Mari bergembira setelah melewati bulan Februari dan segala agendanya. Lalu sambutlah dengan senyuman Bulan Maret yang penuh harapan. Setidaknya harapan itu belum untuk kembali jatuh hancur berserakan. Tak perlu bersedih sendiri, ada juga kok yang seperti kamu sedihnya. Menatap jendela dengan rintik rintik hujan dan embun untuk dituliskan nama nama yang tak bisa digenggam tangannya, iya itu kamu. Hujan selalu suka seperti itu, kepada orang orang yang dipenjara kenangan dan diberi makan oleh harapan.

Advertisement

Menurut ilmu cuaca dan iklim dan fatwa beberapa pakar yang bersankutan bahwa untuk daerah tropis seperti Indonesia, masa masa musim penghujan semestinya sudah mendekati akhir. Tetapi kamu tetap saja belum menjadi ingatan yang terakhir, baginya dikala malam akan berakhir. Dimulai dari Bulan Oktober hingga Maret, awan awan tebal membumbung hitam dan berisi air semestinya terjadi. Kadang ada yang melebihi, tetapi juga tak begitu banyak mengambil. Tak seperti kamu yang terlalu berharap lebih dan kecewa juga ikut berlebih.

Hujan hujan memang begitu menenangkan, terkadang. Memang tak semua waktu ketika hujan begitu senyap hanya meninggalkan air di permukaan dan tetesan air di pipi kiri dan kanan. Ketika hujan juga kadang ada Guntur dan pentir yang ikut serta. Mereka bersamaan datang. Bergantian menghujam bumi. Lalu bersama sama lagi pergi. Setelah hujan itu reda, tersisah awan kecil dan titik cahaya yang indah, menyinari dirimu yang termenung di terminal ketika sepasang muda mudi sedang asyik asyiknya hujan hujanan lewat didepanmu silam. Anehnya, kamu hanya bisa mengenang atau kamu hanya memimpikan?

Advertisement

Hujan bukan awal dari suatu bencana, hanya saja manusia tak cukup sadar untuk mengetahuinya. Bukan banjir atau longsor adalah dampaknya. Tetapi bunga dan tanaman yang hidup oleh karenanya. Tak melulu bunga yang kembali hidup dari layunya, beberapa dari kita hidup oleh kenangan yang terbawa olehnya. Larut bersama aliran aliran air dan tenggelam dalam memori yang tak bisa terulang lagi. Sekilas mengulas balik masa silam dalam kebahagiaan yang dihantarkan seketika oleh debit air yang berjatuhan dari atap ke lantai. Sekilas pula masa bahagia tak berakhir semestinya dan dihapus oleh debit air mata yang berjatuhan dari kelopak kedua bola mata.

Kenangan tanpa permisi bertamu lagi. Ia kehujan di luar dan mengetuk rumah hati. Terbukalah pintu hati karena ternyata kenangan yang memiliki kunci. Sempat berbincang sebentar dalam keindahan yang tak lagi hakiki. Awalnya memberi tawa dan ceria, lalu ada juga yang sedih dan derita. Mentari kembali mengintip dari kumpulan awan hitam yang perlahan pergi.


Tanpa permisi, kenangan kembali pergi. Menyisakan hati yang kembali mencari. Untuk kenangan yang sama atau setidaknya lebih baik lagi. Hujan selalu berperan, lalu ia diam sambil menertawakan orang orang yang tak pernah bisa bebas dari kenangan.


Oktober ke Maret adalah waktu yang singkat. Bagi kamu yang terlampau bahagia dengan segala kenangan yang tercipta. Oktober ke Maret juga adalah waktu yang sangat lambat. Bagi kamu yang terlampau nelangsa terpaku di bibir pantai derita, hanya bisa menatap saja. Sialan. Tentu saja tak ada yang ingin seperti ini. Mengekang dan mengebiri kebebasan diri. Keindahan kadang berdusta, apalagi itu sudah tercipta. Tersimpan dalam cerita seolah dapat kembali menyapa. Terdiam oleh pancaran ronanya dan kembali kaku tak melangkah ketika hujan tiba. Kenangan kadang menyiksa.

  

Sambutlah bulan Maret. Setidaknya jika isu pemanasan global dan iklim yang tak dapat diprediksi adalah hal yang tak berpengaruh, mungkin ini adalah awal dari musim yang lain. Bukan musim hujan selalu membawa kenangan. Musim yang hangat, bunga menari dan kupu kupu saling terbang kesana kemari tanpa perlu tertawa. Ini adalah awal yang bagus untuk kembali memasang wajah gembira. Berlalulah sudah segala air dan tetesan rembesan yang berasa asin itu.

Putar kembali kemudi dan belokkan ke taman safari. Menikmati indahnya cahaya terang dan berseminya bunga bungaan. Kalaupun bisa, bersemilah juga hatimu yang telah lama usang. Agar tak melulu ikut ikutan membuat kata kata recehan tentang sayatan sayatan menyobek perasaan.


Ya sudahlah kalau rindu itu berat, berat badanmu juga lebih berat kok dan kamu biasa biasa saja. Makan lagi aja. Memang tumbuh itu kadang juga perlu kesamping, biar nanti yang duduk sama kamu hanya ada dia dan tak ada yang lain.


Ucapkan selamat tinggal kepada musim hujan. Berterimakasihlah karena sudah merawat tanaman beberapa orang. Tak perlu minta maaf kalau kamu tiba tiba melankolis ketika hujan, kamu memang lemah. Itu saja. Di sisa sisa hujan yang ada, jangan lupa untuk membawa payung atau jas hujan. Biar kamu mantap melangkah mesti diguyur olehnya.

Tapi kalau lebat, ya silahkan juga untuk menunggu reda di tempat yang tersedia. Jangan menunggu hujan untuk teduh, karena teduh hanya untuk payung, hujan itu reda. Seperti kenangan yang juga mesti reda. Lalu sambutlah dengan semangat musim yang hangat.

Bersemilah kembali bunga bunga yang telah lama menguncup. Setelah akhirnya segalanya reda, buatlah kenangan yang sebanyak gemerlap bintang. Tak perlu susah menghitungnya yang penting menghiasi gelap malam dalam hidupmu.

Selamat tinggal musim hujan dan selamat datang kebahagiaan. Jangan lupa untuk untuk dikenang. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya