Entah bagaimana aku harus menjelaskan ini semua, aku terluka.. sangat terluka tapi haruskah dunia tau bahwa aku dikalahkan olehmu?

Untuk kamu yang telah pergi meninggalkanku setelah memberi janji-janji palsu, terimakasih karenamu aku belajar mencoba mengobati lukaku, karenamu aku belajar menjadi wanita yang tegar dan kuat, karenamu aku belajar untuk menghargai perasaan orang lain yaa…karenamu aku tau bahwa mencintai Allah lebih mulia dibandingkan cinta kepada hambanya.

Advertisement

Aku mengagumi setelah pertemuan kita pada saat itu, aku merasa teduh saat berada didekatmu, aku merasa lagu cinta yang kau nyanyikan itu memang benar untukku, janji yang pernah kau ucapkan ingin segera menghalalkanku membuatku merasa terbang menuju langit biru.

Sepertinya aku sudah tidak sabar menceritakan ini semua kepada seluruh alam, aku bahagia, aku sangat bahagia, lalu aku menceritakan semuanya kepada yang menganugerahkan cinta “ Ya Allah aku bahagia, aku sangat bahagia ya Allah, engkau membawa laki-laki sholeh untuk menjadi pendampingku, ia berjanji akan menghalkanku, akan ku jaga hati ini ya Allah untuknya, sukseskanlah ia agar nanti ia menjemputku disini yang menanti”.

Ya, hari itu aku sangat bahagia dan haru, aku juga menceritakan semuanya kepada ibuku, waaah ibuku merasa bahagia sekali sebentar lagi putrinya akan dipinang.

Advertisement

Tapi dengan berselangnya waktu, aku sempat bertemu dengan keluargamu untuk pertama kalinya aku juga membawa ibuku pada saat itu, kita bernyanyi bersama membawakan lagu yang sering kita nyanyikan, semua pandangan tertuju pada kita. Aku merasa bahagia sekali, kita bernyanyi dihadapan orang tuamu dan orang tuaku.

Namun semua berubah setelah beberapa hari pertemuan kita, kau tak pernah mengabariku ataupun menyapaku seperti biasanya. Lalu terlintas didalam benakku, apa yang terjadi pada dirimu? Kau mulai berubah pada saat itu, aku sedih, sedih sekali. Kau seakan menjauh, memberi jarak yang sangat jauh.

Aku mencoba untuk tak menghubungimu aku ingin bermanja, aku ingin bercerita kepada Allah atas resah yang aku rasakan. Aku mulai bertanya-tanya kepada Allah “ Ya Allah apa salahku? Hingga dia menjauh seperti ini, aku mohon jika memang dia jodohku dekatkan ia, tapi jika dia bukan jodohku, kumohon selesaikan lah ini semua dengan caramu Ya Rabb”. Mungkin Allah telah mendengar rintihan hatiku, tak butuh waktu lama Allah memberi jawaban atas pertanyaanku slama ini.

Ya, kamu mengirim pesan kepadaku bahwa kamu tak bisa membuka hatimu untukku karena orang tuamu tak merestui aku mendampingimu, oh sungguh dunia seakan terbalik, sembilu tepat mengenai hatiku, sekujur tubuhku kaku tak menentu, air mata membasahi pipiku, aku mengerang, aku menjerit kesakitan, Ya Allah aku menyebut namamu selalu menyebut namamu, ku letakkan tangan tepat didadaku…aku terluka Ya Allah, sakit terasa sakit. Apakah ini jawaban atas pertanyaanku selama ini? Ternyata nama yang kusebut didalam do’aku bukanlah jodohku.

Untuk nama yang slalu ku sebut disetiap sujud terakhirku hingga sajadah mungkin bosan mendengarnya. Apa kau tau pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, susuatu yang banyak dinantikan oleh banyak orang termasuk aku dan taukah kamu pernikahan bukanlah suatu lelucon yang bisa diucapkan hanya untuk membuat hatiku terbang lalu luluh lantah karna janji murahmu.

Ya, aku terima jika memang orang tuamu tak merestui, bukankah Ridho Allah tergantung ridho orang tua, aku tak memaksa aku mencoba untuk memasrahkannya kepada sang kuasa. Allah selalu memberi alasan atas kesedihanku, Tentang kesedihanku kau tak perlu tau, cukup percayalah bahwa aku, rumah dari kisahmu.

Pada saat itu aku mulai mengoreksi diri, apa yang salah pada diriku hingga orang tuamu tak merestui, ternyata kita bukanlah orang yang tepat untuk bersama, kau dari keluaraga yang terpandang sedangkan aku terlahir dari keluarga yang biasa biasa saja, tak ada yang istimewa. Aku hanya mengandalkan cinta yang tulus untukku berikan kepadamu.

Dimata Allah kita memanglah sama tapi dimata orang tuamu kita sangatlah berbeda, mereka sudah menyimpan seseorang yang menurut mereka baik untuk mendampingimu. Seandainya mereka tau bahwa aku mencintaimu karena Allah, bukan karena paras, harta dan tahta.

Ah tapi sudahlah, semuanya sudah terjadi. Kini tugasku selesai, kuserahkan kamu kepada yang mencintaimu. Smoga ia sabar mencintaimu sesabar caraku, Aku akan memungut kepingan-kepingan hatiku yang hancur, akan kusatukan lagi dengan baik, akan ku perbaiki untukku serahkan kepada yang teristimewa nantinya yang ku sebut imamku. Aku tidak dendam tidak.

Aku percaya Allah menyimpan seseorang yang terbaik untuk tempatku berteduh nantinya, seseorang yang melabuhkan cintanya untukku karena Allah. Biarlah, biarlah Luka ini waktu yang menyembuhkan, tidak hanya lukaku tapi juga luka hati ibuku. Terima kasih

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya