Siapa yang bisa mengelak dari cinta yang masih hangat? Ketika udara di luar terlampau dingin, naluri selalu menuntunmu menuju kehangatan itu bukan? Sesungguhnya cinta itu pernah panas, sangat, hingga membuat lidah melepuh dan kita terpaksa enggan menenggaknya lagi. Melukai diri sendiri itu kebejatan yang tak ada ampun, kita terpisah demi menyelamat diri masing-masing dari luka, meski sebenarnya itu apologi belaka, kebenarannya adalah kita terpisah karena karena kaulah yang menjahatiku, aku terluka seorang diri, terima kasih. Semakin kau cintai saat itu semakin kau memanfaatkanku dengan datang dan pergi seenak inginmu, aku terluka, terima kasih sekali lagi.

Aku sudah terlanjur, menikmati semua suguhan darimu, terluka tidak membuatku jera untuk bersamamu. Setelah pergiku, itu terasa menyiksa, seperti dahan mulai kaku tanpa pernah dihempas angin, tak bergerak sama sekali. Aku ingin denganmu sekali lagi walau untuk sekedar di lukai kedua kali, tak apa, tidak benar menurutku berhenti sebelum menghabiskan perasaanku, perasaan cinta dan kesabaranku masih tersisa banyak, cukup untuk kau sakiti lebih baik dari sebelumnya.

Advertisement

Juga kau, ternyata mulai sakau pada kebodohanku, hidup bagimu bukan apa-apa jika tak melukai cinta yang paling kepadamu, maka kau membutuhkanku untuk dilukai agar nuansa hidupmu lebih menggelora. Kau memintaku yang sedang ingin bersamamu untuk kembali denganmu lagi, seperti menawarkan daging pada karnivora yang kelaparan, tak mungkin tertolak.

Kita bersama kembali, seperti dulu pertama kali semuanya terlihat sungguh-sungguh, aku tahu saat ini diriku seperti orang yang kau kalungkan bom, menunggu waktu kau tidak segan membunuhku sekali lagi, kata orang ini bodoh, tapi itu karena mereka tidak pernah menikmati penderitaan. Mereka tidak akan paham bila kehilanganmu itu lebih menyiksa, jadi biarlah mereka usil dengan pemikirannya, dan yang ku tahu aku mesti denganmu lagi.

Kali ini, di kali kedua, aku merasakan kesungguhanmu, seperti menjalani penebusan dosa, kau menjadi berbeda seperti sejatinya kamu yang ada dalam harapku, aku terkesimah setidaknya hingga beberapa waktu. Kenyamanan memang adalah senjata yang ampuh untuk merenggut akal sehat, aku melupakan luka lama darimu, mengabaikan semua kemungkinan buruk yang sebelumnya sudah ku duga-duga, untuk sejenak kondisi ini meyakinkan untuk berkata “kamuku”.

Advertisement

Tapi angin selalu sejuk bila terasa di awal saja, setelahnya pera terasa kering, kebaikan memang sepertinya tidak selalu manis, terkadang ada maksud terselubung yang mematahkan perasaan, kali ini kamu bermain gila di punggungku, tanpa pernah ku sadari, hingga wanita itu sendiri yang menepuk pundakku untuk menoleh ke belakang, melihat kebenaran, pengkhianatanmu, itu membuat luka lama segar kembali, sungguh sempurna dan kau hebat sekali.

Dan luka kali ini memberikan aku tahu, bahwa di balik tingkah laku yang sempurna, ada keburukan yang tersimpan rapi, tidak terkecuali tingkah laku dalam satu hubungan, serapuh hubungan antara kita. Mengetahui pengkhianatanmu sejujurnya memang tidak lantas membuat sirna seluruh perasaanku, tetapi setidaknya itu telah menjadi alasan yang paling kuat dan tepat untuk berbahagia dengan cinta yang akan kemudian. Terima kasih, melukaiku telah memperlihatkan seperti apa sesungguhnya kamu, terima kasih dua kali lagi!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya