Kecerdasan dan kepandaian adalah salah satu bentuk anugerah Tuhan YME yang diberikan pada setiap manusia. Bahkan orang – orang tertentu saja yang bisa mempunyai tingkat kecerdasan sendiri asalkaan mereka “pandai” menentukan segala sesuatu demi masa depannya sendiri.

Dan seperti yang kita semua sadari, kemampuan berpikir menggunakan otak adalah suatu kelebihan yang membuat manusia paling sempurna dari segala ciptaanNya yang ada di bumi.

Advertisement

Dalam zaman serba modern dan negeri kita yang sangat menjunjung asas demokrasi sebagai kebebasan berpendapat ini, membuat banyak masyarakat kita menjadi lebih cerdas dalam menyampaikan pendapatnya asalkan masih membatasinya dengan adat ketimuran yang ramah dan santun. Sebagaimana nenek moyang kita mengajarkan pada orang terdahul kita dan berusaha mewariskannya ke generasi turun – temurunnya. Dengan harapan agar udara bersih dari budaya dan adat ketimuran Indonesia tidak tercampur polusi budaya dari luar yang “tidak terlalu” mengharamkan kemunafikan, rasis, dan provokasi.

Begitu juga dengan dunia literasi dan jurnalistik di Indonesia sekarang ini sudah sangat maju perkembangannya dari tahun ke tahun. Dulunya orang yang hanya bisa membaca berita terkini ataupun artikel bermanfaat melalui media massa seperti Koran dan majalah. Namun sekarang, ada media internet berbasis pada aplikasi maupun online news dimana hampir kebanyakan orang bisa membaca berita penting maupun artikel bermanfaat dengan lebih mudah melalui gadget maupun komputer dirumah atau lewat disewakan di warnet – warnet yang masih bertahan di era semodern ini.

Seperti yang kita ketahui, bahasa Indonesia adalah bahasa nasional warisan negeri “Mama Pertiwi” ini. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu teks sumpah pemuda bahwasanya berbahasa satu, bahasa Indonesia. Tentu inilah bahasa yang menjadi sarana dalam menjembatani komunikasi antar masyarakat yang berbeda suku, adat, maupun budaya di negeri ini sebagaimana Indonesia memang dikenal dengan masyarakatnya yang majemuk.

Advertisement

Bagi yang awam dan masih belum mengetahui di dalam bahasa Indonesia ada jenis majas bernama sarkasme. Mungkin yang pernah duduk di bangku SMP dan SMA sudah pernah diajarkan oleh guru bahasa Indonesia di sekolah masing – masing. Ada yang ingat, dan mungkin ada yang lupa mengenai majas ini.

Sarkasme dalam kamus besar bahasa Indonesia mempunyai arti (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain dengan cemoohan atau ejekan kasar. Dan jika menilik dari penjelasan Wikipedia.com pengertian lainnya dari "Sarkasme" adalah suatu majas yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu.

Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Majas ini dapat melukai perasaan seseorang. Dalam Bahasa Indonesia, arti sarkasme berbeda dari kepercayaan banyak orang bahwa sarkasme berarti penyindiran yang menggunakan kata yang terbalik dari maksudnya, seperti ironi.

Dan ada tambahan penjelasan bahwa biasanya sarkasme digunakan dalam konteks humor. Itu adalah sebuah garis bawah dimana pembatasan penggunaan kalimat bermajas sarkasme sesuai fungsi dan tempatnya. Terkadang para penulis yang ingin menyampaikan opininya terkesan dengan niat setali tiga uang untuk membuat pembaca awam terhipnotis dengan bahasa – bahasa "inteleknya".

Seharusnya sebagai penulis pun kita harus bersikap netral dengan menuliskan bahasa – bahasa yang ringan namun mempunyai isi yang berbobot. Syukurilah nikmat kepandaian dalam berdialek dan berbahasa yang bisa disalurkan melalui karya verbal atau berupa tulisan ini dengan bijak dan Insya Allah bermanfaat bagi pembacanya.

Mengingat hampir dari semua kalangan, bisa saja membaca tulisan – tulisan yang berbau provokasi tertentu namun dengan ketidak tahuan mereka dibalut dengan pemilihan kata atau diksi oleh penulis yang seolah "bermoral" dan "manis" walaupun tanpa penjelasan khusus sekalipun.

Jangan sampai para penulis yang diberikan kepandaian dalam mengolah kata – kata sebagai sarana penyampaian informasi dan pendapat malah "menjejalkan" kata – kata atau kalimat yang bebannya mungkin bisa disamakan dengan seberat “planet bumi” ini, kepada orang – orang yang masih baru belajar dan masih memerlukan berbagai informasi bermanfaat demi memperoleh wawasan yang luas. Mereka masih terlihat bagaikan bayi yang baru lahir dimana mereka baru mulai merasakan oksigen yang mereka hirup dan mengenal sesuatu yang baru mereka lihat.

Jangan manfaatkan kepolosan kaum – kaum awam ini dengan menyuguhkan suatu pengertian yang masih bisa dibilang ambigu atau tidak jelas. Jika memang diluar sana sudara – sudara kita sebangsa setanah air sebagian ada yang memiliki masalah dalam kelompok dan kepentingan masing – masing, biarkanlah mereka yang berwenang dan mengerti betul pokok permasalahannya menyelesaikan permasalahannya secara adil dan mengikuti proses hukum sesuai undang – undang yang berlaku.

Kita yang berada diluar apalagi tidak mengerti betul "pokok permasalahan" seharusnya tidak ikut memanasi – manasi dan makin memperkeruh keadaan dengan perang dingin melalui rangkaian kata. Yang dikhawatirkan nantinya akan malah meracuni pemikiran – pemikiran orang awam yang masih bersih dari polusi provokasi atau suatu perbuatan yang memicu kemarahan maupun menghasut seseorang.

Biarkanlah negeri ini dengan rakyat yang adil makmur dan aman sentosa yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika dimana berbeda – beda namun tetap satu jua seperti sebelum "dijajah" bangsa asing selama bertahun – tahun lamanya. Jaga dan selalu amalkan sila ke 4 Pancasila yang berbunyi “ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan”.

Pahami betul kalangan dewasa yang sudah mengerti dan mengenal Pancasila beserta makna butir – butir pancasilanya. Buku undang – undang dasar 1945 yang sudah diamandemen sepertinya tidak pantas jika digunakan sebagai hiasan kamar atau gudang belaka.

Apa jadinya pemikiran generasi penerus bangsa yang masih haus akan informasi malah "termakan" dengan berita maupun opini – opini yang tidak berdasarkan kebenaran melainkan demi kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Lestarikan budaya pemersatu seperti “ngopi” dan “nyangkruk” bareng dalam kehidupan bermasyarakat yang mana tidak pernah membedakan suku,warna kulit, agama, status sosial ketika duduk bersama di meja sambil menikmati secangkir kopi nikmat hasil perkebunan Indonesia yang terkenal dengan rasa dan kualitasnya sampai ke mancanegara.

Cukuplah mengerti porsi dan posisi kita sebagai orang – orang yang tidak mempunyai hak khusus maupun kewenangan dalam menyelesaikan suatu masalah pelik yang mungkin sampai sekarang masih menjadi perdebatan.

Jika memang seorang yang bijaksana, jangan memikirkan untuk kehidupan di satu zaman saja dengan mengorbankan generasi penerus bangsa yang diharapkan negeri ini untuk menyelesaikan segala sesuatu yang menjadi kemelut di tanah air secara adil dan sesuai kebenaran.

Sesuatu yang menyakitkan hati suatu kelompok, pasti mereka akan membelanya dengan sekuat tenaga sebagaimana bangsa ini sakit hati ketika dijajah orang asing yang ingin menguasai negeri tercinta ini.

Lalu apa gunanya sekolah memberi materi pelajaran berupa pendidikan kewarganegaraan jika bukan untuk mencetak generasi yang cerdas dalam perilaku kehidupan lingkungan masyarakat ?

Apa iya kita rela jika sahabat karib dan orang – orang terdekat yang tetap terjaga persahabatannya sampai sekarang dengan kita terputus tali silaturahminya hanya karena perbedaan suku, agama, warna kulit dan budaya ? Jagalah pelangi persaudaraan itu dan jangan menambahkan badai skeptis atau rasa ketidak percayaan terhadap sesama lagi.

Jika dengan kerelaan seperti itu hanya demi kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu, masih pantaskah kita disebut generasi penerus bangsa yang bertanggung jawab yang dibebankan oleh amanat para pejuang yang sudah bersusah payah merebut kemerdekaan sampai mengorbankan jiwa raga untuk meneruskan perjuangan mereka ?

Marilah duduk sejenak, atur nafas, berkumpul bersama, bertukar pendapat, dan menyampaikan saran dan kritiknya tanpa mempunyai maksud “mencederai”. Seperti yang sejak dulu kita lakukan di sebuah warung kopi yang syarat dengan suasana ramai namun bersahabat antar warganya dan bercanda tawa tanpa membahas suatu masalah yang berbau perpecahan.

Dan selesaikanlah suatu masalah secara musyawarah untuk mencapai mufakat sebagaimana Presiden RI kita yang pertama beserta para tokoh – tokoh yang ikut serta dalam persiapan kemerdekaannya selalu bermusyawarah dalam mengambil suatu keputusan yang adil yang mana sebuah warisan nilai dan moral yang berharga bagi bangsa ini.

Sekiranya semoga tulisan ini berkenan bagi pembaca dan bisa memberikan sedikit pencerahan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya