Musim gugur pertama ku terasa sedikit cerah, saat aku melihat sosok yang sepertinya akan memenuhi kriteria seorang laki-laki idaman selama ini aku bayangkan. Pada kesempatan itu kita tidak sempat berkenalan, namun momen itu cukup untuk membuat ku mengingat namamu. Sebegitu kagumnya aku, hingga tak pernah terpikirkan untuk berusaha mengontakmu di sosial media, hal yang pasti akan lakukan jika kamu ku anggap laki-laki dengan kualitas rata-rata.

Dalam hati bahkan ada sedikit keraguan, laki-laki seperti ini biasanya sudah menetapkan hati pada seorang wanita pilihan nya, dan aku pun merasa inferior mengingat betapa banyak nya kekurangan di diriku. Rasanya tak mungkin aku akan menarik perhatianmu.

Advertisement

Musim dingin pun tiba, pemikiran ku tak berubah sedikit pun. Hingga suatu hari ku beranikan bertanya pada seorang teman yang aku rasa punya sedikit info tentang dirimu. Saat itu aku tau bahwa kamu pun masih mencari pasangan dan ternyata kamu tau namaku. Perasaanku sungguh berbunga-bunga. Makan malam kita bertiga pun akhirnya terlaksana hingga akhirnya kamu mengirimkan pesan teks pertamamu kepadaku.

Dinginnya utara Inggris pun terasa pudar saat aku membaca pesan dari mu waktu itu. Setelah hari itu, kita memang tidak berkomunikasi secara intense tapi ku sangat menghargai ucapan baik yang selalu kamu sampaikan jika memang ada momen di media sosial yang aku posting. Itu saja sudah cukup rasanya.

Musim semi tiba, dan kamu mengajakku untuk bertemu. Kali ini hati ku merasakan harapan yang sebelumnya tak pernah aku berani bayangkan. Tidak ada hal yang spesial, obrolan kita pun masih dalam topik yang cukup umum, namun aku sangat menikmati waktu kita bersama. Kita bahkan bertemu lagi di musim panas, tidak ada perkembangan yang signifikan tapi kamu terbukti benar memiliki kualitas yang aku idamkan.

Advertisement

Di mata ku, kamu adalah lelaki pintar dengan pemahaman agama yang baik. Memiliki rencana dan tujuan hidup yang jelas namun juga terbuka atas perbedaan dan perkembangan. Kamu dihargai di lingkungan pertemananmu dan terlihat pandai menempatkan diri jika berada di lingkungan lain. Semua kualitas itu sudah cukup untuk membuatku bisa mengatakan kamu adalah calon suami yang baik.

Ku mulai sebut namamu dalam doa ku karena aku sungguh menyadari kekurangan ku yang bisa saja membuatmu menjauhi ku. Hingga sampai lah kita pada ujung musim panas tahun itu, dan bertepatan dengan hari ulang tahunku. Ku menerima sebuah kado manis darimu. Kebahagiaan di dalam dada ini rasanya sulit dipendam. Apakah mungkin kamu juga menyukaiku?

Aku memang bukan perempuan yang punya banyak kesabaran, terutama di momen seperti ini. Akhirnya tanpa berpikir panjang, aku langsung menanyakan maksud mu dan sedikit memaksa agar kamu memperjelas hubungan kita. Dan ternyata kamu belum disana. Belum di fase yang sama seperti perasaan ku kepadamu. Walau kamu berusaha memberikan jawaban yang bersifat menenangkan, hati kecil ku sedikit berbisik bahwa seharusnya aku tidak memaksamu. Ini tidak menunjukan arah yang baik.

Saat kita kembali ke tanah air, semua juga tidak mejadi lebih mudah. Aku sedikit lebih emosional dan menempatkanmu di posisi sulit. Kitapun sempat tidak berkomunikasi untuk sementara waktu.

Hingga akhirnya kamu kembali mengontak ku dengan cara yang sangat sabar. Akupun juga sudah sedikit lebih dewasa, dan kita pun bertemu kembali. Harapan itu seperti terbangun. Apa ini mungkin terjadi? Namun lagi-lagi ku melakukan kesalahan, berusaha untuk bertanya namun berakhir seperti memaksa. Sejujurnya, ku hanya ingin kejelasan mengenai perasaanmu.

Setelah suatu malam yang sebenernya cukup bisa dinikmati, namun aku akhiri dengan pernyataan yang sepertinya menyudutkan mu. Kita kembali menjauh. Aku pun tidak berusaha untuk bertanya lebih lanjut. Apa mungkin untukmu, momem kemarin adalah pembuktian bahwa aku bukan lah wanita yang kamu cari.

Dua bulan berlalu, pertanyaan itu terjawab. Kamu memajang foto itu. Kamu sudah melamar gadis lain. Kamu terlihat bahagia. Aku mungkin belum bisa ikut bahagia namun setidaknya pertanyaan itu terjawab.

Jujur, penialian ku terhadap mu tidak berubah. Ini hanya semakin membuktikan bahwa kamu benar seorang lelaki yang berani mengambil keputusan, paham atas apa yang kamu inginkan dan bertindak terhadap hal itu. Aku juga akan setuju jika ada yang mengatakan bahwa calon istrimu adalah perempuan yang beruntung, dan aku juga yakin dia adalah orang baik sepertimu. Kamu tetap lelaki baik di mata ku.

Dari perempuan yang pernah mengagumimu, selamat berbahagia!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya