Untuk temanku yang sedang dirundung resah. Aku sebut teman, karena diantara kita belum pernah ada kesepakatan sebagai ‘sahabat’ istilah bagi hubungan pertemanan yang lebih dalam dan akrab.

Engkau tak pernah mengeluhkan masalahmu, hanya selintas tersirat dari obrolan singkat kita di chat di media sosial itupun sangat terasa engkau menutup diri. Seringkali aku pancing-pancing agar engaku mau terbuka, hasilnya pengalihan pembicaraan, atau candaan lain yang membuatku terpaksa menyerah mengorek-ngorek isi hatimu. Entahlah aku sangat meghargai, mungkin prinsipmu tidak ingin berbagi kesedihan atau keluhan yang hanya akan melemahkan jiwa. Namun bagiku yang hanya bisa membaca barisan-barisan katamu, datarnya senyumanmu justru semakin menarik-narik aku untuk selalu tertuju padamu.

Advertisement

Teman, apapun masalahmu, keresahanmu, kesedihanmu sangat terlihat digurat senyummu, digestur tubuhmu. Tapi sungguh tidak bijak jika aku terlalu seronok mengadilimu dengan hujanan pertanyaan yang justru mendesakmu. Aku hanya bisa merangkai tulisan di bawah ini, yang semoga suatu saat engkau baca, dan bermanfaat bagi kamu. Aku akan menjagamu sebagaimana nasehat “Jagalah teman yang dihantarkan oleh kesulitan, dan tinggalkan teman yang dihantarkan oleh kesenangan”. Pertemanan kita dipertemukan oleh keadaan sulit. Itulah yang menjadi tekadku untuk selalu disisimu. Segeralah berdamai dengan keresahanmu, agar kita dapat segera tertawa dan menghiasi hari dengan wangi senyuman kita.

Teman,,, seorang penyair mengatakan,

Aku berkata pada kalbuku saat didera rasa takut yang mengejutkan,

Advertisement

“bergembiralah, sebab kebanyakan hal yang kau takuti adalah dusta”

Artinya, manakala sebuah peristiwa terjadi pada diri Kamu, atau Kamu mendengar ramalan tentang suatu bencana, Kamu tak perlu cemas dan bersedih. Sebab, berita-berita dan kemungkinan-kemungkinan itu tidaklah benar. Jika ada yang mampu mengubah takdir, pastilah ia aka mencarinya. Namun jika tidak, maka tinggal bagaimana takdir itu harus kamu sikapi.

Dalam kitab Tauratpun disebutkan bahwa kebanyakan hal yang ditakuti tidak pernah terjadi. Ini berarti, kebanyakan kekhawatiran manusia itu tidak akan terjadi. Karena, dalam otak manusia itu memang lebih banyak khayalan daripada kabar kebenaran yang pasti terjadi.

Filosof Plato menyebutkan,

Kesulitan itu akan memperbaiki jiwa sebesar kehidupan yang dirusaknya. Sedangkan kesenangan akan merusak jiwa sebesar kehidupan yang diperbaikinya.

Kepahitan akan menjadi penyembuh, sedangkan bisa jadi gula yang manis dapat membuat sakit ragamu.

Kesenangan itu laksana malam, karena Kamu tidak pernah berfikir panjang tentang apa yang Kamu berikan atau apa yang Kamu dapatkan. Dan kesulitan itu laksana siang, karena Kamu melihat dengan jelas apa yang Kamu usahakan dan yang diusahakan oleh orang lain.

Setiap penderitaan begitu sangat terasa bahkan setiap detik tak luput terhitung dari ingatakn kita, lalu apakah kesenangan pun seperti itu? Kesenangan begitu cepet terjadi, bahkan kadang sulit untuk mencari-cari rasa ataupun kesan ketika kita mengalami kebahagiaan itu sendiri.

Jadi, tak usahlah terlalu meratapi setiap kesedihanmu, gantilah dengan tawa riang yang pernah kita serukan disana, ketika panas dan hujan tak lagi menjadi batas, ketika jauh tak menjadi alasan untuk saling bertemu.

Teman, sedikit yang pernah aku dengar, bahwa engkau risau dengan gunjingan yang ditujukan kepadamu dan orang-orang yang kamu sayangi,,

Begini teman, Sebuah syair berkata

Niscaya terhadap orang-orang mulia itu selalu ada yang mendengki.

Dan tak kan dijumpai orang-orang yang hina itu didengki.

Mengingatkan akan sebuah meme yang pernah aku baca yang bunyinya begini

Jika kamu diinjak-injak berati kamu ketinggian

Jika kamu diolok-olok berati kamu kecakepan..dst (baca sambil senyum-senyum boleh)

Memang kenyataannya orang akan lebih mudah membahas luka orang daripada membahas kejayaannya. Ya engga? hee

Puisi Ibn Mubarak.

Wahai orang yang mencela dan menghina orang lain,

Apakah kamu lepas dari ujian dan cobaan?

Atau kau punya janji kuat dari hari ke hari?

Engkau adalah orang bodoh yang tertipu.

Artinya, wahai orang yang selalu menghina dan melecehkan orang lain, apakah Kamu terikat janji untuk tidak terkena musibah seperti mereka? Ataukah hari-hari telah memberi jaminan untuk keselamatan Kamu dari berbagai bencana dan cobaan? Lalu mengapa Kamu selalu mencela?

Nah kutipan seperti ini seharusnya dibaca bagi orang yang suka menggunjing orang lain, jika memang belum kebaca semoga setidaknya pernah didengar yang bisa membuka nuraninya.

Kesimpulannya teman,,

Adanya jalan keluar setelah kesulitan. Itu merupakan suatu kepastian yang telah diterima secara umum, seperti malam pasti datang setelah senja usai.

Hal-hal yang tidak disukai justru akan banyak memberikan manfaat yang lebih bagus dan lebih baik terhadap manusia daripada hal-hal yang baik.

Yang memberikan manfaat dan menghindarkan seseorang dari bahaya sebenarnya adalah Allah. Ketahuilah bawa apa yang akan menimpa diri Kamu tidak akan menimpa orang lain, dan apa yang tidak akan menimpa diri Kamu bisa jadi akan menimpa diri orang lain.

Senyumlah sekarang, aku rindu senyumu yang hangat..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya