Hai Cantik, maafkan aku menyapa mu seperti ini. Aku tahu, aku tak seharusnya tetap bersusah payah mencari tahu keadaannya kini. Sedang dirimu selalu disampingnya menemani setiap luka yang pernah kutoreh dengan sengaja.

Tak apa. Aku mengerti mungkin dirimu tak suka dengan wanita ini. Wanita yang pernah begitu berharga dan menoreh luka yang tak kunjung membaik pada lelakimu. Bukan begitu cantik?

Advertisement

Tak usah khawatir, aku tak ingin merusak semuanya seperti aku meluluh-lantakan hatinya dengan sengaja dahulu. membuat hatinya berantakan dan aku pergi bergitu saja dengan tanpa belas kasihan. Tidak, bukan begitu inginku.

Hanya saja, kau pasti mengerti.. Terkadang seseorang ingin tahu keadaan luka dihati seseorang (yang pernah dilukainya) dimasa lalu. Apakah telah membaik atau semakin menganga lebar, itu saja. Toh aku tak pernah mengganggu kalian bukan? 🙂

Terimakasih telah mencibirku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahwasanya memang terkadang hati takut akan sesuatu (yang belum tentu pasti) datang dengan tiba-tiba, dan merebut semua senyum yang telah dirimu dan dia ukir dengan susah payah . Aku paham.

Advertisement

Tapi kau juga harus mengerti, dimana lingkaran pertemanan kami juga tetap akan sama. Temannya adalah temanku, begitupun sebaliknya. Aku tak bisa mengerti saat dirimu mencaciku hanya karena aku dan dia bertemu (tanpa sengaja) dalam sebuah acara yang memang dihadiri oleh kerabat dan teman terdekat kami. Pertemuan itu pun bukan inginku. Dan dirimu? Dirimu hanyalah orang baru yang datang dan menggantikan posisiku. Apakah cukup adil dengan menyalahkan semuanya padaku? Sedang dirimu dengan angkuhnya tak mendengarkan apa yang ingin kuperjelas.

Aku tahu sekarang dia (mungkin) sangat bahagia bersamamu. Namun dirimu harus tau, aku tak pernah (dengan sengaja) datang dan merusak apa yang telah susah payah kalian bangun dari awal hanya untuk mengemis rasa bersalahnya padaku. Pernah suatu ketika saat dia telah bersamamu dia mencariku. Walau hanya bertegur sapa dan saling meminta maaf untuk apa yang telah terjadi dimasa lalu.

Namun, bisa kah berhenti mencurigai ku untuk sesuatu yang belum tentu benar Cantik?

Kamu cantik dengan anggunmu, tapi tolong berhentilah berkata kotor seolah kau paling benar untuk apapun itu sehingga dunia memandangku hanyalah seseorang (rendah) yang tak mampu berbalik arah dengan sisa puing di masa lalunya. Tidak, bukan begitu.

Dan lagi untuk seseorang yang kini menemaniku, dirimu pun tak perlu tahu dan mencibirnya. Kami telah bahagia. Berhentilah menyangkut-pautkan semuanya seolah aku masih mengharapkan lelakimu. Aku tak serendah itu Cantik.

Aku mencintai lelakiku lebih dari aku mencintai lelakimu dahulu (dimasa itu).

Terimakasih telah mengukir senyum baru untuknya dan membantunya untuk bangkit (lagi) setelah luka yang tak kunjung keringku torehkan padanya dimasa itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya