Saya rasa, banyak dari kita yang udah pernah dengar soal sekolah itu tidak menjamin masa depan seseorang akan sukses. Padahal dilain sisi, kita juga selalu diyakinkan bahwa "pendidikan itu penting". Kita dihadapkan pada dua pandangan yang saling bertolak-belakang.

Banyak, dan sayangnya mau gak mau pun kita harus percaya, kalo orang yang sudah berstatus sarjana dari berbagai universitas besar di Indonesia pun tetep aja kelimpungan cari kerja. Dan menurut saya, ini aneh. Simply said, something is wrong, right?

Advertisement

Kita terus diminta untuk duduk di bangku pendidikan memburu gelar setinggi mungkin. Tapi apa gunanya kita melewati masa SD, SMP, SMA dan kuliah itu tadi, jika 16 tahun mencari ilmu itu tidak memberi jaminan bahwa masa depan kita, well, setidaknya, berada di garis aman?

Kita juga sering ditekankan sejak SD untuk meraih nilai yang terus mendekati sempurna, namun pada akhirnya kita diberi sebuah pernyataan yang berbunyi “IPK hanya mengantar anda ke meja wawancara“, karena kemudian sejak dari situ mental dan kepribadian kita lah yang menentukan. Padahal, selama menempuh pendidikan formal, pengembangan mental dan kepribadian selalu dikesampingkan, bukan? Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan dengan kualitas (ter)baik di negara ini pun gagal melahirkan individu-individu yang dibutuhkan oleh industri. Gagal menciptakan tenaga kerja yang mempunyai kompetensi. Lalu, dimana letak “penting” dari pendidikan? Sementara, lagi-lagi fakta berbicara, banyak juga orang yang tanpa menempuh pendidikan formal terlalu jauh, atau bahkan tidak sama sekali, justru bisa meraih sukses. Dan pertanyaan diatas pun semakin punya argumen yang kuat.

Jadi tidak bisa disalahkan jika ada seseorang yang beranggapan seseorang dengan ijazah SD dengan seseorang yang sudah tamat kuliah punya kesempatan yang sama dalam meraih sukses, tergantung dari soft skill, mental, dan kepribadian masing-masing.

Advertisement

Lalu jika sudah seperti itu, dimana letak ‘penting’ dari pendidikan?

Kita dibuat untuk percaya "kalo yang gak sekolah aja bisa, kita yang berpendidikan pasti lebih bisa”, padahal faktanya tidak selalu seperti itu.

Saya sendiri berpendapat bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk manusia. Namun saya sendiri akhirnya mulai sadar ketika dihadapkan dengan pertanyaan itu tadi, bahwa sepertinya, di negara ini pendidikan masih belum bisa menjamin apa-apa.

Bukan, saya bukannya berubah pendapat dan berpikir bahwa pendidikan bisa diabaikan. Tapi disini saya menarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan negara inilah yang salah. Sekali lagi, bukan pendidikan yang salah, namun sistemnya. Pendidikan akan selalu penting, hanya saja saat ini arah dan pelaksanaanya yang belum tepat. Salah satu contoh yang paling mudah saya rasakan adalah seperti ini: misal, ada seorang anak yang duduk di kelas 4 SD, hasil nilai ulangan atau raportnya menunjukan bahwa nilai pelajaran komputernya tinggi namun nilai matematikanya tidak terlalu istimewa.

Saya yakin sebagian besar orang tua dan guru disekolahnya mempunyai pandangan bahwa anak itu perlu mendapat tambahan pelajaran untuk matematika. Sedangkan karena kemampuan komputernya sudah baik, maka tidak perlu ditambahkan apa-apa.

Saya gak tau apakah ada pembaca tulisan ini yang setuju dengan hal diatas, tapi menurut saya sendiri, yang namanya burung itu ditakdirkan untuk terbang, jadi biarkanlah dia terbang tanpa perlu mengajari dia cara berenang.

Artinya, jika memang anak itu memiliki kemampuan lebih di bidang komputer, ya justru berikan dia tambahan pelajaran di bidang itu, arahkan dia sesuai kemampuan. Tidak perlu kita paksakan dia menguasai bidang yang memang tidak ‘ditakdirkan’ untuk dia kuasai. Apalagi, sampai mendorongnya untuk menguasai semua bidang, itu jelas konyol.

"We all have abilty. The difference is how we use it."

Kalimat diatas adalah milik Stevie Wonder. Kita semua pasti punya kemampuan, yang menjadi permasalahan hanya soal bagaimana kita menggunakan kemampuan itu.

Sudah saatnya Indonesia sadar bahwa tidak ada orang yang bisa segala hal sama baiknya. Dunia tidak butuh jack of all trades, but master of none. Dunia butuh orang-orang dengan keahlian yang jelas dan spesifik.

Orang yang bisa banyak hal, tapi tidak menguasai apapun itu tidak punya tempat. Dan lebih lagi, mereka jadi tidak punya arah dan tujuan berkembang yang pasti. Ini-itu dipelajari hingga akhirnya menjadi manusia yang tidak punya area of expertise.

Steve Jobs dikenal karena dia inovator dibidang teknologi, dan dia cukup mengenal dirinya sendiri bahwa tidak ada gunanya untuk juga mencoba berinovasi di bidang kuliner.

Van Gogh pun dikenal lewat lukisan-lukisannya, bukan lewat musik atau jurnal ilmiah, karena memang dia sadar bahwa dia adalah seorang pelukis. Bahkan, dia pun lebih menspesifikan dirinya sebagai pelukis dengan aliran post-impressionism, dan akhirnya dia pun dikenal karena keahliannya di bidang yang spesifik itu.

Coba kita bayangkan, apa jadinya jika saat itu Lionel Messi memilih untuk berlatih keras bermain basket hanya karena dia merasa permainan basketnya tidak sehebat permainan sepak-bolanya? Well, bahkan dia tidak pernah berusaha untuk bisa jago jadi kiper, kan?

Sudah saatnya kita merubah tatanan salah ini, kalo lu setuju dengan pemikiran gue tentunya. Tidak perlu memikirkan perubahaan besar-besaran, cukup rubah dulu mindset kita sendiri.

Ketika ada seorang anak yang baik dan menguasai suatu bidang, kita harus sadar bahwa wajar jika dia tidak bisa menguasai bidang-bidang lain sama baiknya.

Saya ulangi: Ketika ada seorang anak yang menguasai suatu bidang, kita harus sadar bahwa wajar jika dia tidak bisa menguasai bidang-bidang lain sama baiknya.

Dengan menekan anak untuk bisa di semua bidang, justru malah mengaburkan pandangan anak itu terhadap masa depannya sendiri. Bahkan, sangat mungkin malah mengubur potensi yang ada di diri anak itu.

Jim Carrey, salah satu komedian terhebat menurut saya, dia pernah bilang,

"If you’ve got a talent, protect it."

Banyak orang tua yang tidak menyadari ini. Mereka meminta semua mata pelajaran anaknya mendapat nilai bagus demi perburuan rangking sepuluh besar. Padahal jika kita pikir-pikir, apa gunanya seluruh pelajaran dapat nilai sepuluh, toh akhirnya, kita pun hanya punya satu profesi untuk ditekuni.

Terlihat hebat memang bisa pintar di semua pelajaran. Membanggakan? Bisa jadi. Tapi jika kita lihat tujuan kedepannya, useless.

Silahkan Anda cari orang yang dikenal karena kemampuannya menguasai banyak bidang. Silahkan cari sebanyak mungkin jika ada.

Sekarang, silahkan Anda cari orang yang dikenal karena dia ahli di satu bidang. Perkirakan sendiri hasilnya.

Mungkin sebenernya di negara ini banyak potensi besar yang akhirnya hilang karena tidak punya kesempatan untuk dikembangkan secara optimal.

Mungkin saja ada pelukis baru sekelas Raden Saleh namun akhirnya gagal berkembang karena dia terlalu sibuk memperbaiki nilai matematikanya.

Mungkin bisa saja bangsa ini melahirkan Einstein baru, namun bukannya mengasah kemampuan fisikanya, dia terlalu sibuk mengejar ketertinggalannya dalam menghafal pelajaran sejarah.

Mungkin bisa saja Indonesia punya puluhan bakat seperti Irfan Bachdim, namun akhirnya terabaikan karena bakat-bakat itu terlalu sibuk belajar ekonomi. Yang awalnya bisa saja dia menjadi bintang nasional yang akan membawa sepak bola maju di kancah Asia, malah terjebak pada kehidupan pegawai kantoran biasa.

Indonesia, dengan mindset dan sistem yang seperti ini, tidak sadar berapa banyak bakat dan potensi besar yang ia sia-siakan.

Saatnya mulai dari diri kita. Rubah dulu sikap kita.

Beranilah menerima bahwa kita punya potensi dan kualitas di bidang-bidang tertentu. Terima itu, dan kembangkan. Jadikan hal-hal lain sebagai pondasi pengetahuan dalam batas secukupnya.


”Kalau orang lain bisa, kenapa gue enggak?"


itu statement salah. Karena kita bukan orang lain itu. Kita punya potensi dan minat tersendiri. Kita adalah kita.

If being yourself is good enough, why bother?

Dan, untuk kedepannya, suatu saat nanti harapannya kita semua akan menjadi sosok orang tua. Kembangkan, arahkan, dan fasilitasi anak kita sesuai apa potensi dia.


Jangan ciptakan anak yang tumbuh dimotori ambisi pribadi orang tuanya, Indonesia sudah punya terlalu banyak anak-anak seperti itu.


Lahirkan anak-anak yang berani percaya pada potensi dirinya sendiri, yang bukan mengekor pada cerita sukses orang lain, tapi berpedoman pada mimpi sukses dengan cara dia sendiri. Dengan modal kualitas dirinya sendiri. Indonesia butuh individu-individu merdeka yang tumbuh dan berkembang sesuai kepribadian mereka masing-masing.

Percayalah, tidak ada orang yang bisa besar di bidang yang berlawanan dengan passionnya.

Passion and persistence are the keys to achieving greatness.

Temukan passion dan potensi, kembangkan, dan karyakan dengan konsisten.

Misal Anda setuju dengan opini ini, silahkan jadikan materi ini referensi, dan tentu Saya harap tulisan ini bisa terus teringat hingga kita tua nanti. Jika tidak; well, you are free to stand on your own opinion.

Terakhir sebagai penutup, Saya selipkan sebuah quote dari Erica Jong;

"Everyone has talent. What’s rare is the courage to follow it to the dark places where it leads."

Sekian,

Terima kasih, terima sayang, tidak terima bully-an.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya