Bagaimana kabar dari hati yang patah? Sudahkah ia sembuh dari semua rasa luka?

Seseorang memilih pergi bukan berarti kita tidak pantas ditinggali. Tetapi karena kita memang bukan tujuannya. Tidak segala hal yang kita mengerti bisa orang lain pahami. Tidak ada kebahagiaan yang direnggut hanya karena kita disiakan. Keadaan tidak patut disesali, cukup diperbaiki. Renungilah hal-hal ini sebelum menghukum diri sendiri:

Advertisement

1. Kalian punya pengharapan tetapi bukan pemilik ketetapan.

Jika kalian pernah menuliskan satu nama, dengan penuh harapan agar kalian akan selalu baik-baik saja, berharap suatu hari kalian akan duduk bersama hingga menua. Jika kalian pernah menengadah dengan segala pinta, agar selalu dibersamakan orang yang saat itu kau teramat cinta, berharap suatu saat kalian tetap setia hingga renta. Namun pada akhirnya kalian kalah, sadar begitu lemah, datanglah masa kalian dipaksa berpisah, karena suatu sebab yang entah.

2. Semakin kau larut, semakin kau hancur.

Advertisement

Hari tidak pernah sama lagi, tanpa sehelai roti, secangkir kopi, maupun ucapan selamat pagi. Kau menatap nanar wajahnya di ventilasi, kau penuh dengan halusinasi. Sadar semua harus tetap berjalan dan kini kau sudah sendiri. Masa tidak berhenti, kau dipaksa berdiri di atas kaki sendiri.

Sampai kau sadar, terus larut hanya akan membuatmu semakin hancur. Ini medan tempur dan kau tidak boleh kabur. Kau harus maju paling depan, semakin rupawan karena kau takkan lagi mau hubungan di janji harapan. Tidak lagi ingin mengulang perpisahan sebab penghianatan.

3. Dengan segala hormat, kau pantas bahagia!

Sambil menunggu kedatangan kendaraan umum, kau duduk tanpa senyum. Kau yang paling cengeng di antara orang yang berkerumun. Mengutuki kesendirianmu, mencari akar dari sebab perpisahanmu yang ujungnya-ujungnya adalah membuatmu menjadi tersangka yang paling bersalah. Melakukan pembenaran atas kesalahan orang yang telah membuatmu enggan mengangkat muka, atas sebuah rasa penghormatan padanya.

Dengan segala hormat, kau pantas bahagia dengan atau tanpa dia!

Kau bisa memberinya maaf dengan mudah setelah habis kau bertelan ludah. Kebahagiaanmu direnggut paksa dan kau hanya menerima. Tentu kebodohan itu tidak seharusnya ada dalam cinta. Air matamu sudah habis untuk tumpah, dia sudah bahagia dan kau apakah akan terus terluka?

Seperti halnya kendaraan umum ini akan membawa mu pada satu tempat di mana hanya kau saja yang turun dan dia akan pergi pada tujuan lain. Seseorang pun seperti itu. Kau bisa dilepaskan di mana saja pada saat dia ingin mengikat yang lain.

4. Teruslah sesak dengan terus mengingat

Kau paling suka duduk di sudut ruangan sambil berangan. Berandailah sampai kopi mu datang. Tapi sayang kau lupa, sudah banyak kepahitan kau rasa, mintalah sedikit gula agar bisa jatuh cinta lagi.

Kapan kau akan jatuh cinta lagi? Apakah benar jatuh cintamu yang terakhir harus jatuh pada orang yang berhianat?

Ruangan itu terlalu dingin hingga kau harus bisu. Teruslah minum hingga kau hangat. Teruslah sesak dengan terus mengingat. Dia tidak pernah ingin pulang hanya karena kau terus terpuruk. Dia tidak ingin kembali hanya karena melihatmu semakin buruk. Dia sudah duduk dengan orang lain di meja paling depan. Bukankah sudah saatnya menerima ketetapan dan berhenti menuntut alasan. Kopimu sudah habis, kau sedikit tersenyum manis.

5. Maafkan dirimu sendiri dan mulailah jatuh cinta lagi

Cukup hari itu kau menangis di bawah bantal, kini kau hanya perlu berdamai agar tak lagi jadi bebal. Cukup hari itu kau mendakwakan dirimu sebagai yang bersalah. Menjadi tidak penting menghukum diri karena sebuah rasa kehilangan. Selalu ada arah bagi jiwa yang patah.

Seseorang pergi dari hidupmu maka biarkanlah. Kau tidak perlu duduk bertiga hanya untuk membuktikan kau baik-baik saja atas hubungan barunya. Kau hanya perlu memaafkan dirimu sendiri, menertawakan patah hatimu, dan melangkah lagi. Bahwa hidup akan terus menawarkan cerita baru.

Kau mendorong pintu keluar kemudian pergi tanpa berbalik lagi.

Hari-hari setelah kehilanganmu, sesekali hal itu akan datang menyapamu. Jangan pernah lawan dengan pembuktian yang tidak benar. Kau boleh menangis jika kau mau tapi berjanjilah bahwa tidak akan lagi ada air mata penyesalan dan kekecewaan. Maafkan dirimu sendiri dan mulailah jatuh cinta lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya