Selamat malam, kekasihku di masa lalu…

Entah mengapa malam ini mataku terus menerus terbelalak secara spontan. Padahal, tubuh ini sudah nyaman terbaring dalam pelukan selimut hangat. Yang mengherankan, pikiran ini bisa-bisanya saja terjurus pada bayangmu. Tapi maaf. Bukannya aku masih belum mau melupakanmu dan ingin kembali lagi. Mungkin, Tuhan sedang mengingatkanku untuk mendoakanmu agar tak lagi memperlakukan wanita lain seperti aku.

Aku sudah mendengar semua tentangmu. Namun rasa ingin tahu ini jauh lebih tinggi dari desas-desus di kanan kiri.

Di awal mula pertemuan kita, entah mengapa ada senyum tersungging tak wajar pada wajahmu. Senyuman itu pun menjadi semakin kerap kutemui. Yang kucuri dengar dari kawan lain, aku tak boleh menyepelekan pesonamu. Pasalnya, sudah banyak hati yang telanjur tertambat. Pada akhirnya, mereka kecewa juga akibat kamu menjadikan mereka sekedar permainan. Lantas, aku menjadi lebih hati-hati.

Advertisement

Namun di tengah kewaspadaan tersebut, tak dapat dipungkiri jika hati ini semakin ingin tahu. Ya, sosokmu memang selalu mengundang rasa ingin tahu untuk mengenalmu yang terlalu misterius. Barangkali saja, apa yang mereka ungkapkan bisa jadi sebuah kesalahpahaman atau sekedar isu. Mungkin juga, sebentar lagi kamu akan segera merubah kebiasaan begitu bertemu dengan sosok yang tepat.

Akhirnya, aku membuktikan juga perkataan mereka. Kamu memang tak layak lagi untuk dipertahankan oleh hati ini.

Aku pikir, tak ada salahnya membuka hati ini untukmu. Dan setelah menjalani semua ini, memang aku merasa jauh lebih bahagia dan nyaman bersamamu. Kamu berhasil menunjukkan perilaku yang baik dan sebagaimana harusnya seorang pria. Namun, ada saja gelagat yang membuat hati ini terasa terganjal. Ada saja suatu perilaku yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun tak bisa juga kubuktikan dengan fakta.

Advertisement

Waktu akhirnya yang membuktikan semua. Semua perkataan kawan-kawan saat itu, bukanlah isapan jempol belaka. Bahkan, aku terlambat menyadari kalau itu semua adalah peringatan. Kecurigaan yang selama ini mengganjal hati membuktikan bahwa aku tak lagi jadi satu-satunya wanita yang mengisi relung hatimu. Tak perlu kuulur waktu lagi untuk mempertahankan kamu yang tak mau diperjuangkan lagi.

Kini, aku telah memilih pergi dan kamu telah berdamai dengan hatinya. Semoga saja kamu tak menjadikan hatinya sama seperti hati yang sudah getir ini.

Mungkin kamu sudah puas karena aku sudah rela meninggalkanmu tanpa secuplik beban apapun. Kamu juga sudah lega karena kamu dan dia dapat menjalin kasih tanpa basa-basi atau sembunyi-sembunyi. Tak apa, lanjutkan saja karena aku sudah benar-benar rela dan melupakan kamu sepenuhnya hingga ceruk perasaan terdalam. Tak ada sedikit pun rasa cemburu melihat kalian atau menyesal karena sempat melalui semua denganmu.

Tapi, cobalah kamu berjanji padaku! Berjanjilah bahwa kamu tak akan menjadikan nasibnya sama seperti aku dan yang lainnya. Berjanjilah jika aku adalah gadis terakhir yang kamu duakan. Jika bagimu ini terasa sulit, aku tak akan malu untuk turut mendoakanmu di hadapan Tuhan. Bahkan di tiap malam sebelum tidur pulasku. Sebab aku pun turut bahagia merasakan kalian bahagia mencintai satu sama lain. Barangkali, dialah juga yang mampu membuatmu berubah.

Untukmu, semoga berhenti mempermainkan hati dan mulai merasakan kebahagiaan yang hakiki dengannya. Amin.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya