Hai, apa kabar, how's life. Entah apa yang harus kukatakan untuk memulai sebuah percakapan denganmu lagi. Bagaimana hidupmu, sedang sibuk apa kausekarang. Masihkah kau mengingatku? Sudah tak perlu dijawab, kautentu masih mengingatku, bukan? 🙂 Atau kausudah tak ingin tahu apapun mengenai diriku.

Teman, aku bingung harus memulainya darimana. Masih bolehkah aku memanggilmu Teman? Mungkin memang benar bahwa hidup harus terus berjalan dan kita seharusnya tak usah melihat kebelakang lagi.

Tapi, tahukah kamu, ketika malam aku selalu merindukanmu, merindukan kenangan kita berdua, juga merindukan semua pertengkaran yang sering kita perdebatkan.

Semua memang salahku. Tapi, apakah semua juga salahku ketika kita satu-sama lain menyadari bahwa kita menyukai seseorang yang sama? Bukankah cinta itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada setiap ciptaanNya? Aku tak bisa menahan perasaan ini kepada dia; orang yang sama-sama kita cintai.

Ya, semua memang salahku. Semua sikap dan cara pikirkulah yang menjadikan ku alasan untukmu pergi meninggalkanku. Kamu terluka olehnya dan tak ingin terluka kedua kalinya karena kautahu aku juga mencintainya. Lalu mengapa kamu mengkambinghitamkan persahabatan kita untuk kaupilih. Apa semua karena aku yang selalu mengingatkanmu tentang dia yang melukaimu? Bukankah dia mencintaimu? Percayalah sahabat, bukan ini yang kuinginkan. Sungguh.

Advertisement

Yang terjadi memang tidak bisa diulang, namun jika aku bisa memutar waktu, aku ingin seutuhnya menahanmu pergi dari hidupku. Sehingga aku tak perlu berusaha menghapusmu di dalam hidupku.

Kita pernah menangis bersama dan tertawa bahagia berdua dan semua terjadi dulu, sebelum kaumemilih tuk pergi menghapus jejakmu dari hidupku. Aku memang punya banyak teman, tapi aku tak menyangka bahwa semua akan serumit ini ketika sampai saat inipun aku masih memikirkanmu, menerka kehidupan apa yang sekarang sedang kautempuh.

Kukira pertemanan kita hanya sekedar teman. Namun ternyata pertemanan kita yang terjalin kurang lebih 2 tahun itupun mampu meninggalkan bekas yang teramat dalam bagiku. Aku dan kamu sekarang benar-benar tak bisa menjadi sahabat. Sahabat seperti dulu. Namun bagimu, apakah arti diriku untukmu? Sahabat atau hanya sekedar teman curhatmu saja? hehe gausah dijawab ya! :')

Kaubilang aku adalah sahabatmu, tapi mengapa kaupergi meninggalkanku dan membiarkan aku sendirian mengobati luka. Kaubilang kau sahabatku, lalu mengapa kau takpernah memberi kabar tentang bagaimana hidup yang sedang kaujalani sekarang?

Bukankah Persahabatan itu seperti Tangan dan Mata. Ketika tangan terluka, maka Matapun ikut menangis, dan ketika Mata menangis, maka Tanganlah yang selalu bersedia untuk menghapus air mata yang jatuh.

Teman, aku menghargai semua keputusanmu, termasuk keputusan yang kaubuat untuk meninggalkan dan menghapus peranku dalam hidupmu. Seandainya kautahu, aku benci saat kamu membangunkan tidurku dengan meninggalkan airmata yang membasahi pipi ketika aku memimpikanmu. Apakah itu tandanya kaumerindukan aku? Entahlah ..

Ikatan sahabat diantara kita memang terpisahkan oleh kesalahpahaman, namun percayalah, sahabat.. Kauakan selalu menjadi bagian terindah di hidupku. Mungkin aku hanya bisa merindukan dan mendoakanmu disetiap malam, dan ingatlah bahwa aku selalu menganggapmu sebagai sahabat terbaikku.

Untuk Sahabatku yang memilih pergi, Kembalilah segera…..

Aku merindukan sahabatku yang dulu.