Pemandangan sore hari di sini memang selalu indah, sama persis saat kita pernah menghabiskan waktu bersama dahulu kala. Banyak bunga-bunga indah di setiap sudut taman, rumput-rumput pun menghijau subur, bunga teratai yang mulai mekar di kolam yang tepat berada di tengah taman, beserta air mancur yang mulai menyemarakkan indahnya sore hari ini. Kali ini pun taman sudah mulai di padati oleh pemuda-pemudi yang sedang asyik mengobrol, ada juga yang sedang asyik berfoto berlatarkan bunga-bunga indah yang tumbuh subur di taman. “Shit…” melihat ini semua membuat memori di ingatanku seakan mengulang semua kenangan di masa lalu saat bersama denganmu, di sini.

Semakin sore, pengunjung di taman ini semakin ramai. Tapi mengapa yang aku rasakan justru berbeda? Pengunjung di taman ini memang bertambah ramai, tapi mengapa aku semakin merasa kesepian? Bukankah seharusnya aku terhibur dengan pengunjung yang semakin ramai, dengan beberapa pemuda yang memainkan gitar layaknya seorang gitaris profesional dengan suara yang mengesankan? Tapi sekali lagi—mengapa yang ku rasa justru berbeda? Sendiri, kesepian.

Advertisement

Untuk kesekian kalinya, di tempat yang sama, kondisi yang sama dan kesedihan yang sama pula; aku duduk di sini menikmati pemandangan sore hari. Entah sudah berapa kali air mataku jatuh membasahi pipi ini; puluhan, ratusan, ribuan; entahlah mungkin lebih banyak lagi. Padahal selama ini aku sudah berusaha untuk mengubur dalam-dalam masa lalu yang pernah aku lalui, tapi mungkin memang sulit; bahkan sangat sulit untuk menghapus setiap detik memori tentang dirimu.

Satu persatu memori tentangmu seakan hadir kembali di benakku—entah berapa kali aku harus berusaha untuk mengusir bayangmu di benak ku, akan tetapi bayangmu selalu hadir tanpa harus aku undang lagi, seakan bayangmu sudah tahu tempat untuk kembali; yaitu di dalam hati ini.

Tepat satu tahun yang lalu, adalah hari terakhir kita bisa bertatap muka, hari terakhir kita bisa berbagi suka dan duka. Karena tepat satu tahun yang lalu, aku harus menerima kenyataan; kenyataan bahwa aku harus kehilanganmu, bahkan bukan untuk sementara tapi untuk selamanya. “Arrgghh..” mengapa setelah satu tahun berlalu, rasa sakit kehilangan dirimu masih begitu menyakitkan, bahkan terasa hingga palung hatiku yang paling dalam. Mungkin karena aku terlanjur mencintaimu begitu dalam; ataukah karena sampai saat ini (detik ini juga) hanya dirimu yang bisa menyentuh palung hatiku yang paling dalam. Aku tidak tahu pasti apa yang aku rasa saat ini, hanya air mata yang bisa menjawab kesedihan yang ada di hati ini.

Advertisement

Tidak banyak yang bisa aku lakukan saat ini, selain duduk sendiri di bangku panjang yang sejak dulu menjadi tempat favorit kita untuk menikmati senja; bersama. Karena dahulu kamu pernah bilang padaku,” tempat ini akan selalu menjadi tempat yang akan aku kunjungi”, sambil tersenyum padaku. Aku pun bertanya,” apakah aku boleh tahu alasannya?”. Sebelum menjawab, kamu sempat tersenyum lalu berkata,” Coba lihatlah! Dari sini kita bisa langsung menatap gedung balai kota”. “ Cuma itu alasannya?”, aku menanggapi heran. “Tidak. Tidak itu saja. Tapi cobalah lihat, dari sini kita bisa melihat hamparan bunga teratai yang mulai mekar dan warnanya semakin indah diterpa oleh sinar senja. Apa kamu tahu?”.  “Eh.. tahu apa?” aku memasang wajah penasaran. “ Aku selalu menyukai senja”, sambil tertawa dengan manisnya. Hal yang selalu menjadi bagian yang paling aku rindukan; senyum dan tawamu yang selalu menenangkan.

Sejak obrolan kita waktu itu, hampir setiap minggu kita pasti berkunjung di taman balai kota ini; menghabiskan waktu bersama, mengobrol bersama, bercanda bersama. Sebenarnya di manapun kita berada, semuanya terasa istimewa. Tapi entah mengapa, khusus di tempat ini begitu terasa sangat istimewa? Mungkin karena di tempat inilah perasaan kita mulai tumbuh subur bersemi seperti bunga teratai yang selalu mekar saat senja hari. Atau mungkin karena di tempat inilah, tempat yang menjadi saksi cerita cinta kita yang baru di mulai.

Hari demi hari kita lewati bersama – bisa di bilang, aku yang selalu mencari waktu untuk bersamamu. Karena sejak pertama kali kita bertemu aku sudah jatuh hati padamu; bahkan saat itu aku susah tidur karena selalu terbayang dirimu. Tapi karena aku baru pertama kali merasakan rasanya jatuh cinta, tidak tahu harus berbuat apa; selain selalu berusaha untuk selalu membuatmu tersenyum bahagia meskipun kamu belum pasti suatu saat mau menerimaku sebagai kekasihmu. Tapi aku akan memastikan padamu, apapun akan aku lakukan; berusaha dan berjuang untuk mendapatkanmu. Sampai kamu sendiri yang bilang aku harus berhenti; selama kamu belum menyuruhku untuk berhenti, maka aku tidak akan pernah berhenti.

Segala usaha, perjuangan dan pengorbanan yang aku lakukan ternyata tidak sia-sia. Karena tepat pada tanggal 29 Juli 2011, yang merupakan hari ulang tahunku; aku memberanikan diri untuk menyatakan semua yang ada di hati ini. Dengan sangat hati-hati, memilih kata yang terbaik; berharap tidak melakukan kesalahan dalam berucap maupun bertindak. Dengan perlahan-lahan, kata tiap kata mulai terucap dari mulut ini, hingga tiba pada bagian yang paling penting,” Apakah kamu mau menerimaku dan semua kekuranganku untuk menjadi kekasihmu?”. Hening sejenak. “Iya, aku mau”, mengangguk sambil tersenyum. Aku pun reflek memelukmu dan membisikan,” terima kasih”. Resmi sudah—hari itu, di taman kota ini, pada sore hari persis seperti saat ini sambil menikmati senja; kita resmi menjadi sepasang kekasih. Saat itu pula aku sudah mengucap janji pada diriku sendiri.

” Karena untuk mendapatkanmu butuh perjuangan, maka mempertahankanmu adalah suatu keharusan, dan itu pasti akan aku lakukan”.

“trrtt..trrrttt..trrtrtt..” handphoneku bergetar,membuyarkan lamunanku. Bergegas aku ambil handphone di saku celanaku lantas langsung melihat notifikasi yang ada di dalamnya; ternyata daya baterai sudah lemah. Kemudian aku mulai melihat di sekililing taman, ternyata hari sudah mulai gelap dan jam pun sudah menunjukkan pukul  5 sore, berarti aku harus bergegas pulang sebelum adzan maghrib berkumandang dengan indahnya.

“Hmmm… ternyata sudah cukup lama aku melamun tadi”, aku bergumam dalam hati. Ternyata aku terlalu dalam tenggelam pada masa lalu, sehingga untuk kembali permukaan pun sangat sulit; karena kini aku telah berada di dalam lautan masa lalu, yang dalamnya melebihi dalamnya seluruh samudera yang ada di dunia. Aku beruntung karena telah di selamatkan oleh getaran handphone yang ada di saku celana, sehingga aku bisa untuk kembali pada tempat awalku; yaitu di masa sekarang tanpa dirimu.

Kini dengan perasaan yang masih campur aduk; di sekitar kantung bola mataku pun masih terlihat membengkak, tanda bahwa aku baru saja menangis (lagi); aku mulai bangkit dari tempatku duduk sedari tadi dan mulai berjalan menuju tempat di mana tadi aku memarkirkan sepeda motor yang telah menjadi saksi perjalanan panjang cerita cinta kita. Sesampai di tempat parkir, aku bergegas naik dan menghidupkan mesin lantas mulai melajukan motor menuju rumah; berharap perasaanku bisa lebih baik lagi sesampai di rumah nanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya