Orang bilang jangan terlalu membenci seseorang, karena jarak benci dan cinta itu sangat dekat. Benci lah sewajarnya saja dan cintai lah sewajarnya saja.


Perkataan itu terngiang di telingaku mengingat awal perjumpaan denganmu hanya di warnai rasa benci. Masih terlukis dengan jelas dalam benakku. Kala itu kita baru memasuki dunia putih abu-abu. Seperti judul sebuah sinetron. Mirip tapi tak sama. Ya begitulah. Kisah kita seperti mereka, namun bedanya cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan sementara kisah kita salah satu harus merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Dan untuk itu aku yang merasakannya.

Advertisement

Ya, perkataan itu benar adanya. Aku terlalu membencimu hingga lupa batasan antara benci dan cinta. Kini, aku harus menanggung semuanya. Terbelenggu dalam cinta yang semu. Cinta yang tak jelas harus merelakan atau menunggu. Hatiku berkata aku harus menunggumu, tapi otakku berkata relakan saja karna menunggu tak ada gunanya. Toh engkau di sana pun sudah bersama orang lain. Lalu apa lagi yang ku tunggu? Ntah lah, api harapan itu masih menyala. Walaupun berkali-kali ku siram dengan tekad untuk melupakanmu bagaimana pun caranya.

Kasih, kini kita terpisah oleh dua pulau yang sebenarnya cukup dekat. Hanya 45 menit jika ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang. Tapi apalah arti 45 menit itu jika hatimu terlampau jauh. Sangat jauh hingga aku tak bisa mengapainya.

Untukmu di Pulau Jawa, aku tidak pernah berhenti berharap untuk bisa bertemu denganmu. Ada kata yang tak sempat terucap. Tak banyak yang ingin ku katakan padamu jiika kita berjumpa kelak. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu. Tiada hari tanpa merindukanmu. Bertemu lewat mimpi pun aku sudah sangat senang. Jaga dirimu disana, karna aku tahu bagaimana kerasnya dunia sana. Jangan lupakan kewajiban mu sebagai seorang muslim terlebih kau seorang laki-laki yang kelak akan menjadi imam bagi keluargamu. Tetaplah menjadi laki-laki yang baik seperti yang ku kenal.

Advertisement


Berbahagialah dengan siapa pun yang akan mendampingimu kelak. Maaf jika rasa cintaku menjadi beban untukmu. Jangan ingat rasa cinta yang pernah ku berikan kepadamu. Karna rasa itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Biarlah hati ini ingin menunggumu hingga kelak ia bosan sendiri.


Terhitung sudah 7 tahun aku menunggumu. Hari ini, detik ini juga ku putuskan untuk mengakhiri penantian panjang ini. Bukan! Bukan karna aku putus asa. Karna aku sadar, seseorang yang ku tunggu tidak akan pernah datang. Aku hanya membodohi diri sendiri dengan mengatakan penantian ini akan berbuah manis, kesabaran ku akan terbayarkan, kau akan datang dan mencintaiku seperti aku mencintaimu.

Untukmu di Pulau Jawa, jika engkau membaca ini, ku ucapkan terima kasih untuk segalanya. Begitu banyak pelajaran yang telah engkau berikan. Terima kasih, Mr. K.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya