Bu, aku terkadang takut dengan sikapku padamu. Tanpa aku sadari banyak hal yang mengiris batinmu. Maafkan aku. Bu, aku masih saja menyusahkanmu bahkan di usiaku yang sudah terbilang cukup untuk dipanggil sebagai seorang yang dewasa. Aku tidak bermaksud begitu. Bu, sampai detik ini aku masih saja menganggap diriku sebagai anak kecilmu, yang seringkali meminta ini dan itu tanpa memikirkan dirimu.

Aku selalu menyesali perbuatanku, tindakan yang semauku. Terlebih lagi saat aku tak mau mendengarkan nasihatmu. Bu, saat ini puteri kecilmu mulai beranjak dewasa. Bolehkah aku memilih apa yang aku inginkan? Aku paham betul jika semua arahanmu akan berguna untukku. Namun, aku juga tahu mana yang terbaik untukku dan membuatku nyaman atas alasan itu. Aku tidak bermaksud untuk memandang sebelah mata tentang setiap keputusanmu, namun aku tidak ingin ada keterpaksaan dalam hatiku. Tidak serta merta itu berarti aku menentangmu. Namun, aku ingin memilih apa yang aku suka sekali ini saja. Aku ingin sekali-kali menemukan kebebasanku. Tentang sekolahku, perihal masa depanku.

Advertisement

Aku tahu, terkadang aku memang keterlaluan. Mengenai sikapku yang terlihat acuh padamu. Maafkan aku yang nampak tidak peduli dan tak mau meringankan bebanmu di rumah hanya karena alasan “Bu, aku lelah.” Aku bahkan melupakan lelahmu yang jauh tak terukur dengan “lelahku”. Maafkan aku, Bu.

Bu, pahamilah jika aku mulai lelah. Rangkul aku ketika aku mulai goyah. Terkadang menyelesaikan studiku tak terlihat mudah. Ingin sekali rasanya aku menyerah. Namun di sela letih yang ada, aku masih mengingat tentangmu. Perihal banyak impian yang harus terealisasikan. Soal kehidupan kita yang harus lebih baik ke depannya.

Maafkan aku, atas perkataan kasarku yang sering membuatmu terluka. Emosiku terkadang tidak bisa ku jaga. Bu, andai engkau tahu bahwa apa yang sedang aku perjuangkan adalah apa-apa yang bisa membuatmu bahagia. Jadi, aku mohon untuk keringanan hatimu. Aku memahami tentang kita yang terkadang tidak sejalan. Mengenai pemikiran, mengenai efek jangka panjang yang akan menghadang. Tapi Bu, aku mohon restumu untuk mempermudah langkahku untuk sesegera mungkin membahagiakanmu.

Advertisement

Bu, jangan bersedih. Aku tidak ingin melihat kau dengan air mata itu. Kau tahu, Bu? Itu menyakitiku. Tangis diammu perlahan dalam membunuhku. Bu, aku sangat memahami kau begitu lelah. Lelah untuk selalu mengalah dengan egoku, dengan perasaanku. Bu, ajari aku untuk berhenti mengeluh. Pahamkan aku untuk menjadi seorang yang lebih dewasa. Benar kata mereka menjadi dewasa tak semenyenangkan yang aku kira. Bu, bantu aku dalam meningkatkan pemahamanku mengenai dewasa, menjadi sosok yang menghindarkanmu dari kata kecewa.

Bu, terima kasih untuk segala hal yang kau berikan. Untuk apa-apa yang tak bisa ku balaskan, untuk semua yang tak mungkin bisa tergantikan. Untuk waktumu, kasih sayangmu, perhatianmu, pengertianmu, dan segala hal baik yang akan ku berikan pada anakku di masa depan. Terima kasih untuk segala kata cinta darimu, meski kerap kali aku tak bisa membalas kata itu karena lidahku mendadak kelu. Bu, terima kasih untuk selalu menerima maafku, meski tanpa ku sadari aku melakukan hal yang sama setelahnya. Bu, terima kasih untuk selalu mendengarkanku, perihal banyak hal. Tentang hal remeh temeh hingga apa-apa yang serius untuk dibicarakan.

Bu, yang aku butuhkan adalah doa tulusmu. Meskipun tanpa aku memintanya, kau telah menyebut namaku terlebih dahulu. Aku pun menginginkan semangat darimu untuk hal-hal yang sedang ku perjuangkan saat ini dan nanti. Maafkan aku untuk segala hal yang menyakitkan, menyesakkan dada, dan menjadi alasan pemicu amarahmu. Bu, andai kau tahu, putri kecilmu ini selalu mencintaimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya