Untukmu yang menjadikanku perempuan lain di antara kalian berdua, hai lama tak berjumpa.

Sudah semenjak beberapa lama setelah kau tak mau memperjuangkan, kemudian meninggalkan dan ternyata juga membodohiku, apa kabarmu?

Haruskah ku bertanya bagaimana kabarnya saat kau masih terus menghubungiku dibelakangnya? Haruskan ku bertanya seberapa bahagianya dirimu saat mengikat dia dalam sebaik-baiknya ikatan? Atau haruskan ku bertanya apa rasanya menjadi calon ayah dari hasil kasih kalian berdua?

Rasanya tak perlu, karna tetap saja kau akan menghindari semua pertanyaan itu dengan lelucon khas mu. "Aku merindukanmu, ayo bertemu."

Bukan tentang seberapa kuat aku mampu menahan rindu ini kepadamu, bukan tentang seberapa tegarnya aku sehingga mampu kembali berdiri setelah kau tendang pergi, ini juga bukan tentang seberapa cepat luka ku sembuh setelah kau hujam dengan kebohongan, berkalii-kali. Bukan…

Ini semua tentang, seberapa ku tetap berjuang menahan semua hal untuk tak serta merta melukai perasaannya meski ku tau itu bukan tanggung jawabku. Seberapa keras ku mencoba memikirkannya, semakin ku tau pasti bahwa ditengah kelakar, "Aku baik-baik saja" milikku, aku masih belum bisa berdamai dengan mu dan segala bentuk lukanya.


Keinginan terhebatku untuk bisa menyampaikan salam terakhir dengan bayangan dan segala kenanganmu , bisakah?


Sudah sekian lama setelah aku mencoba dan terus mencoba, ku rasa ini titik terendahku untuk mengakui semuanya. Aku belum cukup mampu merelakan, aku belum bisa melupakan, dan aku pun belum siap mengesampingkan bayangan (mu). Aku pun heran, mengapa pada akhirnya aku masih saja mampu dikoyak-koyak oleh kenangan.

Jadi tolong hentikan semuanya. Bantulah aku mengobrak-abrik semua konsep kebahagian yang sempat kita susun, bantulah aku meninggalkan bayangnmu sejauh-jauhnya, dan yang terpenting, bantulah aku menghancurkan semua kenangan yang sempat kita buat.

Janganlah lagi kau datang untuk menengok luka, jangan lagi datang untuk menggetarkan hati, dan jangan lagi kau datang untuk berusaha memperbaiki.

Sejujurnya ini sudah terlalu sulit, sulit untuk tetap bersikeras menahan ego dan menahan diri untuk tak menyakiti hati wanita lain, ketimbang menahan semua rindu dan cinta yang ku miliki. Tapi tetap saja kau menolak mengerti. Menyedihkan, mengapa? Karena itu membuatku makin tersakiti.

Atas nama kelelahan, keraguan, kegelisahan dan waktu yang terus mengejar-ngejarmu, saat itu.. berjuanglah untuk yakin dengan keputusan yang sudah kau ambil. Nikmatilah kebahagian yang coba dia tawarkan, bersenang-senanglah dengan perhatian yang dia berikan. Jadi.. tidak bisakah kau mencintainya seperti cinta yang kau berikan padaku waktu itu? Jangan sakiti aku dengan perlakuan yang kau tunjukan padanya, tolong.

Akhir dari semuanya aku mengerti sekarang,

Meski terlambat, maafkan aku sempat meragukan cintamu, ampuni aku untuk usaha yang sempat kau tunjukan namun tak kunjung terbalaskan, dan.. maaf sudah membuatmu menangis dan memaksamu memilih yang lain. Sekarang hiduplah dengan tenang dengannya, dan nikmatilah semua keputusan yang sudah kau buat.

Tak perlu kau risaukan aku, tak perlu menilik masa lalu, dan tak perlu untuk tetap mencintai, merindukan dan menginggatku.

Meskipun jiika suatu saat ditengah ketidaksadaran dan kerapuhanku, aku mengatakan bahwa merindukanmu dan memintamu kembali ke pelukanku. Maafkan aku… dan jangan pernah sekalipun tinggalkan dirinya.

Meski ku akan terus memohon dan menangisi semuanya, jangan tinggalkan dirinya demi aku.

Sekeras apapun itu, biarlah itu menjadi urusanku. Tanggung jawabmu adalah buah hatimu, dan wanita yang sampai akhir akan terus memperjuangkan kehadiranmu di hidupnya, sambil terus merapal doa berharap kau akan membuka hatimu untuknya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya