Hai kamu yang kini jauh dari pandangku, apa kabarmu? Entah berapa lamanya rindu ini harus tertahan dipelantaran hatiku, bias kasihmu masih penuh dalam memoriku. Orang bilang aku tidak bisa move on darimu dan aku rasa mereka benar, meskipun aku sering menjawab aku tidak peduli lagi padamu. Apa kau tengah menyimpan rindu yang sama? Perpisahan beberapa tahun lalu masih menyisakan sesak di lorong dadaku, kenyataan terlalu jahat pada aku dan kamu.

Aku sering bereja, harusnya kini aku dan kamu masih erat bergenggaman. Kini, mestinya kita masih saling berpegangan, berlarian bersama mengejar apa yang aku dan kamu harapkan. Tetap menguatkan disaat yang satu terjatuh, tetap bersebelahan ketika yang satu butuh sandaran. Tetapi lagi-lagi kita tidak bisa berbuat apapun selain berpasrah pada keadaan yang tidak berpihak pada aku dan kamu. Dan kini kita sendirian berjalan, saling tidak mempedulikan, saling acuh dan tidak mau tau, aku dan kamu dalam diam masing-masing, tidak satu katapun terucap bahkan dipertemuan terakhir, aku dan kamu memutuskan tidak lagi saling beriringan.

Advertisement

Beberapa tahun lalu, kamu memilih mengakhiri kata kita diantara aku dan kamu, setelah sekian lamanya kita berjuang berdua. Kamu memilih menyerah karena hubungan ini tidak memiliki arah, "sekuat apapun kita bergenggaman percuma saja kita tetap tidak akan bisa berada dalam satu rumah yang sama" begitu katamu saat itu. Aku yang masih percaya kita bisa tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan apa permintaanmu, sebab aku tahu tidak ada hubungan yang kuat jika hanya ada satu tiang penyangga. Dengan tubuhmu yang lemas kamu berjalan menjauh meninggal aku yang masih berurai air mata. Aku hanya mampu melihat punggungmu yang semakin jauh membelakangiku. Seketika aku ingin lari dan memelukmu tetapi aku lemah berdiri disitu. Kerasnya prinsip hidup orang tuaku dan orang tuamu membuat aku dan kamu harus merelakan semua, mematikan segera apa yang tumbuh dalam hatiku jua hatimu. Aku terkadang berfikir mengapa harus kita yang mengalah? Mengapa bukan mereka saja mengikhlaskan hati dan melunakkan sedikit saja ego mereka untuk aku dan kamu? Ya, aku tahu hidup memang tidak selalu seperti apa yang kita fikirkan dan harapkan. Kadang hidup justru menyuguhkan apa yang sama sekali tidak kita inginkan. Tugasku hanya menerimanya.

Namun kini, bolehkah kita saling bersapa sekedar mengucap "hai" saat bertemu? Aku dan kamu asing. Aku dan kamu seperti manusia baru. Kamu bisu tak mengiyakan senyumku, sekedar membalasnya pun tidak. Ada apa denganmu? Kamu serasa lupa, dulu aku dan kamu adalah teman terbaik, tempat bercerita dari segala peluh, dua tiang yang saling menguatkan tetapi kini aku dan kamu tau tetapi tak mau tau. Duduk bersebelahan saja aku dan kamu tidak saling berbicara, bisu dan dingin. Hingga hari ini aku dan kamu saling diam, sungguh jika kamu tahu aku rindu bergurau denganmu.

Kamu menjauh diujung seberang sana, kamu tak mau aku tahu tentang hidupmu sekarang. Dengan siapakah kini kau bergandengan, wanita seperti apa yang kini telah menggantikan aku dari hatimu, kehidupan bagaimana yang kini tengah kau jalani. Terangkan sebentar saja padaku biar tidak lagi aku khawatir tentangmu. Aku telah belajar banyak tentang hubungan dari kisah kita dahulu hingga akhirnya kini aku menjadi pemilih setiap kali menentukan pasangan. Aku selalu mempertimbangkan kamu dalam setiap laki-laki yang mendekatiku. Aku sadar itu yang membuatku hingga hari ini masih sendiri. Aku tidak bisa membohongi bayangmu masih tergambar jelas dimataku entah hingga kapan yang aku tahu sampai saat ini aku masih mencintaimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya