Hai Mas, apa kabar?
Apa marahmu sudah reda? Apa emosimu juga sudah kunjung reda?
Semoga. Semoga kini hujan emosi dan amarahmu sudah kunjung reda ya. Aku menantikan pelangi indah yang perlahan lahan terbit di kedua sudut bibirmu 🙂

Awal kenapa wajahmu diselimuti mendung dan akhirnya hujan emosi pun turun dengan begitu derasnya pada dirimu adalah gegara kesalahanku. Karna keegoisanku, karna aku tak mampu mengontrol emosiku. Aku , iya aku selalu menyulut emosimu dengan amarah yang selalu meradang dan tak tahu cara menahan amarah itu. Amarahku kali ini yang cukup begitu meradang menerbitkan pertengkaran hebat diantara kita. Aku yang keras kepala yang tak pernah mau menahan emosi dan keegoisanku harus merasa kalah karena dirimu, iya dirimu Mas mengalami puncak hujan emosi yang begitu deras dan sulit untuk diredakan.

Maafkan aku ya Mas, aku benar-benar merasa menyesal atas peristiwa yang terjadi pada hubungan kita saat ini. Semoga setelah kau baca tulisan yang mungkin menurutmu tak begitu penting ini emosimu segera reda dan paling penting mau memaafkan kebodohan yang telah aku lakukan padamu 🙂

Dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku masih mencintaimu Mas, dan berharap kau masih mau kembali bersamaku memperbaiki hubungan ini. Dan mengajariku menjadi orang yang lebih baik lagi.

Dari aku, Nona yang senantiasa mencintaimu dan menyayangimu Mas. . .