Dengan meraih beberapa kategori piala Oscar pada tahun 2008 dan menyabet 13 nominasi Academy Awards, termasuk Best Picture, Best Director untuk David Fincher, Best Actor untuk Brad Pitt, serta Best Supporting Actress untuk Taraji P. Henson, Film The Curious Case of Benjamin Button layak menjadi list untuk film bergenre drama meskipun waktu pembuatannya 2008 lalu. Penggambaran setiap tokoh, alur cerita, waktu dan tempat sangat baik dikelola dan dikonsep oleh David Fincher. Apa yang membuat film The Curious Case of Benjamin Button layak menjadi ditonton? Plot yang berbeda dan cerita yang berbeda dari film-flm drama lainnya menjadi nilai plus tersendiri.

The Curious Case Benjamin of Button mengambil ide dari cerita pendek yang berjudul sama karya F. Scott Fitzgerald yang termuat dalam buku Tales of the Jazz Age (1921). Sekali lagi, film ini hanya mengambil ide utamanya saja yakni seseorang yang lahir dari kondisi tidak normal, yaitu lahir dengan kondisi tua. Dan semakin bertambah usianya, bertambah muda juga orangnya.

Advertisement

Cerita dimulai di sebuah rumah sakit New Orleans, pada bulan Agustus 2005, Daisy yang sudah tua terbaring lemah di salah satu bangsal rumah sakit ditemani anaknya Caroline. Daisy memulai cerita tentang seseorang yang bernama Mr. Cake yang bertugas untuk membuat sebuah jam di stasiun kereta api di New Orleans. Setelah menerima berita kematian anaknya di medan perang, dia bekerja siang dan malam membuat jam, dan sengaja merancang waktunya mundur ke belakang, dengan harapan bahwa waktu akan membawa kembali orang-orang yang meninggal dalam perang.

Lalu Daisy meminta Caroline untuk membacakan buku hariannya yang berisi foto dan kartu pos yang ditulis oleh Benjamin Button. Caroline mulai membaca cerita sebagai transisi ke Benjamin sebagai titik cerita utama.

Lahir berbeda, dengan penampilan seperti orangtua, membuat ayah Benjamin (Thomas Button yang merupakan penguasaha kancing baju) tak sudi untuk melihatnya. Ditambah istrinya meninggal saat melahirkan Benjamin. Akhirnya, ayahnya meninggalkan Benjamin di depan sebuah panti jompo. Oleh Queeine, Benjamin diambil dan diurus sebagai anaknya sampai dewasa. Penampilan dan kondisi fisik yang tua namun memiliki pemikirian layaknya seorang balita membuat Benjamin tidak bisa menjalani kehidupan normalnya saat itu. Untungnya, dia bisa diterima dengan baik di lingkungan di mana dia tinggal.

Advertisement

Selanjutnya selain disuguhi penggambaraan Benjamin ketika fisiknya sudah mulai muda, kita diajak untuk melihat Benjamin dalam meraih cintanya dengan Daisy yang pada waktu itu berumur 7 tahun. Daisy merupakan cucu dari salah satu nenek yang tinggal di panti jompo tersebut. Ketika kondisi fisik orang-orang di sekitarnya beranjak menua, Benjamin malah sebaliknya. Kondisi fisiknya makin bugar dan muda, meski secara kepribadian dia ikut menua.

Awal pertemuannya dengan Daisy merupakan scene pembuka untuk masuk cerita yang lebih dalam. Setelah semakin hari semakin muda penampilan dan kondisi fisiknya, Benjamin memtuskan untuk pergi dari panti jompo dan memutuskan untuk mencari pekerjaan. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai awak kapal tunda yang dinahkodai oleh Kapten Mike Clark. Setelah pecahnya perang dunia II, kapal tunda yang menjadi pekerjaan Benjamin harus merelakan kapalnya untuk ikut berperang. Benjamin dan seluruh awak kapal juga ikut berperang.

Sampai akhirnya, saat melakukan patroli, mereka menemukan kapal-kapal yang tenggelam bersama pasukan Amerika Serikat. Tidak lama setelah itu, muncullah kapal selam Jerman dan mulai menyerang kapal Benjamin. Sementara seorang penembak Jerman menembak kapal Mike, dan menewaskan sebagian besar awak kapal, termasuk Kapten Mike. Kapal tunda itu menabrak kapal selam Jerman, menyebabkan kapal selam tersebut meledak dan menenggelamkan kedua kapal. Benjamin dan awak kapal yang tersisa diselamatkan oleh kapal Angkatan Laut Amerika Serikat keesokan harinya.

Tahun 1945, Benjamin kembali ke New Orleans dan kembali bertemu dengan Thomas Button dalam kondisi yang sekarat. Thomas akhirnya mengatakan ke Benjamin bahwa dia ayah kandungnya dan berniat memberikan seluruh aset kekayaannya ke Benjamin, termasuk rumah keluarga Button serta pabriknya. Lalu seketika Benjamin berubah menjadi orang kaya.

Di satu sisi, Daisy menjadi penari balet sukses di New York City. Ketika Benjamin melakukan perjalanan ke New York untuk memenuhi undangan Daisy. Nasib berkata lain, Daisy telah jatuh cinta dengan teman seprofesinya. Tidak lama setelah itu, Daisy mengalami kecelakaan pada saat tur wisata di Paris. Seketika, karier tari baletnya berhenti total karena kakinya patah. Benjamin mendengar berita itu dari salah satu temannya dan langsung melakukan perjalanan ke Paris mencari Daisy. Daisy yang terkejut melihat Benjamin tidak kuasa menerima Benjamin dengan kondisi yang sekarang, ia menyuruh Benjamin untuk pergi.

Pada tahun 1962, Benjamin kembali ke New Orleans dan bertemu dengan Daisy lagi. Mereka jatuh cinta kembali karena posisi mereka menjadi seumuran dan kondisi Daisy sudah membaik dan dapat melakukan hal-hal normal, kecuali menjadi penari balet lagi. Kemudian Benjamin menjual rumahnya yang diwariskan oleh Thomas Button dan pindah ke sebuah apartemen dengan Daisy. Karena kondisi kaki yang tidak memungkinkan untuk menjadi penari balet lagi, akhirnya Daisy membuka sebuah studio tari balet.

Setelah beberapa tahun berlalu hidup dengan Daisy, akhirnya mereka mempunyai anak perempuan dan dinamailah anak perempuan itu Caroline. Namun, seperti dugaan Benjamin, Benjamin bertambah muda sedangkan Daisy tumbuh menjadi tua.

Di situ Benjamin merasa pesimis dan tidak percaya bisa menjadi “ayah” karena dia tidak pernah merasakan bagaimana ia dibesarkan oleh ayah kandungnya dan terus menjadi muda serta tidak tahu bagaimana jadinya, jika anaknya tahu bahwa bocah laki-laki yang bermain bersama dirinya adalah ayahnya sendiri. Maka dari itu Benjamin memutuskan meninggalkan Daisy dan meninggalkan harta benda dan aset untuk Daisy dan Caroline.

Benjamin menjadi lebih muda dan melakukan perjalanan ke berbagai negara di seluruh dunia. Pada tahun 1980, dia kembali sekali lagi, seperti umur 25 tahun dia bertemu lagi di Daisy studio tari. Pada saat itu Daisy telah menikah dengan seorang duda dan saat itu Caroline berumur 12 tahun. Daisy memperkenalkan suaminya dengan Benjamin dan anak perempuannya sebagai teman lama keluarga. Daisy kemudian bertemu dengan Benjamin secara pribadi di hotel dan berbagi semangat mereka untuk satu sama lain. Saat itu, Daisy menjadi sangat tua untuk Benjamin.

etapi Benjamin terus tumbuh sampai muda dan sampai menjadi remaja. Lalu Daisy pindah panti jompo tempat di mana Benjamin dibesarkan. Alangkah terkejutnya pada saat itu, Daisy menemukan Benjamin menjadi seorang anak kecil yang berumur 8 tahun. Dan dengan sabarnya Daisy merawat Benjamin seperti anaknya sendiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya