Ketika aku di umurmu yang sekarang, aku pun juga sama bersemangatnya mulai merealisasikan mimpi-mimpiku. Pergi lah sejauh yang kau mau, capailah mimpi-mimpimu setinggi mungkin, dan berkembanglah menjadi pria yang membanggakan. Karena aku pernah merasakannya, maka dari itu aku begitu mengerti. Tak apa kau meninggalkanku demi mengejar mimpimu, demi membahagiakan keluargamu kelak, dan demi harkatmu di depan orang tuaku nanti.

Mungkin di umurku yang sekarang memang sudah saatnya membina rumah kecil dengan lelaki seumur atau lebih tua dariku. Tapi itu bukan keharusan kan? Aku masih sah-sah saja menunggumu disini meski umurku kian bertambah kan? Jadi kau tak usah khawatirkan umurku, karena ia hanya sebuah angka sedangkan penantianku tak bisa diukur dengan angka berapapun itu.

"Saya masih ingin terus berkembang."

Di umur mudamu sekarang memang sudah saatnya mengembangkan diri. Aku tahu ada gurat kekhawatiran ketika kau mengatakan itu. Di sisi lain kau iri dengan banyak laki-laki yang sudah berani mengajakku ke jenjang yang lebih serius, tapi di sisi lain kau masih ingin mengepakkan sayapmu melintasi pos-pos mimpimu. Kau tahu? Aku begitu bangga padamu, begitu senang melihat semangatmu yang selalu ingin membahagiakan orang sekitarmu. Pencapaian mimpi yang kau gadang-gadang itu tak semata-mata untuk dirimu saja, tapi untuk kebahagian keluargamu dan juga aku. Jadi mengapa kau perlu khawatir? Berkembanglah. Buatlah aku bangga.

"Saya belum punya apa-apa sekarang."

Kau melihatku sebagai sosok perempuan sukses yang sudah punya pekerjaan dan bisa menghidupi dirinya sendiri, lalu kau dengan rendah diri bilang kau belum punya apa-apa. Kau begitu takut bersanding denganku yang sudah jauh lebih dulu melangkah dalam dunia pekerjaan. Sungguh itu hanya masalah waktu, sayang. Kau bahkan bisa melampauiku dengan semangatmu itu suatu saat nanti.

Aku mencintaimu bukan karena apa yang kau bawa. Pertama kali melihat semangatmu, aku tau kau punya banyak sekali hal yang bisa membuatku bahagia. Sikap sopan dan santunmu kala itu, berhasil merampas ruang usang hatiku ini. Kau tak perlu membawa apa-apa untuk mencintaiku. Kau hanya perlu menjadi lelaki sederhana yang bertanggung jawab dan selalu bisa ku nanti kepulangannya.

"Nanti kalau sudah punya uang banyak, saya akan bisa bahagiakan kamu."

Advertisement

Aku tersenyum mendengar kata-kata itu dari mulutmu. Bahagia karena uang sudah aku dapatkan dari diriku sendiri. Kalau tolak ukurmu membahagiakanku hanya uang, sungguh tak akan ada habisnya, sayang. Memang manusia di dunia ini butuh uang, aku pun begitu, tapi aku mohon jangan jadikan itu fokus utamamu dalam membahagiakanku kelak. Aku percaya kau akan menjadi lelaki yang menafkahi keluarga kecilmu dengan baik, jadi tak perlu kau risaukan itu.

Bahagiakan aku dengan pencapai-pencapaianmu, bahagiakan aku dengan sikap dewasamu, bahagiakan aku dengan rasa kasih sayangmu terhadapku dan orang-orang sekitarmu. Tugasku kini hanya mendoakanmu dan menunggumu sampai tepat di depan rumahku.

"Saya janji, saya akan buktiin ke kamu."

Tanpa perlu aku ceramah panjang kali lebar, kau seharusnya sudah mengerti bagaimana laki-laki memegang dan menepati janjinya. Aku rasa kau sudah jauh lebih dewasa memaknai itu. Aku yakin benar kau akan kembali lagi kesini, melunasi segala rindu kita. Aku benar-benar tak akan membatasimu menggapai segala mimpi. Kejarlah mereka selagi kau bisa. Buat mereka ada digenggamanmu. Kau bebas melakukan hal yang menurutmu baik untuk masa depanmu, asalkan kau tak lupa aksara yang bernama pulang. Asalkan kau tahu ada aku yang akan berdiri di depan pintu menagih janjimu.

"I wait you to come home, baby."