Menginjak usia 20-an adalah masa-masa di mana kamu mendapat banyak undangan pernikahan dari teman-teman. Tapi, ketika sekarang kartu undangan fisik bisa digantikan undangan digital, tidak jarang kamu mendapat “kain seragam bridesmaids” sebagai bagian dari undangan tersebut. Beberapa tahun belakangan ini, “bridesmaids” yang secara tradisional selalu ada di pesta pernikahan negara-negara barat menjadi tren di Indonesia. Sebenarnya apa itu bridesmaids?

Bridesmaids merupakan sekumpulan gadis yang biasanya adalah anggota keluarga dan teman-teman terdekat dari calon mempelai wanita. Tugas mereka di pesta pernikahan kurang lebih adalah untuk menjadi “asisten” dan pemberi dukungan moril yang dibutuhkan calon mempelai wanita. Untuk menandakan bahwa sekumpulan gadis ini merupakan bridesmaids, mereka menggunakan dress dengan warna yang senada, meski dengan model beragam.

Tapi, keberadaan bridesmaids di Indonesa melenceng jauh dari arti yang sebenarnya. Yang jadi sorotan utama keberadaan bridesmaids di Indonesa hanyalah seragamnya. Meskipun di pesta pernikahan negara-negara barat gaun bridesmaids jadi salah satu penarik perhatian tamu undangan, tapi bridesmaids ala Indonesia sama sekali tidak memiliki tugas atau bagian dari rangkaian resepsi. Pada akhirnya, mereka tidak lebih dari tamu biasa yang berpakaian seragam. Ini karena banyak calon mempelai wanita yang memberikan kain seragam kepada teman-teman yang dekat maupun yang tidak terlalu dekat dengannya (seorang teman saya bahkan mendapat kain seragam dari rekan kerjanya yang tidak ia sukai).

Kalau seperti itu, yang menjadi tren di Indonesia bukanlah keberadaan bridesmaids, tapi “sekumpulan teman dan kenalan dengan pakaian yang senada di pesta pernikahan”. Kebaya atau dress dengan nuansa warna yang sama ini tidak lain hanya bertujuan untuk membuat pesta pernikahan terlihat lebih meriah dan tentu membuat foto-foto pernikahan jadi lebih cantik dan menyenangkan untuk dilihat.

Sebuah pernikahan sudah pasti akan membuat semua orang yang terlibat mengeluarkan uang, baik yang mengundang ataupun yang diundang. Ini adalah hal yang lumrah. Bagi yang diundang, biaya yang akan dikeluarkan adalah biaya transportasi untuk mencapai lokasi pernikahan (bisa sampai berjuta-juta untuk pernikahan yang diadakan di luar kota karena membutuhkan tiket transportasi dan akomodasi penginapan), biaya make-up dan tata rambut (tidak wajib, tapi ini keharusan untuk beberapa orang agar membuat tampilannya lebih menggelegar) dan tentu saja uang amplop atau kado pernikahan.

Advertisement

Tapi semenjak budaya membagikan-kain-seragam ini muncul, biaya yang harus dikeluarkan tidak berhenti sampai di situ. “Dapat kain seragam” memang terdengar menyenangkan, sebelum akhirnya kamu harus dihadapkan pada banyak rangkaian tenaga, waktu, dan uang yang harus dikeluarkan. Karena, tentu saja kita tidak bisa datang ke pesta pernikahan hanya mengenakan selembar kain. Apa saja yang harus dilakukan jika kamu mendapat kain seragam untuk menghadiri pesta pernikahan temanmu (atau kenalanmu yang tidak begitu kamu kenal)?

1. Beli Kain Tambahan

Banyak calon pengantin yang hanya memberikan sebagian kain (hanya untuk atasannya saja, bawahannya saja, atau brokatnya saja) karena dana yang terbatas. Ini artinya.. kamu harus membeli kain tambahannya. Belum lagi kalau banyak di antara temanmu yang memakai hijab. Kamu juga harus membeli kain atau hijab baru dengan warna yang senada agar tetap terlihat seragam. Selain harus mengeluarkan uang, kamu juga harus menyisihkan waktu untuk mencari dan membeli kain tambahan yang dibutuhkan (yang tentunya harus sesuai dengan selera teman-temanmu yang lain).

2. Mencari Penjahit dan Mengeluarkan Ongkos Jahit

Selanjutnya, kamu harus menjahit kain tersebut. Ini cukup mudah kalau kamu sudah punya penjahit langganan. Dan lebih mudah lagi kalau kamu bisa menjahit. Tapi, kecuali kamu pernah mengikuti kursus menjahit Yani, kamu harus mencari penjahit yang bagus dengan ongkos yang tidak terlalu mahal. Ini kombinasi yang cukup langka. Menyewa jasa penjahit bisa sangat melelahkan. Ada kemungknan penjahitmu tidak memberikan hasil yang memuaskan. Ketika kebaya atau dress-nya sudah selesai, biasanya ada bagian-bagian yang masih harus dikecilkan, dirapikan, dan lain-lain. Kadang butuh beberapa kali bolak-balik sampai kamu puas dengan hasil akhirnya. Lagi-lagi, ada banyak waktu, uang, dan kesabaran yang harus dikeluarkan pada tahap Ini.

3. Beli Aksesoris (Sepatu, Clutch, dll.)

Ini bisa dilakukan, bisa juga tidak. Tapi kadang membeli aksesoris diperlukan jika kamu tidak memiliki aksesoris dengan warna yang senada dengan kain yang kamu dapatkan. Pengeluaran yang seharusnya bisa dihindari kalau kamu bisa menggunakan pakaian apapun yang kamu miliki.

Benar, setelah semua perjuangan ini kamu akan memiliki baju baru. Tapi bisa dikatakan itu adalah baju sekali pakai yang nantinya hanya akan menghuni lemari pakaianmu selama beberapa tahun. Entah kapan mau dipakai lagi karena akan cukup aneh untuk memakainya ke pesta pernikahan lain, terutama pesta pernikahan dalam satu lingkaran teman yang sama. Jadi, apakah perlu mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk pakaian sekali pakai? Dan ini bisa terjadi beberapa kali dalam setahun karena kamu akan terus-menerus mendapat kain seragam bridesmaids selama teman-temanmu yang akan menikah masih terus melakukan budaya ini.

Di dunia yang sempurna, calon pengantin akan menutupi semua pengeluaran tersebut. Tapi kenyataannya mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk keperluan-keperluan lain. Jika begitu, sewa kebaya atau dress bisa jadi alternatif yang cukup terjangkau yang bisa mereka tawarkan. Penyeragaman juga bisa dibatas hanya untuk teman-teman yang benar-benar dekat saja. Kamu tentu tidak keberatan mengeluarkan uang jika untuk kebahagiaan teman terdekat, meskipun sebelumnya tetap perlu ada pembicaraan mengenai penyesuaian budget yang kamu miliki. Karena pesta pernikahan seharusnya jadi sesuatu yang membahagiakan untuk semua orang, bukan beban untuk mereka yang diundang.