"Kau dan aku sama-sama memendam sesuatu, mengapa tak kita biarkan agar semuanya menjadi utuh?"

Pernahkan kau perhatikan awan yang berarak membentuk bayangan sebuah benda? Jika ya, pernahkah juga kau melukiskan wajahnya di sana. Wajah yang selalu melintas di pikiranmu, yang kemana pun kau memandang ia selalu mengikuti. Yang berada di dekatmu namun kau hanya mampu memandangnya, seperti kau memandang awan di atas sana yang perlahan-lahan mulai memudar bentuknya…

"Ya, memang hanya kau yang wajahnya mampu aku lukis di atas langit."

Wajahmu telah terlukis di awan, selalu terlihat kemanapun mata memandang. Apalagi jika mendung tak datang, akan bebas aku pandang tanpa adanya penghalang. Ya, seperti awan, kau hanya mampu aku pandang, tak bisa untuk aku pegang.

"Kau tahu mengapa aku suka awan?"

Kau tahu mengapa aku suka awan? Itu karena, seberapa jauh kita terpisah, seberapa lama kita tak berjumpa, ia selalu melukiskan wajahmu di sana, di antara langit senja, di batas kota tempat dahulu kita sering bertatap muka.

"Ah andai semuanya sesempurna ciptaanMu"

Andai langit selalu biru, pasti perpisahan tak mengapa bagiku. Karena dapat aku lukis wajahmu di situ, dan semuanya tak sesakit menahan rindu.

"Diam. Hanya itu yang bisa ku lakukan kini"

Kini aku hanya bisa menunggu, karena kaupun sama denganku. Belum bisa membentuk arakan awan menjadi utuh. Namun sampai kapan kau kan biarkan aku begini, menanti sesuatu yang tak pasti, berharap agar semuanya kan berakhir indah di hati.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya