Ya benar, data dari Kemenaker menunjukkan bahwa mayoritas atau lebih dari 60% lulusan sarjana di tanah air bekerja di area yang tidak sesuai dengan jurusannya. Selama ini kita mungkin sudah menyaksikannya. Atau mungkin Anda sendiri mengalaminya. Ada sarjana teknik yang kerja di bagian keuangan bank. Ada lulusan pertanian yang kerja jadi sales. Atau ada lulusan fakultas hukum yang mengajar jadi guru.

Kenapa itu bisa terjadi? Dan apa solusinya? Fenomena lulusan sarjana yang bekerja di area yang tidak sesuai dengan jurusannya saya kira memang relatif banyak terjadi di sekitar kita. Sebenarnya kejadian mis-match semacam itu menimbulkan opportunity lost yang tidak sedikit. Ilmu yang telah dipelajari selama 4 atau 5 tahun kuliah jadi tidak terpakai secara optimal. Bayangkan misalnya : seorang sarjana teknik mesin (sebuah ilmu yang amat dibutuhkan negeri ini) mendadak malah hanya jualan kopi. Kenapa dulu saat S1 dia tidak milih kuliah saja di jurusan perkebunan kopi.

Advertisement

Atau bayangkan ada lulusan sarjana pertanian (ilmu yang amat penting bagi negeri ini juga) mendadak hanya kerja di bagian customer service bank? Tidakkah ilmu pertanian dengan segala perniknya yang dulu ia pelajari menjadi sia-sia. Idealnya seseorang bisa menekuni karir dan profesi yang sesuai dengan jurusan saat kuliah. Kebetulan kasus yang saya alami mungkin bisa jadi contoh. Saya lulusan kuliah S1 jurusan Pendidikan. Saat ini saya bekerja sebagai Admin di Poliklinik milik swasta dan juga mengajar di Sekolah Dasar di pagi harinya, meskipun gajinya lebih sedikit jika dibandingkan kerja di sore harinya menjadi tenaga administrasi.

Artinya profesi saya saat ini amat sesuai dengan jurusan kuliah yang dulu saya tekuni. Ilmu yang saya pelajari benar-benar terpakai dalam karir saya saat ini. Kenapa lebih dari 60% lulusan sarjana bekerja tidak sesuai dengan jurusannya? Ada dua faktor: faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal misalnya: ketersediaan lapangan kerja yang sesuai jurusannya masih terlalu sedikit; atau malah tidak ada sama sekali. Atau mungkin juga jumlah lulusan dari fakultas tertentu terlalu banyak dan tidak sebanding dengan jumlah lowongan yang tersedia untuk jurusan itu (akhirnya lulusannya bekerja di bidang apa saja, asal tidak nganggur).

Faktor eksternal lain: banyak juga perusahaan yang membuka lowongan tanpa melihat latar jurusan (maksudnya semua jurusan bisa melamar posisi yang disediakan meski tidak begitu sesuai dengan jurusan asal kuliah). Saya tidak ingin terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membahas faktor eksternal, sebab ini di luar kendali diri kita. Buang-buang waktu kalau kita terlalu banyak mikir faktor eksternal. Saya juga termasuk yang percaya, masa depan ditentukan oleh DIRI KITA SENDIRI, dan jangan pernah mengharapkan pihak lain atau faktor eksternal untuk mengubah nasib kita.

Advertisement

Mengharapkan faktor eksternal atau pihak lain untuk membantu mengubah nasib kita adalah bagaikan pungguk merindukan bulan. Terlalu lama menunggunya, ntar kita malah keburu pensiun atau bahkan mati duluan sebelum nasib kita bisa berubah. Karena itu saya akan lebih fokus pada faktor internal, sebab mengubah faktor ini lebih mudah karena berada dalam kendali diri kita sendiri. Ada dua faktor internal yang menurut saya sangat krusial dan amat menentukan kenapa mayoritas orang kerja di area yang tidak sesuai dengan jurusannya. Faktor yang pertama saya kira terletak pada kesalahan saat anak-anak lulusan SMA pertama kali memilih jurusan kuliah yang ia tekuni.

Mungkin banyak anak lulusan SMA yang milih jurusan kuliahnya tidak dengan pertimbangan jauh ke depan. Mungkin sekedar karena pilihan orang tua. Mungkin juga karena ikut tren. Saya kira pihak penyelenggaran SMA harus lebih aktif memberikan bimbingan pada anak-anak kelas 3 SMA untuk menentukan pilihan jurusan kuliahnya. Kini sudah era digital. Sejatinya mayoritas anak kelas 3 SMA itu sudah cukup paham dengan apa yang dia inginkan, atau apa yang menjadi passion dirinya dan kelak akan menjadi pilihan karirnya saat usia 25-an tahun.

Saya kadang punya pandangan seperti ini, kalau ada anak kelas 3 SMA yang hobi fotografi, mungkin akan lebih saya sarankan tidak kuliah S1 tapi cukup kursus 1 tahun full dalam bidang fotografi profesional (hasilnya lebih terasa daripada kuliah 4 tahun di jurusan yang nggak jelas). Atau kalau ada anak kelas 3 SMA yang hobi dunia online maka kursus internet marketing selama 1 tahun full rasanya akan jauh lebih powerfull daripada kuliah 4 tahun di jurusan yang tidak begitu ia senangi. Dia kuliah hanya karena tuntutan orang tua. Atau kalau ada gadis kelas 3 SMA yang suka dunia fashion, maka kuliah di D3 di jurusan tata busana atau kursus di sekolah mode selama 1 tahun.

Akan jauh lebih impactful daripada kuliah 4 tahun di jurusan akuntansi, komunikasi atau hukum. Lagi-lagi dia kuliah di juruan yang salah mungkin karena "pakem yang salah kaprah" , bahwa setelah SMA semua harus kuliah S1 entah apapun jurusannya yang acap tidak sesuai dengan passion anak itu. Atau mungkin sekedar ikut-ikutan pilihan temannya. Dulu sejak sekolah SMA saya memang sudah suka dengan dunia organisasi dan pendidikan (saat jaman SMA, saya rutin baca majalah kepemimpinan dan organisasi). Maka saya sadar sejak awal saya mau kuliah di jurusan Pendidikan, dan kelak kalau bisa kerja jadi tenaga pengajar.

Pikiran dan passion sejak masa SMA yang ternyata menjadi realitas. Faktor internal kedua yang mungkin juga menyebabkan kenapa mayoritas orang kerja di area yang tidak sesuai jurusannya terlalu banyak orang yang mudah menyerah untuk memperjuangkan impiannya. Ini faktor yang menurut saya paling krusial. Saya percaya pasti banyak sarjana pertanian yang dulu punya impian untuk menjadi petani berdasi punya kebun yang memproduksi beragam produk pertanian yang sehat, organik, dan laris manis.

Saya juga percaya ada banyak lulusan fakultas hukum yang punya impian bisa membangun law firm yang kredibel dan ternama. Saya juga percaya ada banyak anak jurusan teknik atau ilmu-ilmu sosial yang punya mimpi untuk bisa bekerja di area yang sesuai jurusannya, atau bahkan punya usaha sendiri dalam bidang yang dulu ia pelajari selama bertahun-tahun kuliah. But you know what? Ribuan anak muda itu terlalu cepat menyerah dalam berjuang mewujudkan impiannya.

Aspirasi dan impian anak-anak muda itu mudah takluk saat tuntutan ekonomi jangka pendek datang menyergap. Kebanyakan mereka akhirnya memilih lowongan pekerjaan apa saja yang ada, meski tak sesuai jurusan, daripada harus jadi pengangguran terdidik. Entah kenapa kebanyakan orang terlalu mudah menyerah untuk memperjuangkan impiannya. Mungkin karena mereka tidak begitu yakin dengan impiannya. Atau mungkin mereka merasa tidak punya cukup kompetensi untuk wujudkan apa yang jadi cita-citanya.

Atau mungkin karena mereka tidak punya kegigihan dan daya juang yang membara untuk membuat impiannya jadi nyata. Atau mungkin juga karena kebanyakan orang punya pendapat klise dan gampangan halah, yang penting kerja dapat gaji, nggak usah terlalu mikir sesuai jurusan kuliah atau tidak. Demikianlah, dua faktor internal krusial yang bisa menjelaskan kenapa kebanyakan sarjana di tanah air bekerja tidak sesuai dengan jurusannya.

Solusinya sudah diuraikan diatas. Pertama, anak-anak yang baru lulus SMA dan mau milih jurusan kuliah, harus mendasarkan pilihannya pada apa yang menjadi passion atau MINAT dia; dan juga sudah meng-eksplorasi apa yang kelak akan menjadi pilihan karir dia. Sedangkan kedua, jangan terlalu cepat menyerah dalam berjuang wujudkan impian. Because life is too short to sacrifice your beautiful dream. Make your dream alive. And make it happen.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya