Pada saat ini, semakin tingginya tuntutan hidup diikuti juga standar dalam bermasyarakat yang semakin tinggi baik itu yang ada dipedesaan maupun wilayah kota besar sekalipun. Salah satu pengaruh yang timbul ialah adanya target atau capaian yang bersifat sedikit memaksa tanpa mengetahui seberapa batas potensi yang kita miliki.

Tak terlepas dari itu semua, jikalau capaian itu tidak tercapai maka efek sampingnya pun cuma satu yaitu Kecewa.

Advertisement

Contohnya begini,

“Di musim pendaftaran sekolah seperti saat ini, kita fokuskan ke tingkat Taman Kanak-kanak ( TK), saat ini buat mendaftar ke tingkat tersebut harus melalui beberapa test yang salah satunya membaca, mungkin tidak semua anak bisa langsung fasih membaca diumurnya akan tetapi karena tuntutan yang mengharuskannya demikian. Dari sanalah mungkin timbul pembandingan dalam diri orang tua terhadap anaknya, membandingkan sianak dengan anak lainnya memungkinkan timbulnya tekanan dalam diri si anak dan juga dampak didalam masa pertumbuhannya”.

Dapat ditarik satu kesimpulan bahwa kurangnya pemahaman akan kualitas maupun potensi diri sendiri membuat kita terjebak dalam suatu lingkaran rasa ketidakpuasaan atas apa yang kita peroleh.

Advertisement

Contoh di atas sedikit menggambarkan atas problematika yang tengah melanda beberapa para orangtua, terlepas dari benar atau tidaknya kaitan contoh diatas tapi pada kenyataan nya beberapa para orangtua selalu memliki target yang sedikit atau bahkan memaksa kepada buah hatinya. 

Misalnya saja saat penerimaan rapor semesteran, hasil ujian, test masuk perguruan tinggi dan lain sebagainya yang mengharuskan menuai hasil yang sempurna. Padahal kita hidup tidak hanya memikirkan tentang mulusnya perjalanan akan tetapi juga jalanan yang berlobang yang akan dilalui pun juga harus difikirkan.

Banyak faktor yang membuat para orangtua menerapkan hal demikian kepada anak-anaknya, salah satunya yaitu rasa gengsi. Yap, benar sekali, mengingat bahwa dalam bermasyarakat sepertinya menjadi kebanggaan tersendiri untuk urusan pamer-memamer, apalagi ini berkaitan dengan anak sendiri.

Sehingga para orangtua lupa bahwa para anak pun memiliki takarannya sendiri dalam berbagai hal urusan apapun, termasuk itu dalam lingkungan sosial masyarakat maupun lingkungan pendidikan. Tak jarang karena rasa egois dari para orangtua membuat sang buah hati merasa tertekan baik dari sisi mental maupun pikirannya.

Mungkin sedikit saran dari penulis untuk yang sedang mengalami ataupun belum mengalami untuk para orangtua :

Yang pertama, menjaga komunikasi. Terdengar sederhana namun hal ini sangat berpengaruh terhadap hubungan orangtua dan anak, tak ada salah sesekali saat kumpul bersama di meja makan sembari menanyakan bagaimana aktifitasnya hari ini, apakah ada kendala atau kesulitan selama menjalani beraktivitas.

Kedua, terbuka. Saat tengah bersantai, mungkin para orangtua bisa terbuka dengan memaparkan bagaimana rencana mereka kedepannya untuk sang buah hati, begitupun sebaliknya sang anak bisa juga  memaparkan apa saja rencana yang bakal ia kejar dalam jangka pendek atau jangka panjang. Sehingga adanya keselarasan yang tercipta dalam obrolan tersebut

Ketiga, menerima. Di saat nilai rapor, hasil ujian, atau kegiatan lainnya yang kurang memuaskan disinilah respon yang kebanyakan ditakuti oleh sang buah hati, takut akankah dimarahi atau tidak. Diusahakan untuk para orangtua untuk tidak malah memarahi, merendahkan bahkan membandingkannya dengan orang lain. Karena diposisi tersebut sang buah hati sangat butuh support dari kalian para orangtua.

Nah, untuk mengakhiri tulisan ini, sedikit kesimpulan bahwasannya setiap anak memiliki dunianya masing-masing, memiliki pemikirannya masing-masing dan juga memiliki lingkungannya masing-masing. Diharapkan untuk para orang tua tidak lagi mengutamakan rasa egoisnya hanya untuk kesenangan sesaat. Mereka sang buah hati tidak ada yang terlahir bodoh, hanya saja mereka punya potensi dibidang lain yang belum kelihatan. 

Biarkan mereka tumbuh dan berkembang dengan cara mereka sendiri, jangan menjadi orangtua yang overcontrol terhadap anaknya, jadilah seperti wasit dalam pertandingan yang selalu mengawasi jalannya pertandingan dan melakukan tindakan saat memang itu benar-benar harus dilakukan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya