Hati ini rapuh serapuh kayu usang yang telah berabad usianya. Setelah dia, penghuni lama yang menetap di ruang hati ini cukup lama, memilih pergi. Meninggalkan semua lembaran kenangan indah serta goretan luka menganga. Perih rasanya, hampir tak kuasa ku menahan tiap goretan-goretan yang dia berikan dan tinggalkan begitu saja.

Ku pikir, inilah akhir dari segalanya. Ku pikir aku tak pantas lagi dicintai. Tapi, semua itu berubah setelah dirimu hadir. Pertemuan dan sapaan singkat sangat melekat diotakku. Bahkan, wangi tubuhmu pun dapat kembali ku nikmati disela nyenyaknya tidurku.

Advertisement

Semakin lama, diriku bergetar tiap berjumpa denganmu. Sampai ku tanya diriku sendiri, apakah ini cinta? Apakah ini rasa yang sama seperti dulu yang pernah menggerogoti ku sampai hampir mati?

Jujur, aku takut. Aku takut untuk kembali jatuh cinta. Aku takut untuk kembali berjuang sendiri. Aku takut untuk merasakan pahitnya ditinggal pergi. Aku takut hati ini mati.

Jika dirimu hanya pengembara yang mencari tempat istirahat sejenak, janganlah terlalu lama. Aku takut tak sanggup melepasmu. Jangan. Aku adalah wanita yang terlalu lelah untuk berjuang sendiri lagi. Aku tak sanggup.

Advertisement

Tapi, kalau memang Tuhan mengirimmu sebagai obat hati ini maka tinggallah. Dan jangan sekali-kali pergi tanpa kata. Karena ruang ini bukan sekedar untuk persinggahan belaka.

Cobalah yakinkan hati ini kalau dirimu bisa menutupi setiap goretan menganga di ruang itu dan memolesnya dengan warna-warna indah. Menggantungkan tiap kenangan indah disana.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya