Orang sering sinis melihatku: wanita berkepala dua yang sering main dengan teman-teman lelakinya, tak ada satupun yang memiliki hubungan serius denganku. Aku pun sering jengah ketika ditodong pertanyaan, "Kamu PHP-in dia?" atau "Sampai kapan kamu akan main-main seperti ini? Pilihlah satu dan cobalah serius!" PHP-in? Aku tahu rasanya dicekik harapan lalu ditinggalkan. Mana mungkin sekarang aku setega itu? Main-main? Apakah mereka pikir sahabatku adalah permainan? Salahkah bila seorang wanita menjelajahi dunia bersama sahabat lelakinya? Apakah mereka pikir, relasi lelaki dan perempuan selalu tentang nafsu? Jika iya, sepertinya aku wanita beruntung memiliki sahabat-sahabat lelaki yang bisa kujadikan kakak. Dan tentang memilih, aku takkan memilih salah satunya karena mereka memang bukan pilihan.

Aku wanita berjiwa bebas yang ingin menikmati setiap jengkal keunikan dunia ini. Aku ingin menikmati bintang malam di atas bukit, melihat matahari bersinar di atas gunung, berkejar-kejaran bersama ombak di laut, tenggelam dalam kenangan peninggalan nenek-moyang, dan bercengkerama dengan burung-burung yang hinggap di pohon pinggir jalan. Bahkan aku ingin mencicipi setiap jajanan kota-kota kecil. Aku ingin menceritakan ini pada anak kita kelak dan mengajak kamu (jodohku) menikmati keindahannya di saat penat menyergap tubuhnmu. Aku ingin menjadi wanita berwawasan luas dan bermimpi tinggi agar pencarianmu selama ini berhadiah indah.

Advertisement

Namun, terkadang aku terlalu kesepian untuk menikmati dunia ini sendirian. Aku ingin bercengkerama di setiap perjalananku dan tertawa di setiap jengkalnya. Sejujurnya, aku ingin kamu yang di sisiku. Aku ingin menggandeng tanganmu dan bergelayut di pundakmu. Aku ingin kau yang membuatku tertawa. Hanya saja sepertinya Tuhan belum mempertemukan kita. Entah karena aku belum layak untukmu atau sebaliknya atau hanya karena waktunya belum tepat? Aku tidak tahu. Aku tidak ingin menjadi wanita pemurung. Aku ingin menyambutmu dengan tawa hangat, dengan kebahagiaan yang sedang kupersiapkan untukmu. Agar kau yakin, membahagiakan bukan hanya kewajibanmu namun juga kewajibanku. Untuk itulah, aku menjaga kebahagiaanku sembari menunggumu dengan penuh rasa penasaran dan mereka hanya membantuku.

Aku yakin kau bukan pria yang memiliki pemikiran sempit. Aku yakin kamu adalah pria cerdas nan bijaksana. Aku yakin kamu mengerti penjelasanku. Tentu, aku pernah jatuh cinta pada beberapa orang di antara mereka karena kupikir dia adalah kamu. Hingga akhirnya dia meninggalkanku. Aku harus menjaga hatiku tak berkeping-keping agar tetap utuh untukmu. Untuk itu, izinkan aku menikmati hari agar aku tak tenggelam dalam luka ini 🙂 Aku janji akan menjaga hatiku hingga kau datang pada orangtuaku.

Dan untukmu, tenanglah! Aku tidak seegois itu. Aku juga tidak ingin kau mati dicekam kesepian. Aku ingin melihatmu bahagia meski aku tak tahu dimana kamu sekarang. Kau boleh menikmati hari dengan siapapun yang ada di sampingmu sekarang. Kamu boleh tertawa bersama dia (gadis yang kau pikir diriku) namun berjanjilah! Kamu tetap jaga utuhnya hatimu untukku. Jangan 'sentuh' dia seperti kamu takkan 'menyentuh' adik atau kakak perempuanmu. Sembari menunggu waktu pertemuan kita, aku ingin kau tetap bahagia. Entah saat pertemuan nanti kau terluka atau bahagia, setidaknya kamu sudah pernah belajar kehilangan seseorang. Setidaknya kamu sudah merasakan disia-siakan orang sehingga kita akan sama-sama bersyukur telah dipertemukan.

Advertisement

Berbahagialah dengan siapapun yang ada di sisimu saat ini, asal satu: jangan lupakan tujuanmu untuk menemukanku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya