Selama ini, aku lebih dikenal sebagai pendengar yang baik. Aku suka menjadi pendengar yang mendengarkan curahan hati orang lain dibanding harus diminta menceritakan kehidupan pribadiku. Karakter diriku yang seperti itu bukan karena aku berusaha menutupi kisah hidupku, hanya saja aku sangat berhati-hati dengan siapa aku membuka diri karena aku kurang begitu suka dikasihani ataupun dihakimi. Aku lebih banyak bercerita keluh kesahku dengan sang Maha Kuasa…

Tulisan ini adalah kisahku dengan sang Maha Kuasa dan juga kisahku dengan Bapak Kandungku. Aku tidak tahu ceritaku ini nanti akan membuat diriku tampak menyedihkan atau tidak bagi orang lain yang membacanya. Ini pertama kalinya aku membagikannya secara terbuka kepada public. Baiklah, aku akan langsung saja bercerita…

Advertisement

Aku lahir dan dibesarkan oleh kedua orangtuaku yang sama-sama memiliki karakter yang keras. Mereka sulit sekali dalam mengontrol amarah, terutama Bapak. Bapak lahir di Sumatera Utara dibesarkan dalam keluarga sederhana dan di didik cukup keras oleh Kakek dan Nenek.

Mengingat cerita Bapak, sejak kecil Ia bercita-cita ingin sukses merantau dan membuat orang tuanya bangga. Dengan restu dari orang tuanya dan tekad yang kuat merantaulah Ia ke pulau Jawa, tepatnya ke Bogor. Disana Ia kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta fakultas Ekonomi dan mengambil jurusan Akuntansi. Singkat cerita, Ia akhirnya sukses meraih mimpinya menjadi seorang sarjana Ekonomi. Ia juga menjadi sarjana muda pertama di kampung halamannya. Kakek, Nenek dan saudara-saudaranya pun bangga. Kisah suksesnya berlanjut ketika Ia diterima bekerja di salah satu perusahaan semen ternama. Dari hasil kerja kerasnya, Ia dapat menafkahi keluarganya di kampung dan menyekolahkan keponakan-keponakannya. Maklum pada saat itu, Ia anak lelaki yang paling tua, Ia terbeban ingin mensejahterakan kehidupan keluarga besarnya. Mendengar ceritanya, dalam hati aku tersentuh dan turut bangga padanya. Tidak hanya itu saja, semasa muda Ia juga aktif dalam berorganisasi, Ia mendirikan perkumpulan pertama muda mudi orang Batak di kota Bogor. Disanalah, Bapak bertemu dengan Mama dan akhirnya menikah lalu dikarunia 4 orang anak.

Kesuksesan dalam karir dan rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap orang-orang yang dikasihinya memberikan tekanan tersendiri dalam dirinya. Kesibukannya terkadang membuat Bapak kesulitan mengontrol amarahnya. Ia menjadi mudah marah, terutama di rumah. Aku tidak ingat kapan pertama kali aku melihat Bapak marah. Namun yang paling membekas diingatanku adalah saat Ia marah dengan Mama. Mereka bertengkar hebat. Aku tidak tahu pasti apa penyebab mereka bertengkar, saat itu aku masih kecil untuk dapat memahami itu. Yang kuingat hanyalah kejadiaannya saja, Bapak marah kemudian merusak barang-barang yang ada di rumah, melukai hati Mama dengan kata-katanya yang kasar bahkan juga melakukan sedikit kekerasaan.

Advertisement

Seiring bertambahnya usiaku, Bapak semakin sering sekali marah-marah, tidak hanya di rumah tapi juga saat di dalam mobil, di tempat makan bahkan jika hanya sedang duduk ngobrol di ruang tamu. Tidak hanya Mama, aku dan 3 saudaraku pun sering sekali dimarahi. Kondisi emosional Bapak membuat aku sangat tertekan. Aku memang masih belasan tahun tapi aku sudah mulai dapat memahami situasi apa yang terjadi. Rasanya seperti sedang berada di neraka.

Aku mulai malas untuk berada di rumah, aku selalu pulang ketika hari sudah larut malam. Aku pun malas untuk berdekatan dengan Bapak, pergi makan dengannya bahkan walau hanya duduk untuk mendengarkan ceritanya seperti biasa. Saat itu, pikiranku hanya satu bahwa aku sudah kehilangan sosok seorang Ayah yang seharusnya menjadi panutanku. Dampaknya, Bapak menjadi orang asing bagiku. Dalam jangka waktu yang lama aku tidak bertegur sapa dengannya.

Berjalannya waktu, aku mulai memasuki jenjang perkuliahan. Secara tidak sengaja aku mengikuti retreat persekutuan agama di kampusku melalui acara tersebut Tuhan banyak menegurku. Aku menangis terisak-isak saat diingatkan oleh Firman Tuhan bahwa seorang anak harus menghormati orang tua sesulit apapun karakternya.

Berbekal teguran itu, hatiku mulai dilembutkan. Aku mulai belajar memaafkan Bapak dan menerima kekurangan yang ada pada dirinya. Aku mulai kembali mengobrol & mendengarkan ceritanya. Aku mulai berinisiatif mengajak anggota keluargaku yang lain untuk mau ikut berkontribusi menjaga keutuhan keluarga seperti memberikan perayaan kecil saat ulang tahun Bapak. Aku masih ingat, mata Bapak basah karena terharu bahagia saat mendapatkan kejutan tersebut. Aku tahu, Ia memiliki hati yang sangat lembut.

Apa yang sudah kulalui membuatku menyadari bahwa melalui campur tangan Tuhan bukan hanya relasiku dengan Bapak saja yang dipulihkan akan tetapi Tuhan juga memulihkan kepahitanku dengan cara memberikanku hati yang baru sehingga aku dapat mengasihi Bapak sebagaimana dirinya. Dari kisahku ini juga, aku menjadi pribadi yang dewasa, kuat dan tangguh. Meskipun sampai saat ini, terkadang Bapak masih tidak bisa mengontrol emosinya. Aku mulai bisa mengontrol perasaanku sendiri agar tidak memasukkannya ke dalam hatiku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya