Untuk kamu, lelaki terbaik dan tersabar yang kumiliki (saat ini entah sampai kapan), betapa Tuhan sangat amat baik padaku, menghadirkan kamu pemilik hati dan perasaan yang tulusnya tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata, mungkin hanya bisa kuungkapkan dengan air mata, ya, air mata menggambarkan perasaan bersalahku.

Tapi, apa ini adil untuk kamu? Tuhan menghadirkanku di hidupmu, namun tidak dengan hatiku yang bisa setulus hatimu mencintaiku. Apa ini adil untuk kamu? Kamu yang selalu mencurahkan segala perasaan tulusmu untukku, tapi apa yang sudah kuberikan padamu? Aku masih saja terbayang oleh bayangan semu dia yang belum bisa kuhilangkan, belum bisa kulupakan sama sekali.

Advertisement

Terbayang dibenakku, bagaimana bisa aku menerimamu menjadi sosok yang menyayangi, sementara aku yang tidak merasakan debar apapun padamu. Rencana apa yang sedang Tuhan rancang untuk kamu dan aku, untuk kita? Kejahatan apa lagi yang akan kulakukan padamu? Setelah aku membohongimu, membohongi perasaanku, menyakitimu dengan diam-diam?

Semakin kamu menunjukan sikapmu yang amat manis dan penuh cinta padaku, semakin dalam pula perasaan bersalah itu aku rasakan. Sampai saat ini, aku masih belum habis pikir bagaimana dulu kita bisa memulai semuanya dari awal, sampai pada akhirnya kita bisa sejauh ini menjalin hubungan. Semakin lama cintamu semakin kuat kurasakan, begitu pula perasaan menyiksa yang menghantui.

Tentang dia yang masih bertahan di hatiku, biarkan ini menjadi urusanku sendiri. Bagaimanapun caranya akan kutempuh demi menjagamu, menjaga perasaanmu. Biarkan aku berusaha menyelesaikan masalah hatiku sendiri. Untuk menjadi seseorang yang kamu cintai dan bisa kamu banggakan nanti, bisa mendampingimu nanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya