Aku ditemani oleh malam dan sebuah lagu kesukaanku. Tak tahu bagaimana semua tentangmu mencuat ketika aku sudah dipeluk oleh malam, saat ini. Dahulu, kau adalah orang yang paling aku banggakan hingga apapun yang kau katakan akan dengan mudah aku percayai, termasuk dengan siapa kau bepergian.

Aku telah kalah hanya dengan percaya pada seorang penipu seperti dirimu. Penipu yang pandai menyimpan segala kebohongan di balik senyum manismu.

Advertisement

Aku ingat, aku berkunjung di tempat kesukaan kita. Tentu saja, perpustakaan. Aku berjalan menelusuri setiap rak buku, untuk mencari buku kesukaanku. Sayup-sayup aku dengar suaramu, namun aku berpikir mungkin aku hanya sedang rindu sehingga suara orang lain aku bayangkan dengan suaramu.

Segera aku sentuh saku celana untuk mengambil ponsel, hanya untuk mengabari dirimu bahwa aku sedang di perpustkaan seperti kebiasaan kita, dahulu. Ternyata saku celanaku hanyalah berisi dua lembar dua ribu rupiah, sebagai kembalian ketika aku hendak ke sini, ke perpustakaan.

Aku baru ingat bahwa ponsel dan headset sedang aku letakkan di meja, bersama dengan pena dan sebuah buku tulis yang biasanya aku bawa hanya untuk menulis hal-hal menarik yang aku temukan dari buku yang aku baca dan lagu yang sedang aku dengar nanti.

Advertisement

Aku masih saja mencari buku kesukaanku itu, hingga akhirnya aku temukan. Ketika aku hendak berpindah ke rak sebelah supaya lebih dekat ke tempat dudukku, suaramu terdengar lebih dekat. Kali ini rasanya aku bukan sedang rindu ataupun berkhayal, suaramu terdengar nyata di ruangan ini. Aku berjalan pelan sambil melirik ke semua tempat duduk, dan ya kau memang ada di sana.

Di sebelahmu ada seorang gadis yang tak aku kenal. Aku mendatangimu, lalu menepuk pundakmu. Saat itu kau terlihat tak tersenyum, namun sangat terkejut dengan kedatanganku. Kau pun tak memperkenalkan gadis di sebelahmu, yang juga melihatku dengan tatapan dingin. Aku masih berpikir bahwa gadis itu mungkin adalah temanmu, lalu aku tersenyum padanya walau dia masih saja menatapku dingin.

Kau bertanya tempat dudukku, dan tak mengundangku bersama denganmu dan dia. Kau malah mengatakan untuk segera membaca, karna buku yang aku pegang sedang aku remas. Lihat, betapa polosnya aku menyangka bahwa tak ada aroma pengkhianatan yang sedang aku saksikan.

Aku duduk dan membaca, sambil tak menghiraukan dirimu dengan teman gadismu itu. Waktu sudah cukup siang, hingga aku kembali. Setelah kuangkat wajahku dan menghentikan lagu yang sedang aku dengar, aku tak mendapati dirimu lagi.

Aku pikir bahwa kau mungkin memanggilku, namun tak aku dengar. Sekali lagi, aku masih mengira bahwa kau orang terbaik sedunia hingga memikirkan pengkhianatan pun tak terlintas sedikitpun pada pikiranku. Aku ingin mengirimi pesan singkat padamu, namun rasanya kau sedang belajar dengan temanmu itu jadi kubiarkan saja.

Berminggu-minggu hingga hampir tiga bulan kau mulai jarang menghubingi. Biasanya kau isi pagiku dengan ucapan selamat pagi, namun rasanya tidak sama sekali belakangan ini. Kau juga tahu bahwa aku tak pernah memulai percakapan denganmu.

Tiga bulan pertama ketika kau menghilang dariku masih bisa aku tepis dengan prasangka bahwa kau hanya sedang sibuk, sebab yang aku tahu kau adalah orang yang gila membaca. Kali ini sudah lima bulan kau tak pernah mengabari lagi. Aku mulai resah dengan keberadaanmu, dan bertanya-tanya pada diri sendiri ada apa denganmu?

Aku putuskan memulai percakapan yang hampir dua hari tak ada balasan, terang saja segera aku menelponmu. Kau memang menerimanya, namun kau berkata aku sedang sibuk, nanti aku hubungi lagi ya!, kemudian kau memutuskan panggilan telepon dariku. Kali ini bukan hanya resah yang aku rasakan, namun aku turut gelisah.

Tiga hari setelah aku menelponmu, kau menelponku. Kau hanya bilang maaf karna kesibukanmu dengan suara lelah, dan aku bergegas bertanya mengenai gadis yang tempo hari bersamamu. Dugaanku benar, kau bilang itu adalah teman. Kau bilang jangan berpikir aku akan mendua, sebab memikirkannya saja aku tak mampu.

Aku tertawa mendengarnya lalu menyuruhmu istirahat dan menutup percakapan kita melalui telepon itu. Aku sudah cukup tenang hanya dengan dikabari seperti itu, setelah kau hampir lenyap di lima bulan belakangan ini.

Dua minggu kemudian, aku kembali berkunjung ke perpustkaan. Aku lihat ada gadis yang rasanya aku ingat rupanya, dan ya dia adalah gadis yang bersamamu tempo hari. Ternyata kau di seberang jalan sedang tersenyum, yang aku kira senyum itu padaku.

Nyatanya senyum itu untuknya, dan aku pun tak kau lihat. Aku berjalan pelan, berpikir bahwa kalian hendak bersinggah di tempat yang lain namun mereka punya tujuan yang sama denganku, yaitu berkunjung ke perpustakaan. Di hadapanku, kau genggam tangannya dengan erat dan tertawa serasa jalanan berlubang itu adalah milikmu yang dengan hati-hati kau bimbing dirinya. Aku hanya menyaksikan pertunjukan romansa ini, selama beberapa menit sebelum aku tiba di perpustakaan.

Ketika aku menitipkan tas pada lemari, kau melihatku dan segera melepaskan genggaman tanganmu yang erat pada tangannya. Aku tersenyum pada kalian, lalu menaiki tangga. Aku pikir kau akan mengejarku dengan penjelasan, namun kau hanya mengikutiku dari belakang. Kau duduk tepat di hadapanku, dan gadis itu terus di sampingmu. Sepertinya pengkhianatan yang selama ini kau tutupi sudah terkuak dengan sangat jelas di hadapanku, tanpa topeng apapun.

Aku berjalan pelan sambil mengatur nafas yang terburu-buru karna amarah yang rasanya ingin meledak, namun urung dengan teduhnya suasana perpustakaan. Tanpa sadar aku berjalan hingga ke ujung rak, namun buku yang aku cari tak aku temukan.

Kau datang dengan buku yang sedang aku cari, lalu menawarkannya untukku. Aku masih mampu menatapmu dan tersenyum, sambil menolak tawaran buku itu. Aku mengambil buku yang tak aku lihat judulnya, dan meninggalkanmu lalu duduk di tempat dudukku. Ternyata aku mengambil buku tentang dunia medis, buku yang sama sekali tak aku mengerti.

Aku kembali ke rak buku, sekedar ingin mengambil buku sejarah agar dibaca untuk menenangkan pikiran, seperti yang biasanya aku lakukan. Kali ini, kau sudah di sampingku. Aku minta maaf, katamu membuka percakapan. Aku tatap matamu dan mengira bahwa kau sedang bercanda, namun tak ada tawa di bibirmu. Aku mengangguk lalu berkata, tak mengapa. Aku meninggalkanmu dan merasa bahwa tak ada gunanya aku membaca.

Berhari-hari aku berusaha meyakinkan diri bahwa kau sudah berkhianat, namun berkali-kali juga aku gagal meyakinkan diri. Aku bahkan masih tak tahu diri untuk mengharapkan pesan singkat maupun panggilan telepon darimu.

Dan ya, kau memang melakukan itu. Namun satu pun tak aku responi. Tak terasa sudah seminggu aku pergi dari hubungan kita, yang tak jelas ada apa sebenarnya. Aku kembali berkunjung ke perpustakaan, dan kembali juga mendapati kalian di sana sedang membaca tanpa ada mesra-mesranya.

Aku bahkan tak menyapa dirimu, dan hanya membuang pandangan ke arah lain ketika kau sedang tersenyum dan memanggil namaku. Sekitar sepuluh menit, kau berbisik padaku dan mengatakan kau menungguku di depan gedung.

Tak aku gubris, karna memang aku tak butuh penjelasan apapun. Aku sudah cukup pandai untuk mengerti bahwa kau hanya sedang melakukan pencitraan dengan berpura-pura bahwa semuanya masih baik-baik saja.

Aku membaca banyak buku dan menghabiskan waktu empat jam, hingga aku lupa dengan perkataanmu tadi. Aku bahkan tak peduli apakah kau masih ada maupun sudah hilang di depan gedung. Aku bergegas meninggalkan perpustakaan, sesampainya aku di depan gedung kau sedang duduk sendirian di dekat pohon.

Kau menatapku sambil tersenyum dan berdiri. Kau menghampiriku. Kali ini wajahku datar dan tak menanggapi kedatanganmu. Kau tetap berdiri di depanku dan sekali lagi meminta maaf. Aku hanya tertawa terbahak-bahak lalu berkata, kau tak bersalah. Sudahlah, aku yang salah. Aku yang salah karna terlalu percaya pada katamu, apapun yang kau katakan.

Aku yang salah karna terlalu angkuh untuk peduli padamu dan aku yang bersalah karna terlalu jarang bersamamu. Aku senang melihatmu tertawa bahagia dengannya, bahkan menggenggam tangannya. Aku tak butuh penjelasan, aku tahu kau terlalu bersukacita ketika dengannya. Semuanya aku pelajari ketika melihatmu selalu tersenyum hingga tertawa padanya. Aku tak ingin bertanya apapun lagi mengenai gadis itu. Tolong katakan padanya, bahwa jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai dikhianati sepertiku.

Aku pergi tanpa memandangmu. Aku pun merasa geli pada diri sendiri yang berkata sebanyak itu padamu, hingga aku tertawa dalam diam sepanjang perjalanan pulang. Kau mengikutiku dengan berjalan di belakangku, tanpa aku ketahui. Aku curiga ketika menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutiku, ketika aku menoleh ternyata kau.

Kau masih tersenyum dan kembali menghampiriku. Kau memintaku untuk sebentar saja berbicara denganmu. Baiklah, aku mengangguk dan kita mencari tempat yang bisa kita singgahi sekedar untuk berbicara. Kali ini, kita sudah berhadapan. Rasanya ingin sekali aku memaki-maki, namun aku takut berdosa dan takut menyakitimu dengan setiap makian. Syukurlah, aku masih bisa mengendalikan diri dengan baik.

Kau menawarkan minuman, yang dengan cepat aku tolak. Kau membuka percakapan kita lagi, aku bersalah. Aku yang bersalah, karna aku biarkan dia datang dan betah. Aku juga sudah terbiasa dengan kedatangannya, karna itu maafkanlah aku.

Aku menatapmu begitu lama dan menyadari bahwa sekarang kau sedang mengakui bahwa gadis itu adalah yang kau butuhkan. Aku tahu, makanya aku bilang padamu untuk bilang padanya bahwa jaga dirimu baik-baik. Sebab orang sepertimu yang kelihatannya sangat baik dan jujur pun, bisa berkhianat dengan sangat nyata, jawabku.

Aku rasa bahwa tak ada apapun lagi yang bisa aku katakan, hingga aku pamit. Kau bahkan tak menawarkan jasa hanya untuk membantuku menemukan transportasi umum yang sering aku tumpangi. Langkahku mantap meninggalkanmu bahkan tak menatapmu sedikitpun.

Hampir sebulan kejadian itu mengikis keberanianku untuk bertamu di perpustakaan. Aku hanya tak rela membiarkan mataku menatapmu bersama teman gadismu itu di sana. Ibuku memanggilku yang tengah di dapur, bahwa temanku sedang bertamu.

Ternyata kau punya keberanian untuk bertamu di rumahku. Aku menatapmu heran yang datang tak tahu dengan tujuan apa. Tujuanmu masih sama, yaitu hutangmu menjelaskan apa yang aku lihat di tempat kesukaan kita, tentu saja perpustakaan. Penjelasanmu jelasnya mengarah pada suatu ruang kosong di hatimu yang tempatnya tak bisa diisi olehku.

Gadis itulah yang mampu memenuhinya. Sekali lagi, aku tak berusaha meredam amarah. Sekali lagi aku hanya menatapmu dan mendengar setiap kalimat beruntun yang menjadi penjelasanmu. Yang paling aku ingat kau berkata bahwa aku terlalu membiarkanmu bebas, hingga kau tak bisa terkendali untuk menyukai dan menaruh hati pada orang lain. Jadi apakah ini salahku?

Bila aku terlalu membuntutimu, aku sendiri merasa terbeban. Aku hanya sedang percaya pada apapun yang kau lakukan, tanpa pernah memiliki prasangka buruk sekalipun. Pikirku, kau hanya sedang membenarkan alasanmu yang sudah jelas menunjukan ketidakjujuranmu untuk menjaga kepercayaanku.

Percaya itu mahal, kak. Bila kau nodai percayaku padamu, bagaimana mungkin aku mampu percaya padamu lagi?. Setelah kejadian itu, aku hanya sedang memperbaiki rasa percaya pada siapapun.

Teruntuk kau yang dahulu paling aku percaya; aku tak tersakiti, sekalipun aku tak merasa tersakiti. Kau punya kehendak bebas untuk pergi sesukamu, dan aku bahkan tak punya kuasa untuk memintamu tinggal.

Aku hanya terkejut ketika rasa percayaku kau nodai dengan hal yang sungguh membuatku tertegun. Aku tahu tawamu dengannya adalah berbeda dengan tawamu bersamaku. Tawamu bersamaku hanyalah tawa tertipis, sebaliknya ketika kau dengannya. Tawamu begitu tebal hingga terdengar nyaring di hadapanku.

Namun lewat tulisan ini, aku ingin mengatakan terima kasih banyak untukmu. Kau telah menyadarkanku untuk hanya percaya pada siapapun nanti dengan kadar "seperlunya saja". Kau justru mengajarkanku bahwa yang aku pikir terbaik pun, punya peluang untuk pergi dengan sebuah pengkhiatan. Kau mengajarkanku bahwa kesetiaan dan kejujuran adalah hal paling berharga dalam hidup ini.

Seringkali aku merasa bahwa akulah yang bersalah, namun aku pikir apapun yang aku lakukan kepadamu adalah benar. Aku tak ingin menjadi orang yang mengikutimu kemanapun kau pergi, aku merasa bahwa kau butuh waktumu sendiri dan hubungan kita bukan sekedar rindu labil yang selalu menuntut bertemu.

Aku rasa bahwa kau memperingatkanku untuk lebih percaya pada diriku sendiri dengan apapun yang aku lihat dan curigai, karna rasanya aku dihadiahi oleh Tuhan untuk mampu berprasangka atas seluruh kejadian yang aku lihat. Dan ya, kesempatan kedua memang selalu menjadi solusi untuk sebuah pengkhianatan. Tapi aku rasa, hati ini butuh bernapas untuk setiap kejadian yang membuatnya mengunci diri.

Hatiku butuh menyembuhkan diri, dan caranya adalah dengan melenyapkanmu seketika dari hariku. Karnanya aku telah menolak untuk melestarikan kesempatan kedua yang memberikan peluang yang sama untukmu, untuk melahirkan pengkhianatan-pengkhianatan terbaru berikutnya.

Salamku untuk gadis barumu, terima kasih karna telah mengisi ruang kosong dalam hidupmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya