Aku masih ingat, ketika pertama kali kau mendekatiku melalui sebuah pesan disalah satu akun social media yang kupunya. Aku begitu terkejut. Bahkan aku takut saat kau mulai memperkenalkan diri dan mengatakan keinginanmu untuk menjadikanku pasangan hidupmu, dengan menyebut nama Allah. Aku bahagia mendengarnya. Wanita mana sih yang tidak ingin dihalalkan, tapi aku tidak mungkin menerimamu begitu saja. Aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya. Melihatmu meski hanya sekali pun juga tidak. Jadi wajar saja jika disela-sela rasa bahagiaku, aku memiliki kekhawatiran yang luar biasa. Namun tak henti-hentinya kau mengirimiku pesan, meyakinkanku akan niat baikmu hingga akhirnya aku pun luluh. Aku merasa tertarik padamu. Komunikasi antara kita terus terjalin setelah aku memberikan nomor ponselku.

Tiada hari tanpa mendengar suaramu. Tiada hari tanpa kabar darimu. Aku dilambungkan oleh angan – angan dan janji manismu. Aku mulai lupa rasa takut dan khawatir yang awalnya menyelimutiku. Ya, aku nyaman bersamamu, meski tak pernah bertatap muka. Begitu luar biasa perasaanku saat itu. Aku memujimu. Aku juga berani mengakui bahwa aku memiliki rasa yang lebih padamu. Aku benar – benar telah hanyut di lautan cintamu. Semakin hari, rasa cinta dan sayangku terus bertambah.

Advertisement

Namamu tak pernah lupa ku sebut dalam setiap do’a – do’a yang kupanjatkan. Karena perhatianmu yang kufikir benar – benar tulus, aku merasa hampa bila sedikit saja kau terlambat mengabariku. Hingga akhirnya aku dilanda resah .. Lambat laun kau mulai berubah. Kau mulai berani mengabaikanku. Tak ada lagi sapaan manis di pagi hari. Tak ada lagi perhatian. Aku mulai curiga, ada apa denganmu, pemilik rasaku ?

Prahara itu datang. Kau menelfonku di pagi buta. Tanpa basa-basi kau memintaku untuk berhenti mengharapkanmu dan melupakan semua hal yang terjadi selama ini. Secepat itu kau berubah, apa salahku? Bagaimana biasa aku tiba-tiba harus menghapusmu dari memori otakku ? Aku tidak menyangka ternyata kau palsu. Setega itukah kau padaku? Aku tidak bias menerimanya. Aku tidak ingin ditinggalkan olehmu. Tapi dengan tegas kau katakan hubungan ini memang harus diakhiri. Ada wanita lain yang sedang dekat denganmu. Kau bahkan mengaku telah melakukan perbuatan terlarang dengannya. Tahukah kau perasaanku saat itu? Aku merasa hancur, sakit, kecewa, dan marah.

Andai kau ada dihadapanku, mungkin aku telah menghujanimu dengan tamparan. Ku akan dengar kau menangis sambil tak henti-hentinya memohon maaf. Dalam hati aku mendengus “air mata buaya”. Selama ini aku berusaha menjaga diri sebaik mungkin. Kau juga berjani akan melakukan hal yang sama sampai kita disatukan dalam ikatan halal. Tapi kenapa kau melanggar janji yang kau buat sendiri? Mendadak kau memutuskan pembicaraan. Aku pun hanya bisa menatap layar ponselku dengan linangan air mata. Setelah itu, tak ada lagi kabar darimu. Berhari-hari aku menangis menyesali sikapmu. Merutuki apa yang telah terjadi, dan mengutuk dia yang telah berani membuatmu lupa diri. Anganku tentang rumah tangga bahagia bersamamu, musnah sudah. Aku terpuruk.

Advertisement

Seminggu setelah telpon terakhir darimu dengan kabar buruk itu, fikiranku mulai tenang. Aku tidak boleh terus – terusan seperti ini. Aku harus berhenti menangisimu. Aku harus bangkit. Ini takdir dari sang Pencipta. Aku yakin ada hikmah dibalik kejadian ini. Akan kujadikan masalah ini sebagai salah satu proses untuk membuatku semakin dewasa. Kau telah mengajarkanku tentang mencintai seseorang tak seharusnya berlebihan seperti yang telah kulakukan. Semoga aku menjadi wanita terakhir yang kau sakiti. Sekarang aku sadar, aku harus menciptakan kebahagiaanku sendiri. Aku tidak boleh menggantungkannya pada orang lain. Aku juga harus bahagia, meski bukan denganmu..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya