Jika berbicara tentang wilayah Timur Tengah, sekarang ini kebanyakan orang akan langsung berpikir tentang daerah konflik perang yang tidak kunjung usai selama sekian tahun lamanya.

Dan Yaman, adalah salah satu negara kecil yang menjadi imbas dari konflik peperangan ini. Salah satunya adalah soal masalah kemanusiaan. Saat ini Yaman sedang mengalami krisis sebagaimana Yaman adalah negara yang tercatat paling miskin diantara beberapa negara Timur Tengah lainnya, setelah selama 3 tahun terakhir wilayah negaranya tidak lepas dari para pemberontak Houthi dan pasukan President Abdu Rabbu Mansour Hadi. Konflik antar kedua pasukan ini bukan tanpa dampak yang lebih parah, faktanya konflik antar keduanya menyebabkan Yaman kekurangan bahan pangan dan juga banyak menderita penyakit kulit seperti kolera.

Advertisement

Menurut wakil sekretaris di bidang kemanusiaan PBB Mark Lowcock, wabah penyakit yang meluas di daerah Yaman ini adalah yang terburuk di dunia, dan selama tahun 2017 ini diketahui bahwa sudah lebih dari jutaan orang di wilayah Yaman mengidapnya. Parahnya ada lagi sebuah wabah baru yang dinamakan dhipteria. Wabah ini disebabkan oleh suatu bakteri, dan sebenarnya bisa dicegah dengan jalan pemberian suntik imunisasi.

Namun sangat tidak disangka, seperti yang diberitakan oleh media Al Jazheera lebih dari 500 orang di Yaman meninggal terserang wabah penyakit ini beberapa minggu terakhir. Bahkan kecepatan penularannya bisa disamakan dengan fenomena alam wild fire atau kebakaran hutan yang tidak terkendali di wilayah California, Amerika Serikat.

Dalam kunjungannya sebagai Central Emergency Response Funds (CERF) PBB menyalurkan bantuan dana sebesar 50 juta Dollar Amerika untuk setidaknya meringankan beban lebih dari 8 juta orang kelaparan di Yaman. Dan sebagian lagi dari total dana bantuan PBB ini akan digunakan untuk kebutuhan pelayanan publik.

Advertisement

Sejarah bermulanya konflik di Yaman sendiri bermula dari pasukan Arab Saudi yang melakukan intervensi kepada pasukan pemberontak Houthi di tahun 2015 yang didukung oleh Iran. Pasalnya pasukan pemberontak Houthi ini ingin mengembalikan pemerintahan mantan Presiden Abdu Rabbu Mansour Haddi ke permukaan. Sampai saat ini beliau sudah menjabat sebagai Presiden Yaman sebanyak 7 kali dan menjadi wakil presiden sebanyak 8 kali dari tahun 1994 sampai tahun 2012. Ia menjabat sebagai presiden sejak 27 Februari 2012. Dan, selama itu ia hanya sekali saja tidak menjabat sebagai presiden.

Serangan udara koalisi Arab Saudi dan juga blokade pasukan Arab di area pelabuhan dan bandara dikalim semakin mempersempit jalur bahan pangan, bahan bakar, dan juga obat-obatan ke negara Yaman. Dan beberapa tekanan dari pasukan koalisi Arab Saudi berupa beberapa blokade ini menyebabkan beberapa rumah sakit tidak bisa menjangkau sejumlah orang yang terjangkit wabah kolera dan dhipteria di beberapa daerah di Yaman.

Terlebih, beberapa fasilitas kesehatan hancur terkena serangan udara dari pasukan koalisi Arab Saudi. Dan masalah kelaparan juga menjadi salah satu masalah yang cukup parah bagi warga Yaman. Dimana bantuan makanan dan obat-obatan sangat diharapkan, baik bantaun dari pihak PBB maupun negara-negara Islam lainnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya