Memang mungkin cinta datang dan pergi, tapi apa kau tahu hati butuh waktu untuk dibenahi? Dia yang pernah kutemani dengan segala ketidak punyaan sampai pada tahta kejayaan. Mendadak kau kemas dalam hati yang tak sama lagi. Aku yang pernah berjalan beriringan dengannya, kemudian sesekali kupelankan langkah untuk menyeka airmata hanya untuk membuat dia tak melihat, bahwa aku pernah terluka dalam sunyi yang tak kusampaikan pada semesta demi tetap mencintai dia.

Kau mana tahu bahwa mendaki dari bawah bukan soal mudah. Sesekali tali hati yang kugenggam menyayat dan melukai sampai berdarah dengan perdebatan dan rasa cemburu yang selalu kusimpan sendiri, dan dalam pedih yang hanya bisa kusampaikan pada Tuhan. Kemudian dengan cinta yang sabar kusembunyikan bagian-bagian dari diriku yang terluka saat mempertahankan dia.

Kau mana tahu bahwa aku pernah merasa punya seperti tak punya saat dia sibuk menata mimpi yang katanya dulu ada aku diletakan dia di dalamnya.

Kau mana tahu aku pernah hanya bisa berbincang dengan bayang, menabung rindu pelan-pelan sambil berbisik pada Tuhan agar dia tak lupa menjaga lelaki yang entah sedang menggapai mimpi seperti apa. Tak apa Tuhan, dia lupa memberi kabar asal jangan lupa makan.

Kau mana tahu bahwa aku pernah tak peduli itu terik atau hujan, asal bisa menemui dia dalam sisi gelapnya untuk sekedar memeluk dan bilang semua akan membaik seiring berjalannya waktu.Tanpa peduli di waktu yang sama aku juga sedang tak baik-baik saja.

Advertisement

Kau mana tahu bahwa dia pernah memintaku menunggunya, memantaskan diri agar bisa terus mendampingiku. Dia pernah meminta untuk tak pernah kutinggal meski cuma sebentar. Katanya, aku cuma perlu menunggu waktu sampai bisa dijadikannya wanita paling bahagia. Kau mana tahu.

Bukankah sebagai sesama kau harusnya mengerti bahwa wanita mudah memberi seluruh hati pada cinta yang dianggapnya tak akan pernah mati?

Sudah seberapa hebat kau rasa pesonamu? Datang, merusak, dan mengambil apa yang kubangun pelan-pelan dengan sebagian airmata yang kusudutkan dalam diam. Mungkin memang bagimu cinta tentang memilih dan mengambil yang terbaik tanpa memikirkan apa yang membawanya sampai pada titik yang paling kau ingini. Tanpa kau tahu, mungkin sudah banyak yang ditukar perempuan sebelumnya demi bisa melihat lelakinya bahagia. Untuknya aku siap menukar apa saja asal bukan cinta.

Bagaimana jika kita bicara tentang karma yang ramai digaungkan manusia setiap waktunya. Tak takutkah kau bila ini terjadi pada anak perempuanmu? Semoga tidak, jangan sampai. Dia tak tahu apa-apa.

Dan untukmu lelakiku dulu. Tak perlu banyak penjelasan, karena bagiku tak ada alasan yang tepat untuk sebuah perselingkuhan. Apa yang salah dalam diriku? Kau kan sudah tahu, untukmu aku siap kau rubah jadi perempuan yang paling kau mau. Bukan yang kau tinggal saat apa yang kamu impikan tak ada dalam diriku. Sadarkah kau bahwa hubungan yang hebat itu dibentuk bukan ditemukan? Atau paling tidak kau bisa pamit dengan sopan sebagai lelaki. Bukan pergi begitu saja seperti pencuri.

Kau bukan lagi anak-anak yang melempar mainannya saat sudah bosan. Membantingnya dengan harapan dibelikan yang baru. Atau menyimpannya dalam gudang dan sampai kapanpun kau tak akan pernah datang. Kau lelaki dewasa yang tahu cara memperlakukan manusia sebagaimana mestinya. Atau sudah bekukah kata pamit dalam lidahmu? Atau cintamu yang baru membuatmu tak lagi tahu bagaimana caranya menggunakan hati?

Lalu Bagaimana kalau kita bicara tentang tukar posisi? Kau yang ada sejak pertama sampai jadi yang utama lalu berubah jadi yang paling tak punya arti apa-apa. Kau yang paling setia lalu hanya dijadikan bahan bercanda. Kau yang selalu ada dalam setiap suasana hatinya tapi ditinggal begitu saja? Kau mana tahu rasanya.

Tapi cukuplah penyesalanku telah mengenalmu. Karena bagaimanapun juga di dadaku kamu pernah jadi yang sangat berharga. Aku hanya ingin mengambil hati yang pernah kuberikan padamu. Mungkin sudah rusak, aku akan berusaha memperbaiki sendiri. Menunggu yang paling baik yang Tuhan Siapkan untukku. Dia yang nantinya datang dan tak akan pergi lagi.

Dan dia yang kini memeluk erat lenganmu seperti balita yang tak ingin coklatnya direnggut paksa. Kuharap dia selalu bisa membuatmu tertawa bahagia. Bukan malah mengacak mimpi yang sebelumnya kau bangun dengan susah payah.