Perang saudara antara pasukan pemberontak dengan pasukan militer rezim Bassar Al Assad telah sampai pada titik di mana pasukan pemberontak mengalami penurunan kekuatan dalam perlawanan mereka.

Baru – baru ini menurut para anggota Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris melaporkan bahwa militer Syria sedang melakukan invasi pada beberapa lokasi dalam usahanya untuk mengambil alih kembali bagian timur dari ibukota Damaskus. Pasukan pemerintahan sudah menguasai 25 % dari area yang ditargetkan. Konvoi dari pasukan perdamaian PBB juga yang berencana untuk turut mengawasi area itu pun tidak diijinkan masuk oleh pasukan pemerintahan.

Advertisement

Gempuran demi gempuran senjata berdaya ledak maupun rentetan peluru dari senapan laras panjang dari kedua pasukan pemberontak dengan pasukan pemerintahan sejak 18 Februari 2018 ini saja sudah menewaskan 600 korban jiwa hingga sekarang. Ironisnya, kebanyakan yang meninggal dari warga sipil Syria adalah mereka yang masih tergolong anak – anak.

Dari gencatan senjata yang terus berlanjut selama 5 hari yang didalangi oleh Rusia dan dibantu pasukan pemerintahan Syria ini adalah merupakan yang terparah. Dan PBB juga mengusahakan berbagai cara untuk mengawal para warga sipil untuk mendapatkan wilayah kosong yang bisa mereka jadikan tempat mengungsi.

PBB juga mengatakan bahwa sejumlah hukuman yang diberikan kepada warga sipil Syria oleh pasukan pemerintah Bassar Al Assad ini sangat tidak bisa diterima. Bantuan kemanusiaan dari PBB yang diangkut oleh 40 truk untuk para warga sipil pun juga gagal dikirimkan ke lokasi setelah mendapatkan hadangan dari pasukan pemerintahan di kota Douma.

Advertisement

Bahkan koordinator wilayah bidang kemanusiaan PBB mengatakan bahwa dirinya hanya bisa melihat berlajutnya gencatan senjata dari hari ke hari, berjumlahnya jumlah korban jiwa yang meninggal dan bertambahnya laporan soal krisis kelaparan dan rumah sakit – rumah sakit yang hancur. Saat ini kurang lebih 393.000 warga sipil tengah terjebak oleh kepungan pasukan pemerintahan.

Mendapat tekanan terus-menerus dari pasukan pemerintahan, menurut laporan dari pihak oposisi dan jurnalis setempat setidaknya ratusan warga sipil tengah melarikan diri keluar dari area pemboman di Beit Sawa, bagian selatan Douma, dan juga di wilayah pinggiran di Ghouta Timur. Tujuan pengungsian mereka adalah sebuah wilayah kosong yang merupakan lahan pertanian yang luasnya kurang lebih hampir sama dengan luas kota Manchester di Inggris.

Kebanyakan dari warga sipil yang mengungsikan diri ini adalah wanita dan anak – anak yang menuju area kosong lahan pertanian untuk mencari perlindungan. Gencatan senjata dengan intensitas yang terus meningkat setiap harinya terjadi di wilayah Beit Sawa, yakni antara pasukan pemerintahan dengan pasuka dari Islamist faction Jaysh Al – Islam yang masuh cukup mendominasi wilayah Ghouta Timur. Hayat Tahrir Al – Sham yang merupakan seorang anggota aliansi jihad dimimpin oleh mantan militan Al – Qaeda juga ikut dalam perlawanan ini.

Menurut laporan dari media BBC, jurnalis telah menghimpun beberapa laporan dari warga sipil, pasukan pemberontak maupun jurnalis lokal Syria bahwa pemerintah Bassar Al Assad tengah membagi area serangan pasukannya menjadi dua bagian. Sejalan dengan laporan dari media lokal Syria, pasukan pemerintah telah berhasil menguasai beberapa wilayah pedesaan dan wilayah pertanian sedangkan di sisi lain pasukan pemerintahan juga tengah menyerang dari wilayah timur dari lahan pertanian yang merupakan tempat tujuan para pengungsi. Menurut laporan dari Syrian Observatory of Humanitarian yang berbasis di Inggris, saat ini pasukan pemerintah hanya berjarak 3km dari kota Douma.

Pasukan pemerintahan Syria telah terbukti melakukan kejahatan perang dengan target para warga sipil yang tidak bersenjata, namun mereka berkilah bahwa ini adalah bagian dari usaha pembebasan wilayah dari teroris ISIS yang juga sempat merangsek masuk ke wilayah negara Syria. Seperti yang diketahui, Aleppo pernah digempur pasukan ISIS saat itu,

Melalui komunikasi telepon pada hari minggu 4/3/2018 Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Theresa May sepakat bahwa pasukan pemerintahan Syria dan Rusia telah menyalahgunakan tanggung jawab mereka sebagai pasukan militer dalam suatu peperangan. Terkait dengan penderitaan dari krisis kemanusiaan yang sangat mengiris hati ini. Dan Donald Trump sendiri juga setuju bahwa Rusia harus segera membujuk Bassar Al Assad agar menghentikan aksi bombardirnya.

Nasib para warga sipil di Syria saat ini sedang berada di ujung tanduk. Antara melawan sekuat tenaga atau penuh harap agar mereka bisa menyelamtkan diri beserta anak keturunan dari kekejaman rezim ini sejauh mungkin walau harus keluar dari tanah air mereka sendiri. Andil PBB sebagai mediator sangat dibutuhkan di situasi sedarurat ini. Bukan atas nama kewenangan, namun atas nama kemanusiaan yang semakin tidak mendapatkan kemerdekaan yang sebagaimana mestinya.

Artikel ini saya buat dengan mengutip sumber berita dari link ini

http://www.bbc.com/news/world-middle-east-43277856

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya