Pekerja keras adalah satu kata yang pantas untuk menggambarkan Solikin (42). Seorang kepala keluarga yang rela menghabiskan kesehariannya untuk membanting tulang. Tidak ada kata libur untuk Solikin. Saat hari biasa dia berprofesi sebagai satpam di SD Gamping. Tak hanya itu, saat liburan dia rela menghabiskan waktu berjualan gelembung air di Alun-Alun Kidul. Hal itu dia lakukan semata-mata demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Solikin tinggal bersama istri dan anak perempuannya. Rahayu(34), istri Solikin, juga merupakan sosok yang tangguh. Dia bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tidak hanya itu, dia turut membantu Solikin berjualan gelembung air di Alun-Alun Kidul. Di bawah terik matahari dan angin malam, mereka membuka lapak di tengah para wisatawan. Uang untuk anak adalah alasan mereka tidak lelah mencari rezeki Tuhan.

Advertisement

“Saya mau anak saya jadi 'orang'. Setidaknya masa depannya harus lebih baik daripada saya dan istri,” ucap Solikin.

Demi memenuhi kebutuhan anaknya, Anisa, Solikin dan Rahayu setiap harinya bangun dini hari. Membuat gelembung air dari kayu, sedotan, bambu, dan busa. Tidak ada kata mengantuk atau kurang tidur. Di usia produktifnya, mereka berusaha sebisa mungkin untuk bertahan hidup, serta menabung demi masa depan Anisa yang lebih baik.

Anisa adalah anak yang cukup berprestasi di sekolahnya. Ranking lima besar tidak pernah luput didapatkannya. Dia sadar, kedua orang tuanya telah banting tulang untuknya. Dia tidak ingin kerja keras orang tuanya berbuah sia-sia.

Advertisement

Sebelum bekerja menjadi satpam dan pedagang gelembung air, solikin adalah sebuah pegawai di perusahaan mebel. Gaji yang sangat kecil, yaitu Rp 300.000/minggu, dirasa kurang. Dia berani untuk keluar dari zona nyaman. Melamar sana-sini dengan ijazah SMA-nya. Menjadi seorang satpam memang bukan pekerjaan yang dia banggakan. Tetapi dengan gajinya yang sekarang, yaitu Rp 1.500.000/bulan, dia sangat bersyukur. Walaupun tetap saja, dirasa kurang untuk memenuhi keinginan anak dan istrinya.

Menjadi seorang pedagang gelembung air adalah suatu anugrah baginya. Walaupun penghasilan tidak menentu, Solikin bisa sedikit demi sedikit menabung. Terkadang Solikin dapat penghasilan lebih dari Rp 100.000. akan tetapi, tidak jarang penghasilannya hanya berkisar Rp 60.000/hari.

Persaingan penjual gelembung air di Alun-Alun Kidul kini mulai sengit. Banyaknya pedagang membuat persaingan semakin ketat. Rasa iri pernah sesekali Solikin rasakan, saat dagangannya sepi dan yang lainnya ramai. Tetapi, dia sadar, rasa iri dan dengki hanya akan membuatnya lelah dan menambah dosa.

“Terkadang sebel kalau pedagang lain rame, sedangkan saya tidak. Tapi, jika dipikir-pikir, saat kita iri dagangan malah semakin sepi. Saya percaya rezeki sudah ada yang ngatur. Entah itu sepi atu ramai, semua iut pemberian Tuhan,” ujar Solikin.

Kini dirinya bertekad untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Demi masa depan anaknya yang diharapkan jauh lebih baik dari dirinya, Solikin rela melakukan apapun. Anak adalah sumber energi terbesarnya. Solikin, bersama Rahayu tidak akan pantang menyerah. Segala pekerjaan halal akan mereka lakukan. Entah itu pembantu rumah tangga, satpam, supir, ataupun pedagang, mereka rela lakukan. Asal Anisa mendapatkan apa yang dia butuhkan. Terutama pendidikan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya