Apa itu kehidupan? Bagaimana kita harus menghadapi asap yang datang silih berganti, memaksa tangis, membuncah sesak di hati, serta segala macam rasa. Apa itu cinta? Bahwa ternyata berharap kepada manusia sama saja membiarkan hati mengenal kata kecewa. Membiarkan tangis jatuh dengan sengaja, dan berbagai prasangka buruk lainnya datang silih berganti. Bahkan daun jatuh pun tak pernah sekalipun membenci sang angin.

Bagaimanakah kita bisa belajar dari daun jika diri pun sudah terlanjur terbaret luka yang mendalam? Seperti apa sosok bahagia itu jika tawa yang terdengar sebenarnya wujud dari rasa sakit itu sendiri. Tidak ada yang tahu apa yang kan terjadi esok. Tidak ada yang tahu rencana Tuhan menurut versi imajinasi-Nya. Namun yang pasti, dari daun yang jatuh, ia tak pernah sekalipun menuntut sang angin.

Ia memberi penjelasan yang amat detail bahwa seindah apapun cerita yang dibuat seorang penulis terkenal sekalipun, kalah jauh, lebih sempurna kisah yang diterbitkan Tuhan kepada hamba-hamba tersayang-Nya. Setidaknya Ia tidak pernah memberikan harapan palsu hingga membuat otak tak bisa membedakan mana simpul nyata dan mana simpul ilusi hasil bujuk rayu hati yang tengah dibasuh cinta. Setidaknya Tuhan tidak pernah membiarkan hamba-Nya nestapa lewat akhir cerita menyedihkan, bahkan menggantung tak membiarkan senyum seutas pun menjuntai elok.

Terbukti dari daun yang jatuh, Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa hidup itu harus menerima; penerimaan yang indah, tak peduli jika tiada lagi hati karena terlanjur berkabut dalam duka. Bahwa hidup itu butuh pengertian yang benar, tidak peduli sesulit apapun jalan yang dilalui hingga membuat kita jatuh terperosok tak berdaya. Bahwa hidup harus memahami; pemahaman yang tulus. Sehingga siapapun yang hadir baik itu hanya untuk mengolok, setidaknya kita tak akan terpengaruh. Hidup akan terus berlanjut, menatap hari esok yang telah dijanjikan menjadi lebih baik. Bagai semburat rona merah saat fajar yang memberi tanda bahwa akan ada kehangatan baru, pengganti malam-malam dingin yang terlewati dengan ribuan sesak.

Percayalah, tidak ada yang sia-sia dari segala macam pembelajaran hidup. Bila tidak untuk orang lain, tetapi cukup membuat diri lebih ringan melangkah pada lembar-lembar berikutnya yang telah siap menanti. Tidak ada yang perlu disesali dari masa lalu. Tidak ada yang harus diratapi dari mereka yang telah pergi meninggalkan kita. Mungkin justru dengan pergi itulah merupakan hal baik bagi mereka.

Advertisement

Sesungguhnya Tuhan memang menyayangi kita, karena lewat alam-Nya yang terbentang luas, Ia menebarkan segala macam kebaikan yang terbungkus rapih melalui kejadian-kejadian tak terduga. Membuat kita dapat selalu belajar dan berubah menjadi pribadi yang baru. Ini baru daun yang jatuh, lewat apalagi tuhan mengirimkan cinta kasih-Nya untuk kita?