Bagaimana membuktikan bahwa cinta itu tulus, kalau di dalam mimpi terindah adalah bayangan masa depan dengan dia. Karena bila tulus itu adalah tanpa mengharapkan balasan, maka tak kan ada cinta di bumi ini. Tak kan ada pemuda-pemuda yang selalu menunggu wanitanya berbelanja di supermarket karena cinta. Tak kan ada pemuda-pemuda berlarian tengah malam membeli pulsa di warung pojok karena cinta. Tak kan ada pujangga-pujangga dadakan tanpa puisi patah hati yang pastinya karena cinta. Bahkan, hati Zainuddin yang tulus ikhlas nan bersih karena (konon katanya) telah di cuci air mata derita sejak lahir pun menangis perih melihat Hayati-nya memilih orang lain.

Waktu itu kita di sana.
Di dalam bus tua, di barisan kelima.
Duduk berdua, saling menyenderkan kepala.
Sedang membaca tulisan dan puisi cinta, sambil sesekali menaruh senyum dan tawa di muka.
Ada kala headset kita bagi berdua.
Mendengar lagu dan nada, sambil menikmati pemandangan di luar sana.

Sayang, mimpiku itu tak lama.
Seakan nuraniku pun tak sanggup lagi membayangkan kau yang tak pernah ada.

Advertisement

Bukankah kita sendiri yang berdoa. Pada doa-doa penuh kerendahan hati yang tiap malam kita panjatkan; “Kalau jodoh Ya Tuhan, dekatkan. Kalau bukan, tunjukkan”. Lalu kita pula yang menangis, saat petunjuk “kalau ia bukan orangnya” itu mulai diperlihatkan. Ya Tuhan, begitukah juga perih hati ibuku saat melihat anaknya yang sedang sakit, menangis tersedu meminta es krim waktu dulu. Tak tega untuk menuruti permintaannya, walau tahu kan semakin sakit ujungnya. Maafkan aku mama. Maafkan aku juga Tuhan. Kau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saat kau masih di sana.
Saat itu juga aku masih di sini.
Kau mungkin lama.
Tapi tak mungkin selamanya.
Kau bisa di sana dengannya.
Aku tunggu di sini sendiri.
Berteman dengan rindu… dan puisi.

Lalu, bagaimana mencintai dengan tulus itu? Kau tahu aku berbohong bila tak pernah memimpikanmu denganku bahagia di sana nanti. Kau tahu aku bohong bila puisi-puisi ini bukan untukmu. Kau tahu aku bohong bila aku membiarkan kau bebas pergi mengejar dia yang tiap hari kau simpan dalam hati. Kurang tuluskah itu untukmu?

Advertisement

Aku ingin pergi sendiri; ke tengah hutan, puncak gunung, atau ke dalam genggaman tangannya. Aku ingin ragaku sesepi aku.

Aku ingin melihat matanya di bawah lampu kota. Aku ingin meniupkan dingin ini ke punggung tangannya, kemudian memesan segelas kopi. Aku tak mau tidur malam ini. Aku ingin mimpi ku ini menjadi kenyataan, walau hanya satu malam.

Aku ingin bercerita tentang sarapanku, sampai kemudian dia bercerita tentang makan malamnya. Aku hanya pulang saat dia menjadi rumahku. Lalu aku membelai rambutnya dan menyelipkan surat cinta yang kan baru disadarinya saat dia bersiap tidur. Aku bersembunyi di puisiku itu. Dia tak akan tahu kalau aku mencintainya.

Doaku masih sama seperti dulu. Tuhan, lapangkan dadaku, hatiku. Aku selalu percaya cinta selalu datang saat kau ijinkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya