Wahai Para Perempuan, Sesungguhnya Tubuhmu adalah Aset Masa Depan

Jagalah sebelum terlanjur

Secara sederhana, keperawanan dimaknai dimana seorang perempuan belum pernah melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya. Keperawanan identik dengan kesucian, maka wanita yang belum menikah yang masih perawan diartikan sebagai gadis yang suci, yang bisa menjaga harga dirinya. Sementara wanita lajang yang tidak lagi perawan akan diberi stigma negatif seperti (maaf) "perempuan kotor". Bukan hanya masyarakat di zaman batu yang memiliki anggapan seperti ini, tapi hingga sekarang di zaman milenial ini masyarakat Indonesia secara umum masih memegang prinsip yang seperti di atas.

Namun pertanyaannya, masihkah di zaman milenial ini keperawanan itu masih tolak ukur kesucian seorang gadis? Memang terjadi suatu fenomena di dalam masyarakat mengenai ini. Ada sebagian kalangan menganggap bahwa kehilangan keperawanan sebelum menikah adalah suatu malapetaka, namun sebagian menganggap bahwa hal tersebut adalah biasa saja, dan tak perlu diambil pusing.

Namun sebaiknya mari kita memandang hal ini dengan posisi budaya Indonesia. Sejak semula, Indonesia diberi julukan Negara yang memiliki budaya yang sopan, yang menjunjung tinggi nilai adat-istiadat. Kita juga harus ingat tradisi masa lalu di Indonesia, dimana wanita dijadikan sebagai pingitan. Mereka tidak bisa sembarangan keluar rumah, apalagi berbicara dengan laki-laki yang bukan suaminya. Lalu bagaimana dengan sekarang?

Ini adalah zaman reformasi, semua bebas berekspresi hingga akhirnya kebablasan. Kalau kita mengamati hasil survei mengenai persentasi anak remaja yang tidak perawan, setiap tahunnya mengalami peningkatan. Lebih dari 50 persen wanita remaja kehilangan keperawanannya. Memang survey tersebut pada umumnya dilakukan di perkotaan. Namun mari kita jujur, saat ini remaja di kampong juga sudah terkontminasi. Bagaimana tidak, wanita remaja di desa selalu dipengaruhi oleh perkembangan dunia maya.

Memang dilema besar bagi orangtua yang memiliki anak gadis remaja. Para orangtua bingung bagaimana cara mendidik putri remajanya supaya tahan uji terhadap godaan para lelaki tampan yang pandai merayu. Ada fase perkembangan gadis remaja yang memaksanya harus jauh dari kontrol orangtua. Misalnya seorang orangtua mendidik dan menjaga pergaulan anak gadisnya dengan ketat hingga masa SMA. Namun setelah si gadis baik tadi harus berangkat kuliah yang jauh dari orangtua, di sinilah terjadi masa ujicoba.

Namun pada umumnya si gadis baik tadi yang berangkat dari kampungnya ke kota untuk kuliah kalah dengan kuatnya badai petir pergaulan anak-anak muda di kota. Si gadis baik tadi justru berubah jadi si gadis yang bodoh. Dia berpacaran dengan lelaki tampan yang dia kenal di kampusnya. Si gadis baik itu berganti profesi menjadi pembantu bagi pacarnya. Dia akan mudah di ajak untuk berkunjung ke kontrakan si lelaki tampan. Yah dengan dalih membersihkan kamar kost, kemudian mencuci pakaian, menyetrika baju, dan akhirnya menjadi pemuas nafsu. Hal ini akan terjadi secara berulang-ulang tanpa menganggap ada yang salah dengan kebiasaan ini.


Orangtua tidak akan tahu tentang hal ini. Mereka sangat yakin si gadis baiknya yang mereka berangkatkan menuntut ilmu di perantauan, namun ternyata menuntut silelaki tampan yang sudah mulai melirik gadis yang lain dengan alasan bosan.


Banyak sekali anak gadis yang kehilangan keperawanannya setelah memasuki masa SMP, SMA, dan terlebih di masa perkuliahan dan masa bekerja sebelum menikah. Sangat mudah seorang wanita membiarkan tubuhnya dijelajahi oleh lelaki. Bahkan sering sekali, seorang wanita rela kehilangan hal itu setelah berkenalan beberapa hari saja.

Mengapa semua ini terjadi? Salah siapakah semua ini? Namun yang pasti jangan salahkan Tuhan. Semua kehancuran moral yang terjadi dikalangan remaja saat ini adalah merupakan kompleksitas dari semua sistem. Yah, para remaja sangat mudah saling menyapa lewat dunia udara, kemudia bertemu dan akhirnya bercumbu. Para orangtua juga sibuk dengan dunia nya masing-masing. Banyak orangtua beranggapan bahwa anaknya yang selalu berdiam diri di dalam kamarnya adalah sebuah kebaikan. Namun sadarkah para orangtua itu jikalau anaknya yang selalu bersembunyi di dalam kamar itu selalu asyik videocall sambil menunjukkan bagian tubuhnya kepada lelakinya?. Yang lebih parahnya justru saat ini para orangtua sibuk berselingkuh sana-sini, bagaimana mungkin mereka akan mendidik anaknya?.

Seorang gadis sebaiknya sadar jikalau tubuhnya adalah bait Allah. Hanya ada satu laki-laki yang berhak atas semua tubuh seorang wanita, itulah suami. Laki-laki yang sudah Tuhan tetapkan untuk memiliki semua yang ada padamu. Saya selalu katakan kepada siswa saya bahwa berpacaran adalah suatu masa dimana sepasang manusia mempersiapkan diri untuk menikah. Maka jelas masa SMA bukan masa yang tepat untuk itu, karena tentu di usia mereka belum terbayang untuk menikah. Maka tidak ada gunanya mereka berpacaran.

Bayangkan saja, jikalau di kelas sepuluh dia sudah berpacaran, umur masih 15 tahun. Katakanlah nanti dia akan menikah umur 25 tahun. Berarti masih ada waktu 10 tahun untuk sampai di usia demikian. Kita misalkan saja dia berpacaran kepada 1 laki-laki selama 2 tahun, berarti ada lima orang laki-laki yang menjadi mantan pacarnya. Lalu analisisnya, apakah yang sudah dia perbuat dengan setiap laki-laki itu. Mungkinkah dia hanya bergandengan tangan saja selama dua tahun dengan setiap lelakinya?. Saya pesimis kalau melihat situasi ini. Lalu bagaimanakah seorang wanita akan mempertanggungjawabkan masa lalunya kepada suaminya? Kalianlah yang menjawab.


Maka hati-hatilah, jagalah tubuhmu. Berpacaran di usia remaja dapat merusak hidupmu. Cintailah tubuhmu sebagai aset yang sangat berharga di masa depan. Tubuhmu adalah investasimu.


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Guru Sejarah di SMA N 1 Sorkam Barat