SEKILAS, RUGI KALAU INGGRIS TIDAK BISA JUARA DI RUSIA

Piala dunia 2002 boleh di bilang adalah generasi emas timnas Inggris. Diisi mayoritas Class 92' nya MU (Beckham, Neville bersaudara, Nicky Butt, dan lain-lain), penyerang peraih Ballon d'Or Michael Owen, lini pertahanan yang juga kelas wahid (Martin Keown, Rio Ferdinand muda, Ashley Cole, dan tak lupa Gareth Southgate).

Advertisement

Menjadi pertanyaan besar, mengapa generasi tersebut gagal bersinar? Salah satu jawaban masuk akal adalah undian dan jadwal yang tidak menguntungkan. Bayangkan saja, di saat sedang mekar-mekarnya, tim ini berjumpa dengan LAWAN RAKSASA, Brasil di perempat final 2002, dan akhirnya kalah oleh gol legendaris Ronaldinho.

Lalu di piala dunia 2006, saya menemukan tulisan di Majalah Soccer edisi Piala Dunia yang membahas satu per satu kontestan Piala Dunia. Ketika sampai pada timnas Inggris, terpampang jelas judul "Now or Never". Bisa jadi itu adalah kesimpulan banyak orang yang diwakili oleh penulis majalah tersebut, bahwa faktanya 2006 adalah generasi emas yang "lebih matang".

Siapa yang bisa membantah ini? Dengan tambahan kekuatan semisal John Terry, Steven Gerrard, Frank Lampard, Joe Cole, dan rising star kala itu Wayne Rooney. Dan apa yang terjadi? Sekali lagi mereka hanya sampai di perempat final turnamen. Kali ini, Portugal lah yang menyingkirkan generasi emas ini lewat DRAMA ADU PENALTI, drama yang menjadi kutukan bagi timnas Inggris yang selalu kalah di adu penalti pada beberapa turnamen sebelumnya.

Advertisement

Selanjutnya adalah piala dunia 2010. Bisa di bilang, ini bukan generasi emas lagi. Beberapa bintang sudah pensiun (salah satunya David Beckham dong, hehe). Satu-satunya keunggulan generasi ini adalah pengalaman (mayoritas pemain sepuh, hahaha). Dan sekali lagi mereka gagal, bahkan kali ini gagal di babak 16 besar. Melawan Jerman, Inggris takluk 1-4 yang diwarnai drama dianulirnya gol jarak jauh Frank Lampard ketika skor masih 1-2. Andai dulu sudah ada TEKNOLOGI VAR seperti sekarang, bisa jadi tim ini melaju lebih jauh. Bisa jadi … Hehe,

Selanjutnya piala dunia 2014. Kali ini lebih tragis, dengan susunan skuad yang (mungkin, maaf) paling buruk menurut saya. Tim ini dipastikan tersingkir, bahkan ketika baru memainkan dua pertandingan grup. Kali ini bukan faktor LAWAN RAKSASA, ADU PENALTI, atau TEKNOLOGI, melainkan faktor ITALIA. Iya, bukan rahasia lagi kalau Italia selalu menjadi pembunuh Inggris, baik di turnamen regional Eropa maupun Piala Dunia.

Dan di Piala Dunia kali ini, hampir keempat faktor di atas (tertulis huruf besar) berhasil dilalui Inggris di Rusia 2018. Terhindar dari bagan sebelah kiri (lawan raksasa), menang melalui drama adu penalti untuk pertama kalinya di turnamen besar, sudah adanya teknologi VAR, dan tentu absennya Italia di Piala Dunia 2018.

Ya, minimal "takdir" itu sudah berjalan sampai semifinal. Penyambutan dan perayaan bahkan sudah disiapkan mulai dari sekarang (dengan tagar "It's Coming Home" menggema di seluruh dunia nyata dan dunia maya. Wkwkwkwk).

Jadi buat Inggris, bukan lagi "Now or Never" melainkan "Must be Champion".

-Potlot 2B-

Prapatan Olympic Surabaya, 8 Juli 2018

#Mashafi

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya