Buat Penulis Yang Ingin Naskahnya Sungguhan Diterbitkan Menjadi Buku, Percayalah Tidak Ada Yang Mustahil!

Kamu bermimpi ingin jadi seorang penulis? Bercita-cita melihat dengan matamu sendiri kalau naskah yang sedari dulu ada di laptopmu dengan jumlah halaman mencapai ratusan lembar jadi buku dengan cover yang cantik? Ingin namamu dikenal sebagai seorang penulis? Ada banyak cara mewujudkannya! Percaya saja kalau tidak ada yang mustahil di dunia ini.

Advertisement

1. Jadi penulis plus-plus dengan ide yang cermelang!

Siapa sih calon penulis buku best seller? Kalau ditanya seperti itu, penerbit pasti menjawab tentang penulis dengan ide-ide yang menjanjikan, dengan gagasan yang keren, dan dengan tulisannya yang hebat. Saya pernah membaca buku dan menemukan suatu gagasan yang objektif tentang ide yang cermelang dalam sebuah buku. Intinya sih, ide yang cermelang selalu berangkat dari niat baik seorang penulis untuk membagikan sesuatu yang dianggapnya bisa memberikan sumbangan positif untuk para pembacanya. Lihat saja Andrea Hirata, dia cuma ingin pendidikan di negri kita lebih baik lewat buku-bukunya. Hasilnya? Dia menjadi penulis yang selalu ditunggu-tunggu. Oh ya, satu lagi, menulislah sesuai bidangmu. Kalau kamu seorang psikolog, kamu bisa menuliskan buku-buku tentang perkembangan anak atau buku motivasi. Kalau kamu seorang lulusan Teknik Informatika, buatlah naskah tentang programer. Karena biasanya penerbit tertarik dengan keahlianmu yang mumpuni di balik naskahmu yang hebat.

2. Jangan malas! Rajin-rajinlah mencari sumber-sumber informasi tentang penerbit.

Advertisement

Di Indonesia, puluhan penerbit siap menerima naskah dari penulis setiap harinya. Puluhan penerbit itu juga siap menerbitkan naskah-naskah para penulis menjadi buku yang siap dijual di toko buku, asalkan naskah tersebut sesuai dengan visi misi dan karaker penerbit. Penerbit buku Islam selalu tertarik dengan buku-buku Islami yang punya ide dasar yang keren. Penerbit novel remaja selalu mengeluarkan novel-novel remajanya yang dasyat dan menyenangkan. Penerbit buku komputer hobi melirik penulis-penulis buku komputer. Karakter buku-buku yang mereka terbitkan menjadi ciri khas tersendiri buat mereka. Jadi, ayo deh, mulai sekarang, calon-calon penulis harus rajin-rajin ke toko buku dan membeli buku-buku terbitan penerbit bidikan kalian untuk mempelajari karakter buku penerbit tersebut.

Calon penulis pantang menanyakan hal yang satu ini, gimana sih caranya kirim naskah ke penerbit?

Pertanyaan itu terlalu jelas menunjukkan kalau kamu belum berusaha mencari tahu sedikit pun.

3. Karakter khusus yang harus dimiliki seorang calon penulis

Kapan ya aku dapat kepastian?

Berapa bulan sih kabar keputusan naskahku akan diterima atau ditolak?

Kenapa sampai sekarang belum ada kabar?

Seorang penulis harus punya karakter khusus yang membedakannya dengan profesi-profesi lainnya. Setelah mengirim naskahnya, berapa bulan kemudian penerbit akan memberi kepastian bahwa naskahmu akan ditolak atau diterima? Bukan waktu yang sebentar! Waktu saya membaca banyak blog milik para penulis pemula, rata-rata sih keputusan penerbit datang tiga bulan setelah naskah mereka dikirimkan. Ingat ya, kamu bukan satu-satunya penulis yang sedang mengirimkan naskah. Di luar sana, banyak sainganmu—sesama calon penulis—yang juga mengirimkan naskahnya. Naskahmu harus antre untuk dibaca oleh editor, sebelum nantinya diputuskan untuk diterbitkan atau tidak. Bahkan, beberapa penulis bercerita dia harus menunggu selama sembilan bulan sebelum mendapat kabar dari penerbit kalau naskahnya memang layak untuk diterbitkan. Penulis yang lain bahkan harus menunggu selama setahun. Amazing kan?

Eh, satu lagi. Kamu tidak harus meneror editor penerbitan dengan telepon yang bertubi-tubi. Setiap penerbit punya ketentuan masing-masing tentang waktu tunggu untuk masa seleksi. Kalau disebutkan silahkan menunggu tiga bulan untuk dikabari, ya jangan menelepon sebelum tiga bulan. Setelah tiga bulan terlewati, bolehlah kalau kamu menanyakan tentang kabar naskahmu. Kalau editornya bilang naskahmu masih di tangan editor, jangan lalu menelepon setiap minggu ya. Setidaknya sebulan kemudian kamu bisa meneleponnya lagi.

4. Jangan pernah bilang “Aku lelah, Bang!”

Setelah mencoba semuanya dan ada email masuk dari editor……..

Maaf, kami belum bisa menerbitkan naskah Anda karena bla bla bla…

Sudah menulis sesuai keahlian dengan niat yang baik, menulis dengan gagasan keren, mencari informasi tentang penerbit idaman, menunggu kabar dari editor sampai kebawa mimpi, eh tahu-tahu email atau telepon yang masuk cuma berisi informasi kayak gitu? Lelah ya?

No! Seorang penulis tidak boleh lelah. Tahu tidak, kalau naskahmu ditolak oleh penerbit A, bukan berarti naskahmu jelek lho. Kamu memang perlu intropeksi diri dan membaca ulang naskahmu untuk mengoreksinya sekali lagi. Tapi, kejadian ditolak bukan menandakan kalau naskah kita memang jelek. Bisa jadi naskah kita memang tidak sesuai dengan penerbit tersebut. Mungkin, kamu mengirim naskah tentang tumbuh-tumbuhan ke penerbit buku komputer. Gak nyambung kan? Makanya, selalu pelajari dulu calon penerbit impianmu sebelum benar-benar mengirim naskah. Satu lagi, penerbit selalu tertarik dengan naskah yang punya nilai jual tinggi. Iya kan, kamu jelas tahu dong kalau penerbit itu perusahaan profit. Dan perusahaan profit selalu ingin mencari untung agar bisnisnya tetap bisa berjalan. Jadi, tulislah naskah dengan perkiraan peminat yang banyak.

5. Sampai lupa deh kalau aku punya naskah!

Saya pernah baca buku yang menyarankan kalau kita sebaiknya melupakan saja setiap kali setelah mengirim naskah. Lupakan, lupakan, lupakan. Setiap kali setelah mengirim naskah, kita hanya perlu mencari inspirasi baru, menggali ide dan gagasan baru, lalu sibuk menulis lagi. Tahu-tahu, nanti naskah keduamu sudah siap lagi dikirimkan ke penerbit. Lalu lupakan lagi dan lanjut menggarap naskah ketiga. Begitu terus sampai akhirnya berbulan-bulan kemudian kamu mendapat kabar dari editor.

6. Kata pengantar jadi image pertamamu. Oh ya, ‘dan lain-lain’-nya jangan lupa!

Ketika seorang editor membuka amplop naskah dari penulis, kata pengantar jadi lambang perkenalan pertamamu dengan editor yang akan membaca naskahmu. Saya pernah membaca status seorang editor, bisa nulis naskah ratusan lembar kok nulis kata pengantar saja tidak bisa.

Hal pertama yang akan dibaca oleh seorang editor adalah kata pengantarnya. Kalau kamu gak melampirkan kata pengantarmu, kebayang kan bakal seperti apa image pertamamu di mata editor? Kata pertama gak harus mirip proposal yang isinya puluhan lembar. Cukup satu atau dua lembar saja, yang bisa mewakili siapa kamu dan uraian singkat tentang naskahmu. Ceritakan sedikit tentang tema naskahmu, jumlah halaman, sasaran pembaca—yang ini harus spesifik ya—, rencana promosimu kalau buku ini berhasil diterbitkan, keunggulan dan kekurangan bukumu, hm, apa lagi ya? Intinya sih kata pengantar berisi hal-hal seputar itu.

Selain kata pengantar, hal wajib lainnya buat seorang penulis yang mengirimkan naskahnya adalah melampirkan identitas diri. Tuliskan nama lengkap, nama pena, usia, nomor telepon, alamat rumah, alamat email. Oh ya, kalau bisa, alamat email dan nomor telepon yang kamu cantumkan tidak akan berganti selama beberapa bulan ke depan ya. Karena ada kasus sebuah naskah yang sudah dibaca oleh editor dan berhasil melewati proses seleksi yang ketat tidak jadi diterbitkan karena editor tidak bisa menghubungi penulisnya. Entah karena nomor teleponnya sudah ganti, atau memang penulisnya lupa mencantumkannya. Duh, sayang banget kan?

Hal ‘lain-lain’ yang terakhir adalah sinopsis. Jangan lupa buat sinopsis naskahmu ya. Oh ya, kalau naskahmu adalah naskah fiksi atau sejenis novel, jangan membuat blurb. Blurb tidak sama dengan sinopsis. Blurb itu seperti yang sering kita jumpai di cover-cover novel yang terpajang di toko buku, adalah ringkasan isi novel dengan ending yang menggantung sehingga penulis merasa penasaran dengan isi cerita. Sedangkan sinopsis yang harus kita sertakan bersama naskah kita adalah sinopsis utuh, yang menceritakan semua hal dari awal sampai ending naskah kita. Editor itu bukan dukun. Dia tidak punya waktu untuk menebak-nebak akhir dari naskah kita kalau kamu membuat blurb. Karena buat editor, dia akan membaca sinopsismu dulu untuk mengetahui gaya bahasamu dan ide dasarmu.

7. Kalau semuanya gagal, masih ada jalan. Ini yang terakhir!

Kalau berkali-kali kamu menulis buku dan semuanya ditolak penerbit, padahal kamu sudah memaksimalkan semua wejangan tentang seluk-beluk penerbitan buku, jangan pernah putus asa! Banyak jalan menuju roma. Jalan terakhir yang tak kalah menarik adalah menerbitkan buku secara indie. Apa itu indie?

Kamu bisa tetap menerbitkan naskahmu menjadi buku dengan mengurus semuanya sendiri—mengedit tulisan, mendesain cover, mendapatkan nomor ISBN untuk buku, mencetaknya—semua kamu lakukan sendiri. Gak sanggup? Eh, jangan tundukan kepalamu dulu. Gampang deh. Ada jalan lain juga kok. Sekarang, banyak penerbit indie yang membuka layanan untuk membantumu mengurus itu semua. Penerbit? Yap. Tapi penerbit indie tidak sama dengan penerbit-penerbit buku lainnya yang harus melalui proses seleksi yang panjang dan ketat. Apapun idenya dan bagaimanapun kondisi naskahmu, asal tidak mengandung unsur SARA dan pornografi, penerbit indie bakal siap membantumu mengurus semuanya sampai bukumu siap dijual. Eh, tapi……. tentu saja. Menerbitkan buku secara indie tidak sama seperti penerbit buku dengan proses seleksi. Penerbit-penerbit yang menyeleksi naskahmu dengan ketat punya keyakinan kalau naskahmu pasti memiliki nilai jual. Oleh karena itu, kalau naskahmu lolos seleksi, kamu siap-siap menerima royalti dari penerbit nih. Besarnya royalti biasanya 10% dari harga jual buku, dikurangi pajak. Tenang saja, untuk menerbitkan buku melalui penerbit, kamu tidak akan dikenakan biaya sepeser pun kok.

Tidak ada proses seleksi untuk jalur penerbitan indie, tapi kamu memang harus membiayai proses penerbitan naskahmu sendiri. Selain itu, setelah naskahmu terbit, kamu masih harus sibuk memutar otak untuk melakukan promosi dengan gencar agar bukumu laris. Jangan khawatir deh. Ada juga kok penulis yang sukses memulai kariernya sebagai seorang penulis melalui jalur indie. Asal dia mau melakukan promosi dengan gencar dan membuat bukunya laku, tidak menutup kemungkinan penerbit bakal melirikmu. Kalau kamu sukses dengan jalur indie, penerbit bisa jadi punya keinginan buat bekerja sama denganmu lho, orang yang sudah mau berjuang keras mempromosikan karyanya sendiri. Jadi, masih mau tundukan kepalamu?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya