Sejak SD, kita diajarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Sejak SD pula, kita belajar PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) untuk menanamkan yang namanya tenggang rasa. Tapi, semakin ke sini, rasanya pelajaran itu hanya tinggal di buku saja, tidak menyerap ke dalam pikiran murid-murid.

Berangkat dari makhluk sosial itu, kita percaya bahwa kita memang tidak bisa hidup sendiri. Kita pasti membutuhkan orang lain. Agama dan lingkup sosial menuntut kita untuk mencari pendamping hidup guna menemani sepanjang hidup kita, menikah, dan kemudian berkembang biak untuk meneruskan keturunan.

Advertisement

Saya akan menginjak usia 22 tahun ini, belum terbersit sama sekali dalam benak saya untuk menikah muda, punya suami kaya, mengasuh anak yang lucu-lucu lalu hidup bahagia selamanya. Engga, sepertinya itu nggak cocok buat saya. Saya pernah bertanya sekali dua kali pada teman saya apa alasan mereka menikah. Jawaban mereka pun bervariasi. Ada yang menjawab, “karena kami mampu”, “mama saya menyuruh untuk menikah muda”, atau “kan sudah halal, jadi lebih enak.”

Budaya orang Indonesia yang suka basa-basi mengijinkan semua orang, bahkan yang kita baru kenal untuk menanyakan apapun. Bahkan yang berkaitan dengan masalah pribadi. “Udah punya pacar?”, “cari pacar dong, masa sendiri terus uda umur segini”, atau kalau yang sudah punya pacar akan di tanya, “jadi kapan nikahnya? Tante uda nggak sabar pengen punya keponakan.” Mungkin, alasan dibalik mengapa mereka menanyakan hal seperti ini karena mereka tidak suka dengan indah dan bebasnya kehidupan melajang. Dengan menanyakan hal ini di setiap kesempatan, yang ditanya akan gerah dan berusaha secepat mungkin mengakhiri pertanyaan-pertanyaan mujarab itu dan masuk ke dalam repotnya dunia berumah-tangga.

Bagi saya, hal ini adalah omong kosong. Apakah jomblo atau tidaknya seseorang menjadi sebuah masalah untuk masyarakat? Apakah salah untuk tidak menjadikan menikah sebagai sebuah tujuan? Mengapa perempuan yang sudah mencapai umur tertentu dicap ‘perawan tua’?

Advertisement

Di jaman yang serba canggih ini, mengakses internet bukanlah lagi suatu hal yang susah. Hampir semua orang punya sosial media. Dari sinilah semua bermula. Dengan sosial media, kita jadi lebih mudah untuk membagikan momen yang kita rasakan kepada orang lain dan inilah yang memupuk candaan tentang jomblo tersebut. Setiap teman kita yang berpasangan melampiaskan kebahagiaannya ke Path, memposting gambarnya ke Instagram dan juga memposting videonya ke Snapchat. Karena banyaknya relasi yang melakukan ini, mereka-mereka yang masih jomblo jadi merasa tertekan. Seakan-akan percintaan adalah perlombaan yang harus dimenangkan.

Tidak hanya hal itu saja, akun-akun humor murahan yang beredar di internet juga memperkuat posisi bahwa menjadi jomblo adalah hal yang hina bin nestapa. Dengan memes yang lucu didukung dengan gambar yang pas, jadilah memes tersebut dengan gampang menyebar luas di Instagram, Path, dll.

Mungkin banyak yang menyikapi bahwa ini hanyalah candaan belaka. Tapi, apakah lucu? Membuat candaan berdasarkan hal yang tidak bisa kita atur atau bahkan memang pilihan dari masing-masing orang? Karena tanpa sadar, hal yang katanya ‘hanyalah candaan’ ini menciptakan pandangan jelek akan jomblo.

Bukan, ini bukanlah semacam artikel pembelaan. Sebuah penelitian pada tahun 2006 menyatakan bahwa perempuan jomblo ternyata lebih mudah untuk beradaptasi terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dibuktikan oleh tulisan Eric Klinenberg yaitu seorang penulis buku Going Solo, The Extraordinary Rice and Surprising Appeal of Living Alone, yang menyatakan bahwasanya orang-orang yang masih hidup sendiri, mempunyai gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Dengan menjadi jomblo, kita punya banyak waktu luang dan kesempatan untuk mencoba banyak hal baru. Puas-puasin diri selagi masih muda untuk mencoba hal-hal yang mungkin tidak bisa lagi kita lakukan ketika sudah tua nanti. Tingkatkan pendidikan, karena pasangan mungkin akan meninggalkan kita, tapi pendidikan tidak. Tingkatkan kualitas diri agar pasangan kita kelak tidak kecewa di kemudian hari (jika memang sudah siap menikah). Dengan meningkatkan kualitas diri, besar harapan kita untuk menghasilkan generasi Indonesia yang lebih baik, kritis, tidak rasis, dan tidak memandang jomblo sebagai sebuah penyakit.


Jadi, untuk semua orang yang memutuskan untuk jomblo, kalian hebat dan saya sangat menghargai pilihan Anda. Dan buat yang ‘tidak sengaja’ menjadi jomblo, jangan pernah khawatir dengan apapun yang masyarakat sekitar Anda katakan. Hidup ini milik Anda, Anda yang mempunyai kontrol akan seperti apa hidup Anda. Seperti kata Mandy Hale, “Single (adjective) – Too fabulous to settle.”


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya