Delapan belas tahun sudah selepas perpisahan itu, keputusan kalian berdua yang meletakan aku sebagai korban keegoisan. Terdengar menyakitkan, meski aku sudah mengerti arti perceraian yang sebenarnya, masih saja ada yang mengganjal untuk sisa–sisa lara yang tidak tega untuk diceritakan dan memilih untuk disimpan.

Dengan penuh kasih, melalui tulisan ini, apa yang sudah kalian berikan adalah sebaik–baiknya kedewasaan yang kalian tanamakan pada jiwaku. Aku masih ingat, betapa masa kecil kala itu ku lalui sangat berbeda. Tidak seperti teman–temanku, yang setiap harinya merasakan kehangatan apa yang disebut keluarga. Sementara aku menganggap diriku tidak berharga.

Advertisement

Aku sedang tidak memaki Ayah dan Ibu. Aku hanya ingin kalian tahu. Tidak ada seorang anak korban perceraian yang akan menjalani hari–harinya dengan baik–baik saja. Tidak ada dari aku dan mereka yang senasib akan menganggap semuanya akan berlalu seiring berjalannya waktu.

Pernah aku berfikir, betapa kejam perceraian yang merenggut kebersamaan kita. Yang begitu pilunya mengukir duka, dan mencipta luka yang sempat menganga. Saat seharusnya aku dibesarkan dengan kucuran kasih sayang, tapi harus mendengki melihat mereka yang bahagia lengkap dengan Ayah Ibu yang tidak berpisah.

Saat terlontar pertanyaan, tentang status dalam keluarga. Bingung saja otak ini ingin memberitahu siapa pun, tentang aku, Ayah, dan Ibu yang tidak bersatu. Tidak, aku tidak ingin orang–orang itu iba padaku. Seorang anak tunggal dibesarkan dalam kenyataan yang menempa dirinya harus lebih kebal oleh ejekan.

Advertisement

Maaf untuk saat itu aku berontak setelah tahu sebab perpisahan Ayah dan Ibu, tapi jujur, aku mencoba mengikhlaskan, juga perlahan menerima kenyataan sebagai wujud balasan yang harus aku berikan untuk kebahagiaan kalian. Aku sadar, yang berjanji di hadapan Tuhan pun tidak ada jaminan akan terus bersama. Aku pun mengerti, jika kalian mengorbankan hidup kalian untuk tetap bertahan, yang ada semakin menyedihkan bagi satu sama lain.

Tidak ingin seperti Ayah dan Ibu yang pernah ku anggap sangat egois, aku lebih memilih berdamai dengan jiwaku kali ini. Aku tidak akan lagi mengutuk segala sesuatunya yang sudah terjadi. Aku tidak bisa memilih dengan orangtua siapa aku menjadi seorang anak, tapi menjadi manusia aku disodorkan berbagai pilihan yang alangkah baiknya tidak terus berkubang pada nelangsa yang tidak berkesudahan.

Aku bersyukur, Tuhan Maha Baik meletakanku pada takdir yang memacu ketegaranku. Meski dengan kebersamaan yang tidak utuh, aku beruntung Ayah dan Ibu tidak lupa mencurahkan semuanya dengan penuh tanggung jawab. Doa–doa tulus kalian berdualah yang menguatkan aku menghadapi apapun yang ada di depan mata. Meski tidak sama lagi, percayalah anak kalian bisa sekuat ini karna keputusan masa lalu kalian berdua juga.

Untuk menjadi orang tua yang selalu mendukung anaknya. Untuk menjadi orangtua yang harus memenuhi semua kebutuhan anaknya. Untuk menjadi orangtua yang bijaksana menasehati anaknya. Untuk menjadi orang tua yang tidak akan berhenti membersamai anaknya. Terima kasih ku ucapkan, meski setiap kerelaan kalian tidak akan bisa ku balas dengan apapun di dunia ini.

Ayah dan Ibu, meski kita bukan lagi keluarga yang utuh, aku bangga pada kalian untuk segala pengorbanan yang penuh. Aku bisa terus bertumbuh dan mengusahakan apa pun yang menjadi impian dan cita–citaku. Harapku tidak pernah pudar, inginku pun masih tetap sama. Pada doa–doa yang terlantun untuk kalian, di dunia tak apa kita tidak menyatu, semoga saja nanti di surgalah kita akan bersama sebagai keluarga yang penuh cinta dan bahagia.

Semoga kalian berdua selalu dalam lindungan-Nya dan senantiasa bersuka cita mengarungi kehidupan pada pilihan masing–masing tanpa pernah mengabaikanku.

Dari anak perempuan kesayangan Ayah dan Ibu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya