Sekalipun aku memiliki seluruh pengetahuan di dunia ini, tapi aku tidak dapat membagikannya bagi sesama, apa manfaatku?

Kami Butuh Anda, Akademisi (?)

Nicholas Kristoff, seorang kolumnis yang pernah menerima anugerah Pulitzer di Amerika Serikat, pernah sekali waktu menuliskan sebuah opini yang berjudul "Professors, we need you!".

Advertisement

Kristoff bukan kolumnis biasa. Dia melupakan kolumnis berlatar belakang hukum dari Universitas Oxford dan Harvard. Kemampuan bahasanya beragam mulai dari bahasa Mandarin, Jepang, dan Arab. Sejak tahun 2001, dia merupakan penulis aktif di The New York Times, salah satu media prestigius yang berasal dari negeri Paman Sam. Artikel yang dia tulis bukan tanpa dasar, dan menurut saya, sangat relevan dalam perkembangan masyarakat Indonesia hari-hari ini.

Bahasa Planet

Bagi saya yang merupakan seorang akademisi, tulisan Kristoff merupakan sebuah teguran keras. Bagaimana tidak? Seringkali akademisi asik dengan dunianya sendiri. Apa maksudnya?

Advertisement

Seringkah kita baik mahasiswa S2 hingga ke S3 menemukan judul-judul yang kurang lebih seperti ini. Misal, Analisis pengaruh X ke Y; atau analisis pengaruh X dimoderasi oleh Z ke Y; atau mungkin analisis pengaruh X ke Y dimoderasi dan dimediasi oleh Q dan R. Yang dimainkan sebatas variabelnya, atau mungkin merombak modelnya. Pertanyaan saya ke mahasiswa sederhana, "Kenapa kamu mempelajari X dan Y, tetapi bukan V dan W atau K dan M?". Mahasiswa hanya bisa diam karena mereka cuma melakukan replikasi tanpa dasar dan alasan yang jelas mengapa mereka melakukan studi dengan tema tersebut.

Suatu waktu saya juga pernah menguji sidang mahasiswa S1, yang bahkan melihat model hipotesisnya saja pun saya sudah gagal paham untuk mengerti maksud dan tujuan penelitian yang dia buat. Seperti membaca karya tulis dari planet lain. Tidak hanya kuantitatif, banyak juga penelitian kualitatif atau mixed-method yang naturnya eksplorasi-konfirmatori (membuka pemahaman baru secara kualitatif dan mengujinya secara kuantitatif) tetapi saya rasa miskin implementasi pada industri.

Sempat saya melakukan review pada sebuah artikel di Jurnal Internasional dari Britania Raya dengan tema implementasi knowledge exchange di beberapa perusahaan inovatif di Spanyol. Apa yang bisa saya tangkap adalah secara akademis, artikel yang saya evaluasi memang dapat dikatakan cukup akademik untuk dipublikasikan. Tetapi atas dasar praktis, saya merekomendasikan kepada Editor untuk tidak mempublikasikannya. Dasarnya? Menurut saya, tidak ada substansi yang begitu urgen untuk dipelajari dan dijadikan bahan bagi pelaku industri melalui tulisan yang dibuatnya.

Akibatnya, manajer di perusahaan tidak sebegitu tertarik untuk membaca karya-karya ilmiah dalam jurnal (meski mungkin idealnya memang berguna). Tentunya, ini harus jadi pembelajaran bagi kita yang sedang memiliki bonus demografi, dan mereka yang punya stigma bahwa pendidikan S1 itu tidak cukup (akankah nanti pendidikan S3 juga tidak cukup?).

Terlalu Akademis

Atas dasar fenomena diatas, saya rasa tidak salah apabila akademisi sering dikomentari oleh para pelaku industri, "Itu terlalu akademis. Ngga laku di dunia kami (praktisi)." Dengan kata lain, secara pragmatis, izinkan saya untuk membuat hipotesis bahwa 'Akademisi' merupakan akronim dari '(A)si(k) deng(a)n (d)unia (mi)liknya (s)endir(i)'. Ini jelas menjadi teguran juga buat saya, secara dalam keseharian saya banyak sekali saya bertemu dengan pelaku industri yang merasakan hal yang sama.

Saya bukan anti penelitian kuantitatif yang mungkin naturnya lebih positivistik. Bukan juga seseorang yang mengkultuskan penelitian kualitatif yang lebih interpretivistik, seolah-olah hanya kualitatif lah yang bisa menelurkan insights baru dalam perkembangan akademik. Bukan itu tujuan utama saya menulis opini saya.

Tujuan utama saya dari tulisan ini adalah, selain untuk menjadi bahan refleksi bagi diri saya sendiri, untuk mengajak para kaum akademisi yang lain agar dapat mengkomunikasikan dan mengejawantahkan pemikiran-pemikiran yang dimiliki dalam lingkungan kampus agar tidak hinggap hanya pada tumpukan perpustakaan yang kemudian usang. Lebih daripada itu, bagikanlah ide-ide brilian yang ada punya sebagai seorang civitas academica, kepada komunitas dimana anda hidup didalamnya. Secara sederhana, saya mau bilang "Be Relevant."

Menjadi Relevan

Menjadi relevan disini artinya adalah ikut berpartisipasi dalam penciptaan dan artikulasi ilmu pengetahuan yang berkara pada isu-isu yang beredar pada masyarakat hari ini. Bukan semata-mata berangkat dari rasa penasaran yang kemudian dianggap keren, lalu kemudian dijadikan tulisan akademik. Tetapi lebih daripada itu melihat dan bertanya, "Apa isu relevan hari ini yang dimana saya bisa membantu berkontribusi didalamnya?"

Sehingga nantinya dalam setiap skripsi mahasiswa yang ada baik dari S1 hingga S3, skripsi, tesis, maupun disertasi yang dihasilkan, itu benar-benar memiliki kontribusi praktis (dan juga teoretis) yang mampu diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Bukan hanya sekadar menjadi prosa akademik yang padat terminologi dan perhitungan statistik asing yang hanya bisa dibaca oleh alien yang sekampung halaman (sehati-sepikir) dengan penulisnya.

Akademisi, Praktisi, Everybody

Banyak cara sekarang ini saya rasa bagi setiap akademisi untuk menjembatani gap antara akademisi-praktisi yang seolah-olah seperti dua ekstrim timur-barat, selatan-utara atau surga-neraka. Salah satunya adalah dengan, ya, menjadi Citizen Scientists, Citizen Journalist, Community Writer, you name it! Setidaknya, penyampaian ruwet dan ribet dalam jurnal akademik yang ditulis dapat dikomunikasikan dengan lebih mudah kepada praktisi dan juga semua orang yang tertarik dalam topik pembahasannya.

Tidak hanya saya atau anda di dalam ranah pendidikan yang berhak memperoleh ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang. Para pelaku industri, pembuat kebijakan, milenial yang lagi galau, pengguna ojek online yang lagi baca berita pas terjebak macet, mereka juga berhak tau mengenai penelitian yang kita buat. Salah satu caranya, artikulasikanlah dengan kreatifitas bahasa yang lebih mudah dipahami oleh mereka. Supaya kalau anda pintar, bukan anda doang, tapi semua orang disekeliling anda juga kecipratan.

Untuk menutup, saya hanya ingin menyambung pesan dari Kristoff, "Akademisi, kami butuh Anda!"

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya