperti halnya hidup, yang adalah sebuah tempat untuk belajar, maka proses untuk menikmati kesedihan, kepahitan, dan kesepatan hidup, adalah sebuah materi pelajaran yang baik untuk kita pelajari. Bukan berarti kita harus selalu menjadi manusia yang kuat dan tidak boleh merasa sedih, tapi, bukankah akan terasa lebih baik jika kita bisa menjalani setiap jengkal kehidupan kita tanpa harus selalu merasakan galau, mellow, dan sendu setiap waktu. Setidaknya, ketika kita bisa mengajak diri kita untuk belajar menikmati dan menyukai kepahitan dalam hidup, entah itu bentuk-bentuk kegagalan, putus cinta, kekesalan pada sahabat, maupun kekecewaan kita pada orang-orang, kondisi, atau pun hal-hal lain yang membuat kepala serasa mau pecah, hati terus menerus merasa gundah, mulut yang terus manyun, tanpa senyum, dan hidup yang hilang semangat serta gairah. Ya, paling tidak kita bisa mengurangi rasa-rasa kecewa, pahit, dan sepatnya hidup dengan cara lebih menikmatinya, bukan menghindari dan berusaha melupakannya.

Advertisement

Ada dua buah quote yang pernah saya baca di internet, yang pertama adalah,


Mereka yang melihat kebahagiaan dalam mentari, tidak pernah menikmati menari di kala hujan.


Sedangkan yang kedua,


The best way to escape from the past is not to avoid or forget it, but to accept and forgive it.


Dari kedua quote tersebut, kita akan mengaitkannya dengan perumpamaan tentang teh, yang sudah kita bahas di atas. Sama seperti hujan yang identik dengan kesedihan (sedangkan mentari melambangkan suka cita) dan masa lalu yang terkadang menyakitkan, seringkali kita juga menghindari pahit dan sepatnya kehidupan yang kita alami (seperti kita yang terkadang tidak suka dengan rasa teh tawar). Padahal, ketika kita mau mengajak diri kita menerima dan memberikan ruang bagi kepahitan, kesepatan, maupun kesedihan dalam hidup, untuk membantu kita mengolah diri menjadi lebih baik, niscaya, dalam segala hal, yang selalu kita tolak dan hindari karena rasanya yang membuat hidup menjadi tak bahagia, kita mampu memetik sesuatu yang berharga dan menikmati setiap proses yang ada.

Jadi, inti dari semuanya adalah, dalam hidup ini kita bukannya tidak boleh merasa sedih atau pun down sekali waktu. Namun, jika kita mau, marilah belajar untuk melihat indahnya kehidupan bukan hanya dari senyuman, kebahagiaan, manisnya setiap teguk air kehidupan yang kita minum setiap hari, namun juga dari setiap bulir air mata yang mengalir, kegagalan yang terkadang harus kita lewati, maupun pahit dan sepatnya air kehidupan yang suatu kali tersaji. Hal itu memang tidak mudah, tetapi apa gunanya kita hidup jika enggan untuk belajar dan berubah?


Tak seorang pun bisa kembali ke masa lalu dan memulai awal baru. Namun semua orang dapat memulai dari sekarang, dan membuat akhir yang sama sekali baru. (Carl Band)