Kau hadir di saat aku sedang terluka, di saat aku sedang merasakan sebuah hampa dalam hubunganku dengannya. Sejujurnya tak pernah sekalipun ku buka sebuah celah dalam hubunganku dengannya. Hanya saja, kau datang dengan cara yang berbeda. Tatapan matamu yang tajam, keangkuhanmu dan tentunya kau tak pernah tersenyum sedikit saja.

Karaktermu yang seperti itu membuatku makin terpesona dan penasaran akan kemisteriusan dirimu. Mulai dari perawakanmu yang jenjang dengan raut muka yang penuh dengan luka, hingga aku ingin memberikan sebuah kehangatan dalam dirimu. Kau pun hanya bicara seperlunya.

Hingga akhirnya pertemuan kita semakin intens dan tak kusadari ada seulas senyum yang mulai kutangkap darimu saat bersama denganku. Sosokmu yang seperti itu memang merupakan sesosok Ksatria yang selalu kuimpikan. Kau hadir membawakan sebuah cinta yang berbeda dan manis.

Mulai dari caramu berbicara denganku, bertukar pendapat hingga saling membicarakan impian kita berdua. Kau dan aku memiliki cara berpikir yang sama. Hingga sempat terlintas bahwa kau adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku seorang. Namun dengan seketika aku harus segera tersadar bahwa, aku ini telah memiliki Dia.

Advertisement

Dia yang telah menemaniku selama lebih dari tujuh tahun lamanya. Aku dengan dia yang telah membicarakan masa depan kami berdua. Hanya saja aku seringkali terluka karenanya. Bertahun-tahun lamanya aku yang mengalah untuk hubungan ini. Hingga akhirnya kau datang menawarkan cinta yang hangat dan memperlakukanku layaknya seorang Puteri.

Kau pun mengajakku untuk merasakan hebatnya dunia ini, kita saling menggenggam tangan dengan erat dan melihat berbagai hal dengan pandangan yang berbeda. Dikala aku sedang jatuh dan terluka, kau dengan sigap hadir untuk membopongku hingga aku kuat kembali.

Beberapa bulan telah kita lalui, hingga kita bisa merasakan bahwa, hati telah saling bertautan. Ada kontak batin yang terjadi. Kau bisa merasakan apa yang kurasakan, begitu pula apa yang ku rasakan. Sejujurnya, aku bukan orang yang pandai mengutarakan isi pikiranku. Aku memilih untuk memendam saja.

Namun kau bisa membacanya dan mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku. Hal tersebut yang membuatku makin bergetar dan benar-benar jatuh hati padamu. Berbagai pertanda bahwa kita berdua adalah jodoh sudah di depan mata dan telah kita rasakan. Hanya saja, sekali lagi aku merasa tertampar.

Kita berdua lupa, bahwa kita berbeda Keyakinan. Kau dengan Tuhanmu, aku dengan Tuhanku. Hanya saja kita sering melupakan hal tersebut. Padahal, keyakinan merupakan hal yang paling sakral ketika kita berdua telah memutuskan untuk berkomitmen mengarungi bahtera rumah tangga.

Akhirnya, kita berdua mulai memikirkan jalan serta ego masing-masing. Memilih untuk saling menyakiti batin sendiri. Hingga paa suatu waktu, kita kembali tersadar bahwa ini hal yang buruk. Bukankan perkenalan dan kedekatan kita adalah hal yang baik dan sebuah anugerah? Mengapa akhirnya saling menyakiti?

Tidak, kita berdua pun akhirnya memutuskan untuk saling menghargai dan menyayangi meski tak mampu untuk saling memiliki. Andai saja, waktu nanti berpihak pada kita berdua. Pasti, kita akan kembali bertemu dan dapat saling memiliki. Andai..