Malam itu seorang teman masuk ke kamar kos saya tiba-tiba berujar "kayak orang susah aja makan mi". Saya hanya tertawa sambil terus menikmati indomi goreng yang lezat tiada tara. Ya rasa-rasanya memang hampir tiap malam saya makan mi instan dan terkhusus indomi goreng yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya selama bertahun-tahun ini.

Biasanya sebelum tidur setelah lelah mencari wifi gratis untuk mengerjakan tugas kuliah yang payah, saya pergi ke dapur kos untuk memasak hidangan yang istimewa menurut saya ini.

Memang sudah menjadi kesan umum bahwa anak kos identik dengan makan mi instan, anak kos yang makan mi instan dekat dengan kesan bahwa hidup mereka serba irit dan tak punya uang. Mi instan dianggap sebagai pelengkap penderitaan bagi kehidupan anak kos yang jarang memegang uang.

Tapi ujaran teman saya itu menganggu pikiran saya, sebagai penikmat indomi garis keras, dengan motto hidup "Indomi Goreng is My Life" sungguh itu menggores perasaan saya yang sentimentil ini. Tapi kemudian timbul pertanyaan dalam otak saya yang sudah teracuni mi instan ini, apakah benar orang susah identik dengan makan mi instan dan makan nasi adalah simbol dari kesejahteraan hidup.

Ya memang nasi merupakan makanan pokok bagi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Nasi adalah sumber kekuatan bagi orang Indonesia. Walaupun sudah makan 3 porsi kebab turki, 20 tusuk sate taichan dan satu piring kwetiau goreng, jika ditanya sudah makan atau belum pasti seratus persen orang Indonesia akan menjawab belum. Kurang nendang rasanya ini perut kalau seharian belum bertemu nasi dan seharian pasti akan lemas lesu lunglai jika belum makan nasi.

Saya mulai bertanya-tanya sejak kapan kah kita begitu tergantung pada nasi? Sejak kapan nasi mulai menjadi candu bagi kehidupan bangsa dan negara kita? Apakah hidup kita benar-benar tidak bisa terpisahkan dari nasi? Apakah nasi merupakan bagian dari konspirasi dunia untuk menguasai bangsa kita?

Pelajaran waktu SD mulai terngiang di otak saya, bahwa tidak hanya beras tau nasi saja yang bisa dijadikan makanan pokok. Ubi, jagung, sagu bisa juga dijadikan sebagai makanan pokok itulah yang saya tahu dari pelajaran waktu SD dulu. Ketergantungan negara kita terhadap beras/nasi sangatlah tinggi, bahkan Indonesia salah satu negara dengan konsumsi beras per kapita terbesar di seluruh dunia.

Konsumsi beras per kapita di Indonesia tercatat hampir 150 kilogram (beras, per orang, per tahun) pada tahun 2017. Hanya Myanmar, Vietnam dan Bangladesh yang memiliki konsumsi beras per kapita lebih tinggi dibanding Indonesia. BULOG sebagai pihak dari pemerintah yang mengurusi beras ini sering kewalahan menghadapi permasalahan beras ini, dari mengendalikan harga beras agar tetap bisa terjangkau sampai menjamin ketersediaan beras bagi kebutuhan masyarakat.

Produksi beras kita malah seringkali tidak mampu memenuhi kebutuhan beras nasional. Karena itu diperlukan alternatif lain untuk tetap memperkuat ketahan pangan nasional dan saya kira kita sangat mungkin bisa beralih dari beras ke makanan pokok lain seperti sagu dan umbi-umbian.

Bagaimanakah orang-orang kita bisa begitu tergantung pada beras? Padahal tidak semua daerah terbiasa dengan beras, mereka sudah terbiasa makan dengan ubi-ubian, sagu dan ketika politik beras itu masuk, mereka yang tidak makan nasi dianggap tidak mampu, orang susah dan kaum terbelakang.

Padahal sudah dari dulu mereka makan makanan pokok selain nasi. Lihat saja bagaimana mana tayangan-tayangan reality show di tv yang menampilkan kehidupan miskin masyarakat kita. Masyarakat yang hidup di desa itu ketika ditampilkan hanya makan gaplek (singkong) dan umbi-umbian lain dianggap tidak layak karena tidak makan nasi.

Padahal dari dulu dari leluhur nenek moyang mereka sudah terbiasa makan dengan makanan itu dan tak pernah makan nasi. Menurut saya pribadi ketika masyarakat mulai beralih dari beras atau nasi ke makanan pokok lain itu malah bagus, ada diversivikasi makanan dan mengurangi ketergantungan negara ini terhadap beras.

Maka ketika teman saya kembali datang dan dengan pongahnya mengejek saya karena saya sering makan mi instan tegas saya menjawab " ini adalah bentuk diversivikasi makanan, sumber karbohidrat tidak lah hanya nasi, mi instan juga adalah sumber karbohidrat.

Kami anak kost sering makan makan mi instan bukan karena susah atau karena tidak mampu, kami ini mengurangi ketergantungan negara ini terhadap beras, kami berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional". Berdosalah mereka itu yang telah menyebabkan kami anak kost ini sering terhina.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya