Awalnya aku tak berniat menyerangmu, tak pernah aku rencanakan tuk melakukan agresi yang masif ke hatimu. Hal itu sebelum aku mengenanlmu, namun tat kala aku ketahui bahwa di dalam hatimu terdapat sebuah mahkota cinta yang begitu mulia. Aku pun mulai merencanakan serangan-serang perhatian kepada dirimu. Aku serang dari berbagai penjuru. Dari depan saat kau melewatiku, dari belakang saat kau mengacuhkanku. Darimanapun, entahlah hingga aku lupa sudah berapa strategi besar yang coba aku lakukan. Namun belum berhasil juga faktanya. Ah begitu kuatkah pertahanan yang kau miliki.

Kini aku menyadari sedang perang, perang melawan hatimu yang sulit kutakhlukkan. Rasanya aku sudah berjuang dengan segala usaha strategi perang cinta. Namun begitu sulit untuk menembus benteng pertahanan hatimu. Mungkinkah memang aku tak akan bisa, tak bisa tuk mendapatkan mahkota cinta yang mulia di hatimu itu. Pertahananmu begitu rapat, bombardir perhatianku tak mampu membuka sedikit gerbang senyum itu terarahkan padaku. Bukalah sedikit senyummu, biar aku bisa memasuki wilayahmu dengan lebih dalam.

Advertisement

Aku pun mencari banyak referensi menyerang. Aku bertanya pada teman-temanku yang ahli dalam menakhlukkan hati. Aku bertanya pada teman-temanku yang pandai melumpuhkan target-target jajahan cintanya. Aku bertanya pula pada teman-teman yang pandai berdiplomasi merebut kekuasaan hati orang yang dicintainya tanpa pertempuran sengit. Hingga aku tak lupa membaca berbagai buku yang mengulas bagaimana cara raja-raja hebat menakhlukkan kerajaan cinta permaisuri yang dicintainya.

Berbagai informasi aku dapatkan, ternyata territorial wilayah yang kau miliki begitu terjaga. Bahkan sungguh anggun mempesona terlihat dari orang lain yang tersenyum ketika melihatmu. Indah sekali katanya, hingga aku tak sabar untuk bisa memilikimu. Namun aku tahu itu sulit, beberapa pasukan hebat dari berbagai penjuru faktanya juga telah gagal menggempur hatimu. Tak satu pun dari mereka yang bisa memilikimu. Aku penasaran, sebenarnya apa yang bisa mengalahkanmu.

Aku serang dengan berbagai perhatian tetapi itu tak mempan. Aku gempur dengan berbagai rayuan malah kau acuhkan. Aku bombardir dengan berbagai hadiah justru kau selalu menolaknya. Aku tawarkan diplomasi untuk bisa menjagamu itu pun kau tolak berulang kali. Katamu aku hanya menggombal saja. Aduh, lalu apa yang bisa aku lakukan, Kira-kira siapa pasukan yang bisa mengalahkanmu. Kira-kira apa yang bisa membuatmu jadi permaisuri di kerajaan keluargaku. Sungguh ayahanda dan ibundaku pasti sangat bangga dan bahagia jika kau jadi menantunya.

Advertisement

Hingga suatu hari kau berikan pengumuman di depan istanahmu, dan itu membuatku malu karena selama ini telah menyerangmu dengan berbagai cara yang aneh, unik bahkan dulunya aku kira sangat elegan sebagai seorang ksatria pencari cinta.

“Aku akan menyerahkan hatiku padamu. Aku tak akan melawan, bahkan aku tak ingin berperang. Aku akan melakukan gencatan senjata. Aku akan membuka lebar pintu senyumku padamu, ketika kau datang ke wilayah rumah istanahku dengan kedua orang tuamu. Datang dengan membawa mahar dan kau siap ijab Kabul di depan kedua oran tuaku. Apa kau sanggup?”

Aku pun tertunduk malu mendengarnya, selama ini aku hanya berfikir hatimu seperti wilayah-wilayah lain yang dengan mudahnya aku kuasai dengan serangan rayuan dan perhatian. Tetapi dengan ini aku benar-benar justru semakin mengharapkanmu untuk menjadi ratuku.

“Tetapi itu tak mudah, banyak negara lain yang kini juga sedang menggempur pertahananku. Mereka datang dari berbagai penjuru, tentu mereka adalah kesatria-kesatria kuat yang punya kesempatan yang sama untuk memilikiku. Tetapi aku harap kau tidak akan menyerah begitu saja, apakah kau tidak ingin jadi pemenangnya. Menjadi Raja yang memiliki hatiku”

Baiklah, aku akan datang bersama kedua orang tuaku tanpa membawa senjata apapun. Akan aku bawakan mahar sesuai permintaanmu. Tunggulah, semoga aku tak didahului oleh kesatria lain. Aku ingin yang memiliki hatimu, hingga aku bisa mendirikan banyak menara untuk melindungimu dari serangan-serangan kesatria-kesatria yang suka menjajah. Aku pun ingin menjadi benteng dirimu yang paling kuat dan paling depan, aku akan menjadi bagian dari dirimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya